<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>metrobali.com &#187; Kegiatan Seni &amp; Budaya</title>
	<atom:link href="http://metrobali.com/category/seni-budaya/kegiatan-seni-budaya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://metrobali.com</link>
	<description>Berita Bali Online</description>
	<lastBuildDate>Tue, 18 Jun 2013 00:06:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Pentas Musik dan Diskusi ‘Musik dan Kata Lintas Budaya’, pada Minggu, 21 April 2013</title>
		<link>http://metrobali.com/2013/04/21/pentas-musik-dan-diskusi-musik-dan-kata-lintas-budaya-pada-minggu-21-april-2013/</link>
		<comments>http://metrobali.com/2013/04/21/pentas-musik-dan-diskusi-musik-dan-kata-lintas-budaya-pada-minggu-21-april-2013/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Apr 2013 03:20:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Top News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metrobali.com/?p=25881</guid>
		<description><![CDATA[Denpasar (Metrobali.com) Dunia seni Indonesia kini sedang mengalami percepatan dinamika yang tinggi. Wujud-wujud kreasi kian luas diciptakan oleh para seniman, baik dalam sastra, rupa, musik, teater, termasuk pula seni-seni multimedia. Bahkan, tidak sedikit di antara ragam seni tersebut yang saling melintas bidang, antara kata ke rupa, nada dan sinema, yang giliran berikutnya makin memperkaya ragam [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Denpasar (Metrobali.com) Dunia seni Indonesia kini sedang mengalami percepatan dinamika yang tinggi. Wujud-wujud kreasi kian luas diciptakan oleh para seniman, baik dalam sastra, rupa, musik, teater, termasuk pula seni-seni multimedia. Bahkan, tidak sedikit di antara ragam seni tersebut yang saling melintas bidang, antara kata ke rupa, nada dan sinema, yang giliran berikutnya makin memperkaya ragam seni Indonesia sekarang.</p>
<p>Di sisi lain, lintas bidang kesenian atau alih kreasi ini tidak luput pula oleh aneka tanya, apakah mungkin sebuah bidang seni yang memiliki ruang bentuknya tersendiri, kemudian diubah menjadi bentuk cipta yang lain? Tidakkah dalam proses tersebut memungkinkan terjadinya bias makna antara dua wujud karya, yang dapat saja disebabkan oleh kekurangpahaman si kreator terhadap prinsip bentuk dari seni-seni yang dialih-kreasikannya?</p>
<p>Sebagai wujud apresiasi atas kreasi lintas bidang ini, Bentara Budaya Bali kali ini secara khusus mengetengahkan agenda Pentas Musik dan Diskusi ‘<i>Musik dan Kata Lintas Budaya’</i>, pada Minggu, 21 April 2013, Pukul 18.30 Wita-selesai . Akan hadir dalam acara tersebut penyair Ketut Yuliarsa dan komposer Wayan Gde Yudane, yang menampilkan beberapa nomor pertunjukan baca puisi dan juga kreasi musik, serta selanjutnya dipadukan dengan satu sesi diskusi.</p>
<p>“Mereka akan mencoba menggabungkan unsur-unsur yang ada dalam puisi serta musik, yang akan direspon ke dalam suatu bentuk baru. Bahkan tidak hanya musik, upaya mereka sekaligus memadukan unsur budayanya,” ujar Putu Aryastawa dari Bentara Budaya Bali.</p>
<p>Pemaduan unsur lintas budaya tersebut bisa saja diartikan sebagai ancaman tatanan seni tradisional, atau tidak selaras dengan upaya pelestarian seni budaya yang sudah mapan. Maka lahirlah istilah-istilah seperti seni propaganda, seni religi, seni populer bahkan seni kontemporer  yang ternyata sudah timbul dan berkembang dari awal sejarah kesenian itu sendiri. Memang, sebelum mencapai status kesenian &#8220;tradisional&#8221;, seni tersebut berkembang dari bentuk seni sebelumnya.</p>
<p>Melalui upaya tersebut, komponis Wayan Yudane berkolaborasi dengan musisi dan penyair Yuliarsa mendemonstrasikan beberapa karya (komposisi) musik yang terinspirasi  dari puisi dan beberapa komposisi musik gamelan yang diaplikasi atau diterapkan pada perangkat musik barat.</p>
