Dalam Sejarah Kontemporer, Manusia Bali Kalah Dalam Kehidupan

Metro Bali
single-image
Ilustrasi
Denpasar, (Metrobali.com)-
Sejarah selalu diisi cerita orang-orang yang menang dalam kehidupan. Tetapi dalam sejarah kontemporer Bali, manusia Bali, pada umumnya mereka kalah dalam kehidupan.
Hal itu dikatakanI Gde Sudibya, pembelajar kehidupan, Senin (25/1) pagi kepada Metrobali.com. Tentu pernyataan Gde Sudibya mengajak warga atau manusia Bali eling dengan kondisi saat ini, di saat terjadi paceklik pariwisata dan wabah covid-19 yang kita semua tidak tahu serta kapan akan berakhir.
“Mari kita lakukan pengambilan contoh secara acak terhadap beberapa realitas kehidupan. Tentu diantara kita warga Bali akan merasakan perubahan. Mulai dari lingkungan keluarga kecil, keluarga besar bahkan di tingkat banjar dan di lingkungan desa, ” kata Sudibya.
Kalau kita mau jujur mengakuinya, pertama bahwa kita sudah banyak kehilangan tanah peninggalan tetua kita, yang diperoleh melalui kerja dan doa, dan sebenarnya menjadi tempat kita berkebudayaan.
Kedua, alam sosial kita begitu rusak, solidaritas ” paras paros ” berganti wujud menjadi prilaku bercirikan individualisme dan egoisme. Sikap kehidupan lascarya, nuking tuwas tergerus berkelanjutan menjadi sikap sarat pamrih dan bahkan di sana-sini melakukan pelanggaran sesana/dharma kriya.
Ketiga, lingkungan fisik alam Bali, yang sebelumnya begitu  disayangi dan dirawat dengan penuh ketulusan, kini mengalami kerusakan  dan kehancuran parah, kalau kita menggunakan tolok ukur kearifan pengaturan ruang Tri Mandala, dan etika berkehidupan Tri Hita Karana.
Dan masih banyak lagi realitas kehidupan pahit yang menggambarkan kekalahan manusia Bali dalam ” membentangkan layar ” mengarungi samudra kehidupan.
Pandemi Covid-19 dengan dampak kehidupan yang dibawakannya, semestinya membuat manusia Bali lebih keras berefleksi, mawas diri, dan koreksi total ke depan, untuk menyongsong ufuk baru perubahan.
“Dan hal itu sejalan dengan kearifan manajemen waktu Tri Semaya ( Atitha, Nagatha, Warthamana ). Masa lalu, kearifan masa lalu, hikmah masa lalu, menjadi landasan untuk menciptakan masa depan, melalui langkah-langkah nyata di hari- hari ini,” kata Sudibya.
Editor : Widana
Bagikan :
Baca Juga :
Gabungan Ormas di Bali Nyatakan Dukungan Kongres PDIP
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Leave a Comment

Your email address will not be published.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});