Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Harga Hasil Perkebunan Bali Naik

Metro Bali
single-image

perkebunan

Denpasar (Metrobali.com)-

Harga-harga hasil perkebunan rakyat di tingkat petani di Bali hingga kini masih cukup bagus, karena sejumlah komoditas, antara lain cengkeh, kopi dan kakao mengalami kenaikan yang signifikan.

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Bali I Dewa Made Buana Duwuran di Denpasar, Rabu (10/12) mengatakan, kenaikan itu sejalan dengan melonjaknya harga-harga keperluan masyarakat maupun barang keluaran pabrik, akibat dampak dari upaya pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, yang berpengaruh terhadap biaya transportasi.

Harga bunga cengkeh kering di tingkat petani di Kabupaten Bangli, Karangasem, Badung dan Jembrana misalnya tercatat Rp136.000 per kilogram sedangkan gagang kering mencapai Rp25.000 per kilogram hingga 9 Desember 2014.

Kondisi itu mengalami sedikit kenaikan, jika dibandingkan awal Januari lalu hanya Rp135.000/kg, maka harga sekarang masih lebih tinggi, kata Dewa Made Buana Duwuran sambil menyebutkan petani memproduksi hasil perkebunan berkualitas sehingga harga pun terus sesuai mekanisme pasar.

Sementara harga cengkeh yang dalam kondisi basah tetap stabil yakni Rp20.000/kilogram hingga minggu awal Desember 2014, sedangkan harga kakao di tingkat petani naik sedikit dari Rp 35.800 menjadi Rp37.000 per kilogram di daerah perdesaan di Bali.

Ia mengatakan, harga kopi jenis arabika hasil perkebunan rakyat di daerah ini juga mengalami sedikit kenaikan pada minggu pertama Desember 2014 dari seharga Rp52.000 per kilogram menjadi Rp53.000 per kilogram, jauh lebih besar dari awal Januari yang hanya Rp34.000/kg.

Harga kopi arabika maupun robusta di daerah ini selama tahun 2014 memang masih mengalami kenaikan, termasuk hasil budi daya lainnya seperti kakao, vanili, mete dan tembakau yang semuanya sudah memasuki pasar ekspor.

Dewa Made Buana Duwuran menyebutkan, kakao hasil perkebunan rakyat Bali yang mulai memasuki pasar ekspor juga mengalami kenaikan dari Rp32.800 pada Januari lalu menjadi Rp37.000/kg dalam minggu pertama Desember 2014.

Baca Juga :
Rambut Keriting, Kulit Hitam Adalah Indonesia

Vanili hasil petikan petani Bali yang sebagian besar dikapalkan untuk memenuhi permintaan konsumen di Amerika Serikat tersebut harga di tingkat petani naik keras dalam sepanjang pertengahan tahun ini yakni dari Rp20.000/kg menjadi Rp40.000 per kg (basah) hingga 9 Desember 2014.

Dewa Made Buana mengaku, Kakao produksi petani daerah ini dalam jumlah terbatas–belasan ton per bulan, baru mulai memasuki pasar ekspor dengan tujuan utama konsumen Amerika Serikat, Australia dan Jerman.

Dinas Perindag Bali mencatat perolehan devisa dari hasil perkebunan Bali mencapai 1,7 juta dolar AS selama Januari-Agustus 2014, mengalami kenaikan hingga 96 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun 2013 yang hanya 907 ribu dolar.

Perolehan devisa sebanyak itu terdiri atas hasil perdagangan kakao 1.059 ton bernilai 978 ribu dolar selama delapan bulan I-2014, menyusul kopi 117 ton seharga 795,6 ribu dolar dan vanili relatif sedikit yakni hanya 69 kg bernilai 2.415 dolar. AN-MBĀ 

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.