Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Kasus Penipuan Sandoz Dibawa ke Bareskrim, Pengacara Korban Tantang Mantan Gubernur Bali Mangku Pastika

Metro Bali
single-image

 

Denpasar, (Metrobali.com)-

Kasus penipuan dan penggelapan proyek penataan Pelabuhan Benoa yang merugikan korban Sutrisno Lukito senilai Rp 16 miliar memasuki babak baru. Pihak korban menyatakan akan meminta pertanggungjawaban hukum terhadap pihak lain yang diduga terlibat kasus ini. Meskipun seorang pelaku yakni mantan Ketua Kadin Bali, AA Alit Wiraputra, sudah mendekam di Lapas Kerobokan.

Sutrisno menegaskan ada dua nama lagi yang seharusnya sudah menyusul Alit Wiraputra ke dalam psenjara. Keduanya adalah Putu Pasek Sandoz Prawirotama, putra mantan Gubernur Bali Made Mangku Pastika dan Candra Wijaya. Oleh karena itu, pihak Sutrisno melalui pengacaranya, Haris Azhar dan Agus Sujoko bakal membawa perkara ini ke Bareskrim Mabes Polri. “Kami dalam waktu dekat ini melaporkan Sandoz yang juga anak mantan Gubernur Bali ke Mabes Polri. Laporan kami buat secepatnya,” tegas Haris Azhar dalam jumpa persnya di Denpasar, Rabu (15/1).

Haris menyatakan tidak gentar meski yang dihadapi adalah putra mantan Gubernur Bali. Dia juga tidak mau ambil pusing dengan posisi Mangku Pastika yang saat ini menjabat DPD RI.

Haris malah mengeluarkan tantangan terbuka terhadap Pastika, apakah bisa menggunakan jabatannya untuk melindungi anaknya. “Saya mau nantangin Pak Made Mangku Pastika menggunakan jabatannya untuk membela anaknya. Saya ingin tahu, dia jadi pejabat untuk membela anaknya atau membela kepentingan publik,” ungkap Direktur Lokataru itu.

Dikatakan Haris, makin digunakan jabatannya, maka akan semakin menunjukkan jika Pastika terlibat dalam perkara ini.”Termasuk kalau dia mau mengkriminalkan saya, saya malah senang. Kalau saya diperiksa polisi, akan saya buktikan bagaimana dia menipu atau bagaimana dia nanti melindungi anaknya,” sambung pria yang juga aktivis HAM itu.
Menurut pandangan Haris, kasus ini menarik dibawa ke Mabes Polri karena terkait rencana pembangunan di bidang pariwisata Bali. Seperti diketahui, pembangunan pariwisata Bali merupakan bagian rencana pembangunan nasional. Ia pun berterus terang membawa kasus ini ke Mabes Polri karena kasus ini hanya berhenti pada Alit. “Kami mencium dan melihat ada semacam kesengajaan kasus ini tidak dilanjutkan ke mantan anak Gubernur Bali dan jejaring lain,” sindir pria yang kerap debat di televisi ini.

Baca Juga :
Wabup Suiasa Hadiri HUT STT Eka Suwitra Br  Kangin Sempidi dan HUT ST. Dwi Tunggal Br. Puseh Sading.

Setelah sidang selesai imbuh Haris seharusnya langsung dikembangkan kepada Sandoz dan lainnya. Bahkan, mantan gubernur Pastika juga harus diperiksa apakah pernah menyalahgunakan jabatannya seperti memberi akses pada anaknya. Karena itu, Mabes Polri perlu turun mengusut dan menyelidiki kasus ini

Dalam kepentingan nasional, Bali sebagai konteks pariwisata hal ini perlu dituntaskan. Jangan sampai kasus ini berhenti pada Alit yang dijadikan simbol bahwa ada penegakan hukum. Di lain sisi kejahatan itu masih terjadi dan kerugian tidak dikembalikan.

Terkait ‘amunisi’ laporan ke mabes, Haris mengaku tidaklah sulit. Itu dikarenakan syarat foemil telah lengkap lengkap. Bukti materiil, saksi, dan bukti transfer uang ada semua. “Sekarang tinggal polisi mau kerja atau tidak. Jangan sampai kasus ini simbolis, selama ada yang sudah dihukum maka sudah selesai. Kami ingin keadilan yang substansial,” tandasnya.

Padahal, lanjut Haris, berdasar kesaksian dan fakta di persidangan, kasus ini seharusnya tidak bisa berhenti pada Alit. “Dalam kasus ini karena ada orang yang dikorbankan. Orang-orang tersebut menipu Sutrisno (korban) dengan mengatasnamakan jabatan publik,” tukasnya.

Selain ada penipuan, dalam kasu ini juga ada penggelapan dan aliran dana yang digunakan untuk membeli aset yang didapat dari hasil penipuan. Hal itu bisa masuk ke ranah tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Haris kembali menegaskan, setelah mempelajari kasus ini, pihaknya yakin lebih baik dibawa ke mabes dari pada mangkrak di Polda Bali. ” Kami melihat kasus ini terencana dengan baik dengan melibatkan sejumlah orang. Dari orang tersebut kami curiga, berdasar bukti yang ada dilindungi sejumlah jabatan. Melihat jenis kasus-kasus berat dan kasus maka yang turun adalah tim Mabes Polri,” tukasnya.

Baca Juga :
Tanah Lot Tetap Jadi Primadona Wisatawan

Senada dengan Haris, Agus Sujoko mengatakan bahwa perkara ini masih menyisakan perkara lain yaitu anak mantan Gubernur Bali yaitu Sandoz dan Candra Wijaya mantan Direktur utama perusahaan saksi korban.

“Sampai saat ini tidak ada iktikad baik dari Sandoz dan Candra Wijaya untuk mengembalikan uang korban. Karena itu, kami bawa ke Mabes Polri,” imbuh Agus Sujoko. (NT-MB)

Bagikan :
1 Comment
  1. Avatar
    I ketut ardana 1 week ago
    Reply

    Lanjutkan saja demi tegaknya hukum di negara hukum……

Leave a Comment

Your email address will not be published.