Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Demer: Investor Seperti Macan, Bandara Bali Utara Ibarat Daging Empuk

Metro Bali
single-image

Foto: Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Gde Sumarjaya Linggih (Demer).

Denpasar (Metrobali.com)-

Kepastian rencana pembangunan Bandara Bali Utara tidak hanya ditunggu masyarakat Bali namun pihak investor pun sangat menunggu adanya kejelasan kebijakan dan regulasi dari pemerintah.

Karenanya Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Gde Sumarjaya Linggih mendorong agar pemerintah serius melanjutkan rencana pembangunan bandara bandara baru ini. Yakni Menteri Perhubungan agar segera menerbitkan penlok (penetapan lokasi) Bandara Bali Utara ini.

“Masyarakat Bali menunggu, investor juga siap investasi. Jadi kepastian penlok harus segera,” kata Gde Sumarjaya Linggih, Jumat (22/5/2020).

Anggota Fraksi Golkar DPR RI Dapil Bali yang akrab disapa Demer ini pun optimis dan banyak investor yang akan berkompetisi dan rebutan ingin berinvestasi membangun Bandara Bali Utara ini. Sebab bagi investor, dari sisi bisnis tentu sangat menguntungkan.

“Investor itu seperti macan. Dimana ada uang disana dicari dan Bandara Bali Utara ini adalah daging empuk,” ungkap Demer.

Setelah adanya kepastian penlok Bandara Bali Utara, maka diyakini investasi di Bali akan bergeliat. Banyak investor yang mau berivestasi membangun Bandara Bali Utara ini. Namun mereka masih menunggu kepastian regulasi dan kebijakan pemerintah.

“Bandara ini kan dibangun bukan dari dana pemerintah tapi dari swasta. Banyak swasta yang mau investasi dan pasti menarik bagi investor karena ada pasarnya,” ungkap Demer.

Politisi senior Golkar asal Desa Tajun, Buleleng ini mengungkapkan, dengan terbangunnya Bandara Bali Utara banyak hal yang menjadi sasaran pemerintah dan banyak persoalan yang bisa diatasi

Bandara baru ini dianggap akan mampu menyelesaikan persoalan padatnya Bandara Ngurah Rai Denpasar. Walupun ada pelebaran dan perpanjangan runway diBbandara Ngurah Rai untuk menampung semakin banyaknya pesawat yang datang, kondisi tersebut hanya akan bertahan sampai tahun 2025, sehingga memang diperlukan bandara baru di Bali Utara.

Baca Juga :
Upacara Tingkat Utama, Di-“puput” Tujuh Sulinggih

Bandara baru ini juga akan mampu menjawab persoalan ketimpangan pembangunan dan kesenjangan ekonomi di Bali. Selama ini, kata Demer, pemerintah gagal menciptakan pemerataan pembangunan dan pemerataan ekonomi di Bali.

Pertumbuhan ekonomi tinggi di Bali Selatan tapi sangat rendah di Bali Utara, Bali Barat, dan Bali Timur. Ketimpangan pembangun juga menyebabkan urbanisasi ke Bali Selatan seperti Denpasar dan Badung.

“Kondisi itu juga menyebabkan orang-orang di Bali Selatan termarjinalkan. Penduduk Denpasar termarjinalisasi,” ujar Demer.

Terlebih dalam kondisi adanya pembatasan jumlah penumpang pesawat hingga 50 persen dalam satu pesawat karena penerapan social distancing dan physical distancing dalam masa pandemi Covid-19 dan menuju New Normal Life, ada kondisi banyak penumpang pesawat yang tidak tertampung.

Jika kondisi ini berlangsung lama, maka adanya bandara baru di Bali Utara juga menjadi semakin dibutuhkan. “Kapasitas pesawat mengangkut penumpang menurun karena aturan physical distancing. Banyak penumpang tidak terangkut, jadi harus ada airport baru,” tandas Demer. (dan)

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.