Gede Pasek Suardika : Penetapan Jerinx Sebagai Tersangka, Kemunduran Pembangunan Demokrasi

Metro Bali
single-image

 

Buleleng, (Metrobali.com)-

Gede Pasek Suardika (GPS) mantan anggota DPR RI angkat bicara terkait penetapan status tersangka terhadap Drumer SID yakni Jerinx alias JRX. Penetapan tersangka ini, diduga melanggar UU ITE dengan melontarkan ujaran kebencian terhadap organisasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) melalui media sosial. Dimana di media sosial, Jerinx menyebutkan IDI sebagai kacung WHO.

“Penetapan tersangka ini, sebagai bentuk kemunduran pembangunan demokrasi. Mengingat mengeluarkan pendapat merupakan proses perjuangan. Sehingga dalam hal ini terkesan mau kembali ke pola orde baru, dimana asal beda pendapat dicari alasannya untuk mengkriminalisasikannya.” ujar GPS kepada awak media, Kamis (13/8/2020) di Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, Buleleng.

Lebih lanjut GPS mengatakan dalam kasus yang membelit Jerinx, dirinya hanya memposisikan diri memberikan dukungan moral kepada kuasa hukumnya Wayan Gendo Suardana. Dan iapun mengungkapkan bahwa dalam pantauannya mengenai petisi online pembebasan terhadap Jerinx, sudah ditandatangani sekitar puluhan ribu masyarakat. Artinya sudah banyak orang melihat manfaatnya keberadaan Jerinx berada di luar daripada ditahan.

“Jadi lebih baik tidak ditahan, bila perlu dibebaskan,” harap GPS.

Penahanan terhadap Jerinx sudah menimbulkan banyak polemik di masyarakat. Menurutnya jangan sampai mendegradasikan penegakan hukum karena masyarakat ketika membedakan dengan kasus lain, dimana ada kasus sudah tersangka 2017 sampai sekarang juga tidak disentuh. Begitu juga dengan kasus-kasus lainnya.

Iapun mrngapresiasi gerakan kemanusian yang dilakukan Jerinx sangat bagus. Mulai dari lagu lagunya menggugah kesadaran nasionalisme. “Hanya saja Jerinx menyampaikan dengan bahasa yang terkesan kasar dan itu memang gaya bahasa seorang seniman.” ujarnya.

“Saya sendiri sempat dikritik, namun bisa dimaklumi. Karena begitulah seniman, apalagi bila dilihat dari wajahnya kan gak cocok atau di mana-mana isi tattoo tapi hatinya kan belum tentu. Jadi kesimpulannya, nggak usahlah ditahan. Bila perlu dibebaskan,” pungkas GPS. GS

Bagikan :
Baca Juga :
Bertemu ABK WNI, Menlu Retno peroleh informasi dugaan pelanggaran HAM

Leave a Comment

Your email address will not be published.