Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Jangan Salah Kaprah, Tidak Ada Hari Umanis Kuningan

Metro Bali
single-image
Jro Mangku Suardana, Pemangku Pura Tirtha Segara Dangkahyangan Rambutsiwi
Jro Mangku Suardana, Pemangku Pura Tirtha Segara Dangkahyangan Rambutsiwi yang juga menjabat sebagai Sabha Walaka PDHI Kabupaten Jembrana, Minggu (4/8) di sela-sela kesibukannya memimpin persembahyangan umat mengatakan sesungguhnya tidak ada rahinan atau hari Umanis Kuningan.
“Seperti kita ketahui, dalam Wariga Bali yang juga digunakan sebagai dasar penyusunan Kalender Bali disebutkan bahwa hari raya Kuningan adalah hari suci yang dirayakan oleh umat Hindu di Bali. Perayaan ini jatuh setiap hari Saniscara (Sabtu) Kliwon atau Tumpek wuku Kuningan. Dalam rumus penghitungan padewasan atau hari baik menurut Kalender Bali, dimana Tumpek merupakan pertemuan antara sapta wara terakhir yakni Saniscara (Sabtu) dengan panca wara terakhir yaitu Kliwon, sehingga tidak ada Umanis Tumpek karena esok harinya sudah terjadi pergantian padewasan yang merupakan awal pertemuan Wewaran dengan Pawukon baru yakni Redite (Minggu) pancawara Umanis wuku Langkir, maka saya tegaskan tidak ada Umanis Kuningan”, jelas Jro Mangku Suar.
Pria yang masih aktif sebagai anggota TNI ini juga menambahkan, hari raya Kuningan ini merupakan rangkaian yang dapat dikatakan sebagai sebuah resepsi dari hari raya Galungan, sebagai kemenangan antara Dharma (Kebaikan) melawan Adharma (Keburukan). Akan tetapi karena tujuan Hindu adalah Santih (Kedamaian) maka Melawan disini harus dimaknakan dalam arti luas, diantaranya dengan dasar ketenangan rohani karena musuh utama kita sesungguhnya adalah diri sendiri. Ada enam musuh besar dalam diri manusia yang disebut Sadripu.
“Ragadi musuh mepareng rihati ya tongwanya tan madoh riawak”, demikianlah seperti yang tersurat pada kekawin Ramayana, Bab I (Wirama Sronca), Bait 4 yang artinya “Keinginan (Kama) dan semua jenis musuh yang terdekat yang ada di dalam hati (Pikiran) tempatnya tidak jauh dari badan sendiri. Ini tidak ada bedanya dengan mencari jejak ikan di dalam air, kita dituntut agar air tidak menjadi keruh maka ketenangan dan kesabaran itulah satu diantara upaya mendapatkan Santih atau Damai hingga keutuhan antar umat beragama dimanapun dan NKRI selalu dapat terjaga dengan baik”, tegas Jro Mangku Suar. (Komang Tole)
Bagikan :
Baca Juga :
Menko Komitmen Turunkan "Dwelling Time"
1 Comment
  1. Avatar
    nengah andi 2 weeks ago
    Reply

    Suksme atas infonya.

Leave a Comment

Your email address will not be published.