Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Hindari Kerugian Produksi dengan Menghitung Biaya Overhead Pabrik

Metro Bali
single-image

foto: Jurnal Entrepreneur

KALAU Anda sudah pernah memproduksi barang atau jasa untuk dijual, apakah Anda pernah memperhitungkan biaya untuk merawat alat produksi? Bila belum, sudah waktunya Anda mulai menghitungnya secara serius untuk mencegah kerugian lebih jauh. Biaya produksi yang tidak termasuk dalam ongkos bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung seperti pertanyaan awal, disebut dengan biaya overhead pabrik. Apa saja yang termasuk dalam biaya overhead pabrik? Jawabannya adalah setiap pekerjaan yang berada di luar departemen produksi, tetapi berada dalam naungan satu perusahaan. Kita sebut saja biaya overhead pabrik dengan singkatan yaitu BOP.
Secara umum, BOP merupakan anggaran yang harus dikeluarkan untuk menunjang aktivitas produksi di luar kegiatan produksi inti. Contohkan saja penggunaan bahan tambahan, biaya tenaga kerja tidak langsung, perawatan dan maintenance alat produksi, asuransi, pajak, juga fasilitas-fasilitas tambahan lainnya. Bila Anda luput memperhitungkan BOP, maka konsekuensi terburuk adalah meruginya perusahaan akibat ongkos operasional yang tidak terpantau. Pengetahuan tentang BOP semenjak dini akan membantu Anda untuk menjual produk dengan strategi, taktik, dan tentunya harga yang lebih bijak. Umumnya ada tiga golongan BOP yang dikenal. Mengenal ketiganya akan membantu Anda untuk menentukan besaran anggan BOP yang sesuai dengan usaha Anda.
Jenis-jenis penggolongan BOP
Secara umum ada tiga jenis penggolongan BOP, sebagai berikut ini.
1. BOP berdasarkan sifat, yang juga terbagi menjadi:
a. Biaya bahan penolong, yaitu bahan yang tidak menjadi bagian dari hasil produksi. Termasuk bahan yang bila ditakar secara nilai, lebih kecil daripada harga total produk.
b. Biaya tenaga kerja tidak langsung. Termasuk dalam tipe sifat ini adalah tenaga kerja perusahaan yang sistem pengupahannya tidak bisa dibebankan secara langsung pada nilai jual produk.
c. Biaya pemeliharaan, dikenal juga sebagai anggaran suku cadang. Termasuk di dalamnya adalah biaya bahan habis pakai dan harga jasa yang harus diadakan perusahaan untuk kebutuhan perbaikan alat, kendaraan, dan mesin produksi.
2. BOP berdasarkan perilaku, yang terhubung dengan perubahan volume produksi. Kategori ini juga terbagi dalam tiga bagian, yaitu:
a. BOP tetap, biaya yang nilainya tetap meski terjadi peningkatan atau penurunan volume produksi.
b. BOP variabel, kebalikan dari BOP tetap. BOP variabel nilainya berubah sebanding dan sesuai dengan volume produksi.
c. BOP semi-variabel, sama seperti BOP variabel yang berkebalikan dengan BOP tetap. Hanya saja BOP semi-variabel perubahannya tidak sebanding dan sesuai dengan volume produksi.
3. BOP yang terhubung dengan departemen atau divisi kerja dalam perusahaan. Golongan BOP ini terbagi ke dalam dua kelompok.
a. BOP langsung departemen. Biaya dalam kelompok ini hanya ada pada departemen tertentu dan manfaatnya hanya bisa dirasakan langsung oleh departemen tersebut.
b. BOP tidak langsung departemen. Biaya dalam kelompok ini, manfaatnya dapat dirasakan lebih dari satu departemen meskipun departemen tersebut tidak berhubungan langsung.

