Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Dirjen Bimas Hindu Kemenag Dorong Sekolah Calon Ayah dan Ibu GTS Institute Bali Jadi Progam Nasional

Metro Bali
single-image

Foto: Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI Prof. Drs. Ketut Widnya, MA, M.Phil, Ph.D., bersama Direktur Eksekutif GTS Institute Bali Dr. A.A.A. Ngurah Tini Rusmini Gorda, S.H.,M.M.,M.H.

Denpasar (Metrobali.com)-

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Dirjen Bimas) Hindu Kementerian Agama (Kemenag) RI Prof. Drs. Ketut Widnya, MA, M.Phil, Ph.D., mengungkapkan ada kemungkinan besar progam-progam GTS (Good-Trustworthy-Smart) Institute Bali  diakomodir menjadi progam nasional.

Misalnya program diklat (pendidikan dan pelatihan) atau sekolah bagi calon ayah dan ibu dalam menyiapkan generasi emas Indonesia 2045 dari GTS Institute Bali ini yang dianggap sejalan dengan progam Kementerian Agama dalam hal penguatan fungsi-fungsi keluarga.

Hal ini terungkap dalam pertemuan Direktur Eksekutif GTS Institute Bali Dr. A.A.A. Ngurah Tini Rusmini Gorda, S.H.,M.M.,M.H., dengan Dirjen Bimas Hindu Kemenag Prof Widnya di Kantor Perdiknas Denpasar Kamis siang. Momentum diakomodirnya progam GTS Institute Bali ini pun bertepatan dengan Hari (Rahinan) Sugihan Jawa.

Prof Widnya mengungkapkan Kementerian Agama punya progam memperkuat fungsi keluarga dalam rangka mempersiapkan keluarga dalam menghadapi radikalisme. Sebab keluarga merupakan tempat anak-anak mendapatkan pendidikan dan bergaul yang pertama kali.

“Kita tidak tahu anak dimana bergaul. Tahu-tahu terpapar radikalisme. Inilah makanya penguatan keluarga penting agar fungsi ayah dan ibu benar-benar membina anak-anaknya sehingga tidak terpapar radikalisme,” paparnya.

Sementara itu progam GTS Institute Bali ini dianggap lebih awal mempersiapkan calon ayah dan ibu untuk mencetak generasi emas 2045. “Kalau kami di Kementerian Agama yang dikuatkan kan keluarganya. Kalau di GTS Institute ini disiapkan calon ayah dan ibu. Ini kan lebih dalam lagi, lebih di depan mempersiapkan generasi emas,” pujinya.

“Ini yang penting calon ayah dan ibu disiapkan pendidikannya sehingga bisa melahirkan anak-anak yang suputra, yang moderat, moderasi bergama dan punya anak-anak yang tidak terpapar oleh radikalisme,” imbuhnya.

Baca Juga :
Perayaan Natal Gereja Tresna Asih, Wabup Kasta Harapkan Perdamaian Dengan Tulus Iklas

Progam Universal Siap Dijalankan untuk Semua Umat

Program diklat atau sekolah calon ayah dan Ibu dari GTS Institute Bali ini pun dianggap program yang universal. Sebab tidak hanya untuk umat yang beragama Hindu, namun bisa untuk semua umat beragama. ” Saya baca proposalnya, program ini tidak hanya untuk umat Hindu saja tapi sangat universal,” kata Prof Widnya.

“Jadi kami bisa bawa program ini ke Dirjen Islam, Dirjen Kristen, Dirjen Katolik dan Dirijen keumatan lainnya. Semoga para Dirjen ini mau bekerjasama dengan GTS Institute menjalankan program ini karena programnya bagus sekali,” imbuh Prof Widnya.

Maka ada kemungkinan program GTS Institute Bali ini diakomodir menjadi program nasional Kementerian Agama untuk diterapkan pada program masing-masing Ditjen keumatan.

“Sangat mungkin ini menjadi program nasional dari Kementerian Agama. Sebab tidak hanya mendidik calon ayah dan ibu dari umat yang beragama Hindu tapi ini universal semua umat beragama bisa,” ungkapnya.

“Sebab edukasinya juga melibatkan lebih banyak dari aspek psikologi. Tapi tentu dari unsur agamnya ada dan ini nanti bisa dikombinasikan,” sambung Prof Widnya.

