Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Di Jembrana Asuransi Petani Minim Peminat

Metro Bali
single-image

Ilustrasi-Seorang petani cengkeh sedang memanenĀ 

Jembrana (Metrobali.com)-

Minat petani di Kabupaten Jembrana untuk ikut program asuransi pertanian atau Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) masih sangat minim. Hingga bulan September tahun 2019 baru satu subak yang ikut asuransi ini yakni Subak Pecelengan, Desa Mendoyo Dangin Tukad, Kecamatan Mendoyo.

Hal ini diakui Kadis Pertanian dan Pangan Jembrana, Wayan Sutama. Padahal pihaknya gencar nelakukan sosialisasi program penerintah tersebut (AUTP). “Setiap pertemuan sudah.kami sosialisaikan. Teman-teman penyuluh di lapangan juga sudah. Tapi memang respon dari petani masih minim” jelas Sutama, Kamis (12/9).

Menurutnya target AUTP tahun 2019 sebanyak 200 hektar. Namun hingga September ini baru 135 hektar lahan padi yang terdaftar mengikuti AUTP yakni Subak Pecelengan Pedukuhan, Desa Mendoyo Dangin Tukad, Kecamatan Mendoyo dengan jumlah petani 264 orang.

“Baru Subak Pecelengan saja yang ikut (AUTP), yang lainnya belum. Untuk ikut AUTP petani hanya membayar Rp.36 ribu permusim dari nanam sampai panen (sekitar 4 bulan)” ungkapnya.

Program AUTP kata Sutama, sangat membantu petani. Karena perhektarnya akan mendapat ganti rugi senilai Rp.6 juta jika mengalami gagal panen.

“Klasifikasinya dengan hasil panen 25 persen saja sudah termasuk gagal panen. Dengan uang pengganti itu (Rp. 6 juta) petani sudah bisa kembali membeli bibit, pupuk dan untuk pengolahan lahan” terangnya.

Untuk bisa ikut AUTP dan pembayaran premi lanjutnya, bisa dilakukan pribadi atau melalui subak. Demikian juga saat mrlakukan klaim asuransi seperti terkena hama, banjir dan kekeringan yang mengakibatkan petani gagal panen.

“Untuk mengatasi kekeringan kami menyiapkan 15 buah mesin pompa air. Semuanya memang sudah dipinjam subak, tidak bayar” ujar Sutama.

Berbagai faktor diduga menjadi penyebab sehingga AUTP tidak berjalan dengan maksimal. Diantaranya faktor komunikasi yang kurang nyambung antar pengurus dan anggota subak, lahan padi dikelola olah orang lain (disakapkan) dan gonta ganti penyakap (pengelola lahan) dan kurang pahamnya petani terkait AUTP.

Baca Juga :
Hadiri Pelantikan Naik Pick Up , Anggota Dewan PDIP Terpilih Siap Ngayah

Data dari Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana jumlah lahan pertanian mencapai 6.724 hektar dari 7.297 hektar. Dari 6.724 hektar itu yang mengalami kekeringan di tahun 2019 sebanyal 131 hektar yang terbagi dalam katagori ringan 22 hektar, sedang 13 hektar, berat 17 hektar dan 79 hektar karena fuso. (Komang Tole)

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.