Baca Juga :
Tabrak karang, KM Jabal Nur tenggelam di perairan Manggarai Barat

Contoh BOP yang ditemui dalam aktivitas produksi secara langsung
Agar bisa mengetahui secara langsung contoh-contoh BOP berdasarkan penggolongan yang dijelaskan pada poin satu, mari kita simak contoh-contoh BOP aktual berikut ini.
1. Ongkos pengeluaran pabrik seperti sewa lahan, tarif, asuransi, air, listrik, atau biaya energi lainnya yang dibutuhkan dalam aktivitas produksi.
2. Maintenance alat produksi secara berkala, misalnya: pembersihan, servis, perbaikan, penggantian suku cadang, peremajaan, dan lain sebagainya.
3. Penyusutan nilai guna bangunan pabrik, mesin, kendaraan, dan lain sebagainya.
4. Upah dan gaji (selain tenaga kerja langsung) orang-orang yang bekerja di pabrik. Contohnya seperti mandor, pengawas, staf pemeliharaan, administrasi, tenaga penguji, dan lain sebagainya.
5. Ruang-ruang penyimpanan barang konsumsi, sekaligus semua bentuk material yang tidak langsung digunakan pada produk. Termasuk di dalamnya adalah barang-barang yang sulit dipantau keberadaan serta kondisinya. Misalnya saja oli, pelumas, alat-alat kecil, bahan pembersih, suku cadang kecil untuk perbaikan alat, dan lain sebagainya.
Penghitungan BOP
BOP baru dapat dihitung ketika Anda telah mengetahui seluruh aktivitas kerja yang ada di perusahaan. Ada langkah-langkah yang berbeda dalam menghitung BOP tergantung pada aktivitas kerja perusahaan tersebut. Meskipun begitu, ada langkah-langkah umum yang bisa kita terapkan sebagai berikut.
1. Menyusun budget BOP yang didasarkan pada volume kegiatan yang akan dieksekusi di masa akan datang sesuai rancangan program kerja.
2. Perkiraan dan penghitungan landasan dibebankannya BOP. Landasan pembebanan tersebut bisa dilaksanakan dengan menitikberatkan pada beberapa hal. Misalnya saja satuan produk, biaya bahan baku, upah tenaga kerja langsung, jam tenaga kerja langsung, jam mesin beroperasi, dan lain sebagainya.
Pada penghitungan BOP, ada beberapa parameter yang seharusnya dipertimbangkan dulu. Parameter-parameter tersebut adalah:
1. Jenis BOP yang dominan jumlahnya dalam departemen produksi.
2. Memberikan perhatian berbeda berdasarkan sifat-sifat BOP yang dominan dan keterhubungannya dengan dasar pembebanan yang akan dipakai.
3. Penghitungan yang langsung dikalkulasikan dari rumus tarif BOP berupa: (biaya overhead pabrik yang dianggarkan = biaya overhead pabrik dengan Taksiran dasar pembebanan).
Biasanya Anda juga dapat melihat BOP seperti yang tercantum dalam buku besar akuntansi. Poin-poin yang bisa dilihat di buku besar untuk membantu Anda menghitung BOP adalah sebagai berikut.
1. Alokasi biaya untuk produksi.
2. Alokasi pengeluaran untuk departemen yang terkait aktivitas pelayanan pada klien.
3. Alokasi pengeluaran untuk unit-unit produksi dan divisi-divisi yang melayani klien, di mana beban penghitungan pengeluarannya sulit dimasukkan ke dalam biaya jual produk.
4. Peruntukan kembali biaya yang terkait dengan departemen layanan untuk memasukkannya dalam biaya produksi.
5. Penyerapan biaya masing-masing departemen atas pekerjaan, proses produk selesai selama periode di departemen yang bersangkutan.

Baca Juga :
Jangan Sembarangan Gelar Ritual Adat Dayak

Masalah yang muncul akibat BOP
1. BOP tidak bisa dialokasikan dengan mudah ke unit biaya. Oleh karena itu, BOP adalah sebuah masalah pasti yang perlu dihadapi.
2. Kita tidak bisa dengan mudah menganggap biaya BOP termasuk dalam pos keuntungan atau kerugian.
3. Tidak mungkin untuk mengetahui secara spesifik apakah BOP tertentu dapat membantu mencapai nilai lebih baik dari nilai pengeluarannya. Itu karena manfaat yang dicapai tidak dapat diukur dengan mudah.
4. Tidak mungkin untuk mengurangi atau menghilangkan biaya yang telah dikeluarkan. Begitu biaya keluar, maka selesai penghitungan. Langkah ini tidak mudah dilacak.
5. BOP memiliki kecenderungan terus meningkat seiring perkembangan bisnis dan membuatnya jadi semakin kompleks.
Itulah kerugian yang bisa Anda hindari dengan pengelolaan BOP yang baik. Untuk mengelola BOP, Anda bisa memanfaatkan software akuntansi yang dilengkapi dengan fitur pengelolaan stok barang dalam proses produksi. Salah satu software akuntansi yang dilengkapi dengan fitur ini adalah Jurnal. Coba Jurnal sekarang dan dapatkan free trial 14 hari!

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.