Gunarsa Garap Buku Klasikologi Seni Lukis Klasik Bali

Metro Bali
single-image

kirim -Diskusi - wayan geriya- wirawan- nyoman gunarsa sedang menjelaskan proses penyusunan buku klasikologi seni lukis klasik bali dalam diskusi terbatas di NGM Museum Klungkung

 Klungkung (Metrobali.com)-

Perupa maestro Bali, I Nyoman Gunarsa seakan tak pernah merasa letih dalam menggeliatkan denyut nadi kehidupan kesenirupaan di Bali. Kini, bersama dengan tim peneliti dari ilmuwan dan budaya Bali, perupa yang terkenal dengan sentuhan tangan ajaibnya ini sedang berjuang untuk menggarap sebuah buku berupa Klasikologi Seni Lukis Klasik Bali. Buku ini rencananya diterbitkan sebanyak 300 buku dalam dwi bahasa, yakni Indonesia dan Inggris dengan jumlah halaman sekitar 200 halaman dan berisikan 10 Bab.

Hal ini terungkap dalam diskusi terbatas yang melibatkan sejumlah pakar budaya di Bali, Kamis (8/5) kemarin di NGM Museum, Klungkung. Dalam kesempatan itu, I Wayan Geriya sebagai Ketua Tim Peneliti menegaskan bahwa penerbitan buku Klasikologi Seni Lukis Klasik Bali ini diharapkan dapat memberikan perspektif tersendiri bagi pergerakan kesenirupaan Bali secara lebih komprehensif di tengah masyarakat secara menasional maupun mendunia. “Sehingga denyut nadi kesejarahaan kesenirupaan Bali dapat lebih metaksu dan kokoh dalam basis ilmiah yang populer,” tegasnya.

Dijelaskannya, para tim peneliti yang dilibatkan dalam proses penyusunan buku ini di antaranya  Bagus Wirawan, Nengah Medera, Made Subrata, IB Rai Putra, Komang Ria Sutriawan, Made Adi Widyatmika, Made Wija, Made Setiawan. Selain itu, juga didukung sejumlah narasumber, seniman, akademisi, birokrasi, pemerhati seni, dan pelukis. Dengan begitu, buku ini menjadi realitas monumental demi pelestarian, penerusan, dan pemuliaan seni lukis klasik Bali sebagai unsur genius budaya Bali dan puncak budaya Indonesia. “Sebagai representasi, revitalisasi dan regenerasi seni lukis klasik Bali di seantero daerah Bali, dan Indonesia,” harapnya.

Lebih jauh, Nyoman Gunarsa mengakui keterbukaan budaya dan pasar yang konservatif dan hedonis kekinian cenderung berdampak negatif dan derita publik seperti marjinalisasi, anomali sosial, sampai alienasi kultural termasuk terhadap seni lukis klasik Bali. Untuk itulah, katanya, melalui penerbitan buku ini nantinya mampu menjadi acuan memediasi, mengangkat dan menghidupkan kembali spirit heritage seni lukis klasik Bali, sebagai warisan budaya genius berkarakter dengan segenap senimannya, sanggarnya, dan desanya dalam mengajukan atau mengusulkan seni lukis klasik Bali sebagai warisan budaya nasional maupun warisan budaya dunia. “Buku ini ditargetkan selesai dan siap edar di publik sekitar awal tahun depan, 2015. Sebagai momentum peringatan hari jadi ke-21 tahun NGM Museum, tepatnya 16 Januari 2015,” tegasnya. WB-MB

Baca Juga :
Bank Dunia perkirakan 70 juta-120 juta orang jadi miskin akibat Corona

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.