Hanya Dijadikan Kegiatan Seremonial, Ngurah Ambara: Sastra Bali Klasik Harus Dijadikan Bagian Upaya Peningkatan Daya Saing Generasi Muda

Metro Bali
single-image

Foto: Pendiri Dirgahayu Ambara Swari Gede Ngurah Ambara Putra berfoto bersama  pemenang lomba Parade Budaya Sekar Alit dan Sekar Agung via aplikasi Zello.

Denpasar (Metrobali.com)-

Keberadaan sastra Bali klasik memiliki banyak petuah. Namun sayangnya, sampai saat ini tidak ada yang mensosialisasikannya dengan baik kepada generasi muda.

Hingga saat ini, Sastra Bali klastik hanya dijadikan sebagai kegiatan seremonial pada Utsawa Dharma Gita, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.

Calon Walikota Denpasar nomor urut 2, Gede Ngurah Ambara Putra menilai, seharusnya petuah-petuah dalam sastra Bali klasik diajarkan kepada anak-anak.

“Karena ini memotivasi. Care lagu ‘De ngaden awak bisa. Depang anake ngadanin. Geginane buka nyampat. Anak sai tumbuh luu. Ilang luu buka katah.’ Artinya problem masalah itu ada, harus terus kita belajar (dan) belajar,” kata Ngurah Ambara.

Hal ini disampaikan Ngurah Ambara saat diwawancarai usai dirinya selaku pendiri organisasi budaya Dirgahayu Ambara Swari menyerahkan hadiah kepada pemenang lomba Parade Budaya  Sekar Alit dan Sekar Agung via aplikasi Zello, Minggu (11/10/2020) di Kantor Dirgahayu Ambara Swari, Denpasar. Ini rangkaian kegiatan Utsawa Dharma Gita Kota Denpasar melalui Aplikasi Zello dalam Rangka HUT Dirgahayu Ambara Swari ke-9.

Calon Walikota Denpasar yang berpasangan dengan Calon Wakil Walikota Denpasar Made Bagus Kerta Negara (Paket Amerta), paslon nomor urut 2 ini menuturkan, sastra Bali klasik harusnya dijadikan sebagai pegangan untuk meningkatkan daya saing generasi muda.

“Bagaimana  kita ingin meningkatkan daya saing kalau jiwa kita tidak ke sana. Itulah makanya semangat ini kita tidak ingin di mulut, bukan hanya estetika, tapi itu masuk ke etikanya sendiri, masuk ke diri jiwanya sendiri,” jelasnya.

Baca Juga :
Polisi periksa Ilham Bintang terkait laporan pembobolan rekening

Dirinya menilai, keberadaan sastra Bali klasik ini menjadi modal yang cukup besar dalam membangun Kota Denpasar. Dengan petuah-petuah dalam sastra bali klasik ini, para pemuda tidak hanya sekadar menjaga kebudayaannya, tetapi juga sekaligus bisa menjaga kekerabatan.

Dalam kekerabatan itu, mereka bisa saling tolong menolong untuk maju dan saling berkompetisi untuk meningkatkan daya saing.

Sebagai contoh, Ambara Putra sendiri selaku pengusaha bisa lebih meningkatkan perusahaan dan memperhatikan pegawainya. Hal itu disebabkan karena dirinya mempunyai modal yang cukup, terutama dalam petuah sastra Bali klasik. Peningkatan perusahaan dilakukan agar para oegawai semakin sejahtera.

Ambara mengakui bahwa upaya peningkatan perusahaan ini harus dilakukan dengan belajar. “Karena buku-buku itu kan sama seperti kata Tuhan. Jadi bagaimana saya harus lebih banyak menolong. Dasarnya harus pelajari ini, buku-buku Bali klasik ini,” tutur pria yang juga pecinta dan pegiat olahraga salah satunya karate.

Berbagai buku-buku sastra Bali klasik yang dipelajari Ngurah Ambara di antaranya seperti Sarasamuscaya, Arjuna Wiwaha, Bhagawad Gita dan beberapa buku lainnya. Dengan membaca buku-buku ini, seseorang akan memiliki jiwa membangun yang lebih besar.

“Kalau saya bilang ini jiwanya ini, bukan pada tingkat estetika,” kata pengelola Dojo Aikido Dirgahayu.

Ambara sendiri mengakui dirinya tidak mengenal seni tari dan seni lukis, tetapi dengan memahami sastra Bali klasik ia bisa mengenal budaya Tattwam Asi guna mengenali dirinya di lingkungan banjar dan di masyarakat.

“Itu pondasinya. Dalam bermasyarakat memang ada yang baik dan jelek, tetapi kita tahu tujuan kita bukan dunia saja, tetapi juga akhirat juga,” pungkasnya. (dan)

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.