Ia pun menyebutkan akan memfasilitasi Direktur Eksekutif GTS Institute Bali dipertemukan langsung dengan Menteri Agama RI untuk lebih jauh memaparkan programnya. “Kami ada sinyal mempertemukan Ibu Tini Gorda dengan Bapak Menteri Agama. Kemungkinan setelah September ini,” tandas Prof Widnya.

Dukung Visi Penguatan SDM Presiden Jokowi

Sementara itu Direktur Eksekutif GTS Institute Bali Dr. A.A.A. Ngurah Tini Rusmini Gorda, S.H.,M.M.,M.H., mengaku sangat bersyukur progam GTS Institute Bali akhirnya bisa diakomodir oleh Dirjen Bimas Hindu Kemenag.

Yang cukup membanggakan lagi, GTS Institute Bali akan difasilitasi bertemu langsung dengan Menteri Agama RI. Harapannya agar seluruh Dirjen keumatan yang ada di Kemenag menjalankan program ini.

Baca Juga :
Martabak berbentuk hati untuk hari Valentine

“Kami apresiasi janji Dirjen Bimas Hindu akan mempertemukan kami dengan Bapak Menteri Agama karena pogram-program GTS Instite Bali selaras dengan Program VISI INDONESIA 2019-2024 dari Bapak Presiden Jokowi khususnya penguatan SDM,” kata Tini Gorda yang juga Ketua Umum BKOW (Badan Kerjasama Organisasi Wanita) Provinsi Bali dan

Pihaknya pun mengaku sangat bersyukur jika progam diklat atau sekolah calon ayah dan ibu ini menjadi bagian dari program nasional Kementerian Agama untuk bisa diadopsi dan dijalankan lintas agama dan di seluruh wilayah Indonesia.

“Kami berharap progam ini tersosialisasi secara nasional. Bisa jadi Kementerian Agama punya semacam sekolah-sekolah yang formal tentang pembentukan karakter calon ayah dan ibu. Kami dorong seperti itu,” imbuh Tini Gorda yang juga Ketua DPD IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia) Provinsi Bali ini.

Langsung Gelar Diklat “Mendidik Anak Suputra Dalam Kandungan Ibu”

Nantinya progam GTS Institute Bali ini akan didukung pendanaannya dari Kementerian Agama mulai APBN Perubahan Tahun 2019 dan secara berkelanjutan untuk tahun-tahun ke depan.

Tidak butuh waktu lama bagi GTS Institute untuk mengeksekusi program unggulannya setelah diakomodir Dirjen Bimas Hindu Kemenag. Pada 5-6 September 2019 ini sudah diagendakan akan digelar “Progam Pengembangan Karakter Emas Calon Ayah dan Ibu” lewat diklat bertajuk “Mendidik Anak Suputra Dalam Kandungan Ibu.”

Kegiatan ini akan bersinergi dengan program Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama, Yayasan Sakha, GTS Institute Bali dan Perdiknas Denpasar. Acara yang akan berlangsung di Aula Perdiknas Denpasar akan melibatkan ratusan peserta dari kalangan pelajar SMA/SMK dan mahasiswa se-Bali serta masyarakat umum.

“Materinya diambil dari GTS Institute Bali tentang bagaimana mendidik anak suputra sejak dalam kandungan ibu. Ada delapan materi yang akan kami sosialisasikan,” ungkap mantan Ketua Perdiknas ini.

Baca Juga :
Kredit Tumbuh Akibat Stimulus Pemerintah

Progam ini pun akan berkelanjutan dipercayakan kepada GTS Institute Bali sebagai garga terdepan ikut mempersiapkan generasi emas Indonesia 2045.  Misalnya pada 2020 akan dilanjutkan dengan progam karantina satu minggu bagi peserta diklat.  Kemudian rutin digelar sesuai jadwal yang ada di GTS Institute Bali.

Sementara itu dalam pertemuan dengan Dirjen Bimas Hindu di Kantor Perdiknas ini Tini Gorda juga menggandeng salah satu mitra GTS Institute Bali yakni Yayasan Amara Bhawana Sastra (ABSA), Bangli.

Dalam kesempatan ini diserahkan pula  satu bundel syarat pendaftaran kepada Dirjen Bimas Hindu terkait keberadaan Yayasan ABSA untuk bisa mendaptkan program program langsung dari Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama.

Hadir langsung Ketua Yayasan Amara Bhawana Sastra (ABSA) I Wayan Juni Artayasa didampingi Sekretaris Yayasan Ketut Teja Artha dan Bendehara Yayasan Ni Made Sri Puspayani. (wid)

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.