Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Devillas Band Dapat Tawaran Manggung di Kapal Pesiar dan Tiga Negara, Sambil Promosikan Pariwisata Nusa Penida

Metro Bali
single-image

Foto: Putu Suciawan bersama Devillas Band.

Denpasar (Metrobali.com)-

Seorang mantan narapidana yang kini “bertransformasi” menjadi seorang pengusaha pariwisata dan musisi Putu Suciawan memang bertangan dingin urusan karya seni musik.

Baru beberapa bulan menginisiasi lahirnya Band Devillas yang beranggotakan musisi muda dan anak-anak band yang terdampak pandemi Covid-19, Putu Suciawan dan Devillas mendapatkan jalan terang dan sejumlah tawaran untuk tampil manggung membawakan lagu karya-karyannya hingga ke kapal pesiar mewah dan sejumlah negara di luar negeri.

“Sejauh ini kami dapat tawaran tampil di kapal pesiar dan tiga negara untuk membawakan lagu-lagu original kami baik yang berbahasa Inggris maupun bahasa Indonesia,” kata Putu Suciawan, Senin (22/6/2020) saat bercerita tentang agenda Devillas ke depan.

Pria yang juga sebagai manajer di salah satu villa dan restoran di Nusa Penida ini menuturkan Devillas dapat kontrak tampil di salah satu kapal pesiar yang berlayar dari Singapura menuju Australia melewati Indonesia. Kapal pesiar ini rencananya bersandar di Pelabuhan Benoa untuk juga mengisi logistik menuju ke Australia.

Devillas diperkirakan akan tampil di atas kapal pesiar ini pada 2 Juli 2020. “Kami kebetulan diundang oleh pemilik kapal pesiarnya. Kebetulan juga ada investor di kapal pesiar ini yang mau berinvestasi di Nusa Penida. Jadi kami sambil juga promosikan pariwisata Bali khususnya Nusa Penida,” ujar Putu Suciawan.

Devillas juga diundang ke Australia untuk bisa bermain musik di “negeri kangguru” selama sebulan penuh. “Ada teman yang ngundang kami untuk main di Australia selama sebulan, diperkirakan sekitar bulan Desember 2020 ini atau Februari 2021,” ungkap Putu Suciawan yang berperan sebagai vokalis di Devillas Band.

Di Belanda, Devillas juga sudah disiapkan tempat untuk menggelar semacam konser. Selain itu tawaran datang pula dari seorang produser musik dari Amerika Serikat tepatnya dari Hollywood.

Baca Juga :
Sun Life Bright Advisor Memudahkan Perencanaan Masa Pensiun

“Kebetulan kami juga dapat tawaran dari prosedur luar, dia akan membiayai kami berangkat ke negaranya di Amerika Serikat. Dia tinggal di Hollywood dan sudah donasikan dana ke kami sekitar Rp 10 juta hanya sekadar untuk kami menyambung hidup disini saat pandemi,” tutur Putu Suciawan.

Ingin Jadi Band Profesional, Go Internasional

Devillas tentu sangat antusias menyikapi berbagai tawaran ini dan akan mempersiapkan penampilan terbaik untuk karya-karya mereka. Melihat peluang yang ada, Devillas bahkan bercita-cita agar bisa berkarya di luar negeri menjadi band profesional atau bahkan bisa go internasional.

“Arahnya Devillas memang ingin jadi band profesional dan bisa juga berkarya di luar negeri,” kata Suciawan.

Sejak baru terbentuk kurang dari empat bulan saat awal pandemi Covid-19, Devillas lebih banyak menggelar konser secara virtual atau online dengan mengunggah video musik mereka di akun YouTube De Villas (Putu Studio).

Bersama band Devillas, Putu Suciawan menggelar konser amal (social concert) lewat beberapa video yang diunggah di akun YouTube Putu Studio. Ada belasan video yang diunggah dengan mendapatkan views (ditonton) hingga ratusan ribu kali.

Lalu video ini mendapatkan pemasukan dari iklan dan hasilnya digunakan Suciawan kegiatan sosial membantu  masyarakat di Nusa Penida masa pandemi Covid-19. Salah satunya juga dibelikan bibit tanaman cabai dan sembako untuk disumbangkan kepada petani di Nusa Penida.

Tercipta di Lapas, Rilis Ulang Video Klip “Aku Harus Pulang”

Bersama Devilla Putu Suciawan merilis ulang karya lagu dan video klip berjudul “Aku Harus Pulang.” Karya ini menceritakan penyesalannya saat masih menyandang status sebagai seorang narapidana yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dipenjara di dalam Lembaga Pemasyarakatan atau Lapas Singaraja.

Baca Juga :
Fariz RM kembali diciduk polisi karena narkoba

Lirik lagu yang sangat menyentuh ini mengilustrasikan penyesalan dan kerinduan seorang narapidana untuk kembali kepada keluarga, pulang ke rumahnya dan kembali berbaur di tengah-tengah masyarakat.

Lagu ini merupakan kisah nyata dari mantan vokalis, seorang mantan penjahat yang kini telah berhasil mengubah hidupnya menjadi arah yang sangat positif.

“Saya ingin berbagi kisah dan pesan lewat lagu ini bahwa seorang narapidana dan mantan narapidana bisa berubah menjadi lebih baik, melakukan hal positif bahkan bisa menginspirasi,” kata Putu Suciawan.

Sebelumnya juga telah dibuat video klip “Aku Harus Pulang” ini saat Putu Suciawan masih berada di dalam Lapas. Namun karena di dalam Lapas ada keterbatasan alat, sekarang aransemen dan video klipnya dibuat ulang bersama band Devillas yang baru saja dibentuk Putu Suciawan dengan merangkul anak-anak band dan pecinta musik yang terdampak pandemi Covid-19.

Video klip baru ini dibuat hanya dalam  waktu dua hari bersama band Devillas pada pertengahan Juni 2020 dan jadilah konsep video klip seperti sekarang yang bisa disaksikan di Channel YouTube Putu Studio.

Lagu ini tercipta sekitar bulan September 2018 saat Putu Setiawan berada di Lapas Singaraja, setelah sebelumnya dipindahkan dari Rutan Gianyar ke Lapas Singaraja ini.

Saat itu Kalapas Singaraja dalam suatu kesempatan memanggil Putu Suciawan karena diketahui dirinya bisa bermain musik dan bernyanyi.

Kemudian oleh Kalapas, Putu Suciawan diberikan fasilitas untuk membuat semacam studio di dalam lapas. Singkat cerita, terciptalah lagu “Aku Harus Pulang” ini dari dalam lapas.

“Saya menciptakan lagu ini saat saya mendidik anak-anak (penghuni) di dalam lapas untuk bermain musik,” kenang Putu Suciawan.

Lagu “Aku Harus Pulang” karya Putu Suciawan ini di Lapas Singaraja kini dijadikan semacam lagu wajib dan jingle ketika ada berbagai acara di Lapas ini.

Baca Juga :
Komunitas Montogen VW Gelar Jambore “Ketog Semprong 3” di Pantai Padang Galak

“Waktu saya masih di lapas, saya dan teman-teman juga sering disuruh konser di luar kalau ada acara,” kenang pria asal Desa Sepang, Buleleng. (wid)

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.