<p>Ketut Yuliarsa, penyair dan musisi,telah menerbitkan dua buku kumpulan puisi (dwibahasa Indonesia-Inggris), &#8220;Suara Malam/ <i>Night Voice</i>&#8221; dan &#8220;Jatuh Bisu/ <i>Falling in Silence</i>&#8221; dan beberapa kumpulan puisi bersama penyair Bali. Cerpennya tersebar di media cetak Indonesia, juga menulis kolom budaya secara berkala di sebuah koran harian berbahasa Inggris. Turut terlibat dalam beberapa rekaman musik kontemporer di Jepang dan Singapura. Berpartisipasi dalam berbagai pementasan musik dan teater, sebagai aktor, musisi maupun penulis naskah di Australia dan New zealand.Saat ini tinggal di Bali bekerja di toko buku sambil mengelola program &#8220;Books For Bali Project&#8221;, kegiatan menyumbangkan buku-buku bacaan untuk sekolah-sekolah desa terpencil dan panti asuhan.</p>
<p>Yudane, lahir di Kaliungu, Denpasar, menghasilkan karya musik konser, teater, instalasi maupun film. Meraih penghargaan <i>Melbourne Age Criticism </i>sebagai <i>Creative Excellent</i> pada Festival Adelaide, Australia (2000)kolaborasi dengan Paul Gabrowsky;Penghargaan <i>Helpman</i>sebagai Musik Orisinal Terbaik, Adikara Nugraha dari Gubernur Bali sebagai Kreator Komposisi Musik Baru (1999). Tampil di Festival Jazz Wangarata, Australia (2001), keliling Eropa dengan Teater <i>Temps Fort</i>, Grup<i> France and Cara</i> Bali, juga Festival Munich dan <i>La Batie</i>. Karyanya: musik film ‘Sacred and Secret’ (2010), <i>Laughing Water and Terra-Incognita, </i>dan <i>Arak</i> (2004), serta sebagainya.</p>
<p>“Bentara Budaya Bali mencoba menghadirkan sebuah diskusi musik kreatif sebagai upaya pengembangan seni musik berlatar budaya tanpa meninggalkan tatanan musik tradisional yang sudah ada” sebut Putu Aryastawa lagi, staf BBB.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metrobali.com/2013/04/21/pentas-musik-dan-diskusi-musik-dan-kata-lintas-budaya-pada-minggu-21-april-2013/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sandyakala Sastra #31 SOSOK IBU DALAM KARYA SASTRA INDONESIA Sabtu, 13 April 2013 Pukul 19.00 Wita – selesai</title>
		<link>http://metrobali.com/2013/04/12/sandyakala-sastra-31-sosok-ibu-dalam-karya-sastra-indonesia-sabtu-13-april-2013-pukul-19-00-wita-selesai/</link>
		<comments>http://metrobali.com/2013/04/12/sandyakala-sastra-31-sosok-ibu-dalam-karya-sastra-indonesia-sabtu-13-april-2013-pukul-19-00-wita-selesai/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Apr 2013 15:24:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Top News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metrobali.com/?p=25121</guid>
		<description><![CDATA[Denpasar (Metrobali.com) Sebagai upaya memaknai sosok ibu dalam karya sastra Indonesia, Bentara Budaya Bali menggelar Sandyakala Sastra #31 bertajuk Sosok Ibu dalam Karya Sastra Indonesia pada Sabtu (13/4) di Jalan Prof. Ida Bagus Mantra No. 88A, Ketewel. Diskusi ini menghadirkan pembicara sastrawan dan penyair Wayan Sunarta. Wayan Sunarta akan mencermati kehadiran Ibu dalam karya sastra, [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Denpasar (Metrobali.com) Sebagai upaya memaknai sosok ibu dalam karya sastra Indonesia, Bentara Budaya Bali menggelar <i>Sandyakala Sastra #31</i> bertajuk <i>Sosok Ibu dalam Karya Sastra Indonesia</i> pada Sabtu (13/4) di Jalan Prof. Ida Bagus Mantra No. 88A, Ketewel. Diskusi ini menghadirkan pembicara sastrawan dan penyair Wayan Sunarta.</p>
