Ide Bandara di Darat Dicaplok Konsorsium, Pembari Masih Diam

Metro Bali
single-image

Ilustrasi : Master Plan Bandara Udara PT Pembari

Denpasar, (Metrobali.com)-

Pihak konsorsium yang merancang pembangunan bandara Bali Utara  terdiri atas PT Angkasa Pura 1, Perusda Bali dan PT PP (persero) TBK tanpa malu-malu melalui salah satu pembicaranya mengklaim pihak konsersium ini sebagai pemrakarsa pembangunan bandara Bali Utara di Kubutambahan Buleleng. Hal itu dilontarkan mereka saat melakukan pertemuan dengan jajaran pejabat di lingkungan Pemkab Buleleng 27 Agustus 2019 lalu.
Benarkah pihak konsorsium sebagai pemrakarsa rencana pembangunan bandara di Kubutambahan itu. Metrobali.com yang sebelum melakukan investigasi terhadap persoalan itu menyimpulkan ternyata semua itu bohong.
Sejumlah tokoh yg dihubungi menyebutkan selama ini hanya ada dua pemrakarsa pembangunan bandara di Kubutambahan. PT BIBU PANJI SAKTI yang merancang pembangunan bandara Bali Utara di Desa Kubutambahan dengan lokasi di laut dan PT Pembangunan Bali Mandiri merancang bandara di darat. Dan ini sudah terjadi sejak tahun 2009.
‘” Makanya masyarakat Kubutambahan kaget begitu ada konsersium yang ngukur-ngukur tanah yang katanya akan dijadikan bandara,'” jelas Suwindra salah satu tokoh pemuda di Desa Bukti yang bersebelahan dengan desa Kubutambahan itu.
Hal senada juga dilontarkan pengempon Pura Penegil Dharma Kubutambahan, Jro Mangku Arcana. Menurut Arcana pemrakarsa pembangunan bandara dengan lokasi di darat adalah PT Pembari dan saya pernah ikut sosialisasi di Lovina. Tapi entah mengapa bulan Agustus lalu konsorsium yang mengaku aku pemrakarsa bandara di darat. Cilakanya mereka langsung audiensi ke bupati Buleleng dan beberapa hari kemudian mereka melakukan pengukuran tanah warga. Inilah yang menimbulkan kecurigaan warga pasti ada yang tidak beres di sini. Arcana lantas mempertanyakan PT Pembari selaku pemrakarsa bandara di darat dimana.
‘”Sampai saat ini saya belum mendengar bagaimana reaksi Pembari terhadap ulah konsorsium yang mencaplok idenya,” kata Arcana. Menurut Arcana langkah yang dilakukan pihak konsersium tidak etis. Pihak PT Pembari yang pertama memohon tanah due pura desa adat Kubutambahan yang bermasalah ijo. Dan Bendesa adat Kubutambahan Jro Pasek Warkandiya sendiri sudah menyerahkan lahan itu ke Pembari ketika stafsus Presiden Jokowi Linus Kagoya datang ke bukit Teletabis. Lebih runyam lagi tanah yang sama juga diserahkan Bendesa Adat Kubutambahan ke pemerintah untuk konsorsium. Jadi satu rama H diserahkan ke dua perusahaan. Ini kan membingungkan kata Arcana.
Pembari Pemrakarsa Bandara di Darat, Bukan Konsorsium 
BIG bos PT Pembari Ketut Suardana Linggih yang dihubungi terpisah membenarkan pihaknya yg pertama kali menggagas pembangunan  bandara di Bali utara ini dengan posisi di darat. Ini sudah dilakukan sejak tahun 2009 lalu.
Dipilihnya bandara di darat berdasar kajian yang mendalam. Pembari melakukan survei di beberapa lokasi seperti Jembrana, Klungkung, Gerokgak, Kubutambahan darat, Kubutambahan sebagian reklamasi wilayah Kubu Karangasem dan Celukanbawang. Setelah dikaji diputuskan di darat. Jadi hasil ini pun atas keputusan Kemenhub. Dari sini pihak Pembari terus melakukan pengkajian dan mengurus kelengkapan administrasinya. Pihak pembari juga melibatkan tenaga ahli dari AMERIKA SERIKAT.
Terkait dengan penyerobotan ide oleh pihak konsersium sampai saat ini pihak Pembari enggan memberikan komentar.
Beberapa sumber yg dihubungi metrobali.com terkait dengan pengerobotan ide tersebut menilai langkah konsersium itu sangat tidak etis. Apalagi disebut sebut pihak konsersium sama sekali tidak berkoordinasi dengan pihak Pembari. Di bagian lain pimpinan konsersium pihak PT Angkasa Pura 1 saat dihubungi belum bisa memberikan jawabnnya.
Pewarta : KS Wendra
Bagikan :
Baca Juga :
Kiper Persela Choirul Huda meninggal usai lawan Semen Padang

Leave a Comment

Your email address will not be published.