<p>Wayan Sunarta akan mencermati kehadiran Ibu dalam karya sastra, baik sebagai sosok simbolis maupun sebagai pribadi sehari-hari. Sejak berabad lampau, sosok Ibu sering diabadikan dalam aneka karya seni, seperti sastra, musik, lukis, dan patung. Sosok Ibu juga muncul dalam karya sastra lisan maupun tulisan, karya sastra klasik, tradisional, modern maupun kontemporer, berbentuk prosa atau puisi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Ibu merupakan tema universal dalam penciptaan karya sastra. Namun, ibu tidak melulu muncul sebagai sosok manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dalam banyak karya sastra, ibu juga muncul sebagai metafora, simbol, untuk menggambarkan kelembutan, kasih sayang, perlindungan, kesuburan, atau hal-hal yang melekat pada karakter ibu yang umum dikenal,” ujar  Wayan Sunarta.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menurut Putu Aryastawa, penata acara di Bentara Budaya Bali, “Diskusi sastra ini merupakan kegiatan berkala di Bentara Budaya Bali yang mencoba mengapresiasi dan merespon berbagai bentuk tematik karya sastra Indonesia. Diharapkan melalui kegiatan ini, generasi muda dan masyarakat umum dapat memperkaya pengetahuannya serta memaknai khasanah susastra di Indonesia.“</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sastrawan Wayan Sunarta dilahirkan di Denpasar, 22 Juni 1975. Tulisannya telah dimuat di <i>Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Jawa Pos, The Jakarta Post, Jurnal Kebudayaan Kalam</i> dan sebagainya. Kumpulan cerpennya yang telah terbit <i>Cakra Punarbhawa</i> (2005), <i>Purnama di Atas Pura</i> (2005), dan <i>Perempuan yang Mengawini Keris (</i>2011). Kumpulan puisinya antara lain <i>Malam</i><i> Cinta</i> (2007), dan <i>Pekarangan Tubuhku</i> (2010). Peraih Krakatau Award 2002, karyanya juga tergabung dalam Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2004.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metrobali.com/2013/04/12/sandyakala-sastra-31-sosok-ibu-dalam-karya-sastra-indonesia-sabtu-13-april-2013-pukul-19-00-wita-selesai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diskusi &amp; Workshop Human Interest Photography Di Bentara Budaya Bali  Jumat (12/4)</title>
		<link>http://metrobali.com/2013/04/11/diskusi-workshop-human-interest-photography-di-bentara-budaya-bali-jumat-124/</link>
		<comments>http://metrobali.com/2013/04/11/diskusi-workshop-human-interest-photography-di-bentara-budaya-bali-jumat-124/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Apr 2013 12:34:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Top News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metrobali.com/?p=25030</guid>
		<description><![CDATA[Denpasar(Metrobali.com) Jumat (12/4), seniman foto mumpuni, dr. Ida Bagus Andi Sucirta, tampil sebagai narasumber dalam Diskusi dan Workshop Fotografi bertajuk Human Interest Photography, yang secara khusus membahas perihal potret budaya. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan Manajemen dan Informatika Alfa Prima Denpasar berkerjasama dengan Bentara Budaya Bali (BBB). “Dunia fotografi boleh dikata sebagai salah satu [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Denpasar(Metrobali.com) Jumat (12/4), seniman foto mumpuni, dr. Ida Bagus Andi Sucirta, tampil sebagai narasumber dalam Diskusi dan Workshop Fotografi bertajuk <i>Human Interest Photography</i>, yang secara khusus membahas perihal potret budaya. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan Manajemen dan Informatika Alfa Prima Denpasar berkerjasama dengan Bentara Budaya Bali (BBB).</p>
<p>“Dunia fotografi boleh dikata sebagai salah satu media komunikasi yang dapat ditafsirkan secara luas. Setiap foto, apabila kita teliti lebih mendalam mengandung pesan dari sang fotografer, “ ujar Adi Swastama, Ketua Panitia kegiatan ini.</p>
<p>Foto <i>human interest</i> (<i>human interest photography</i>) senantiasa menarik untuk diperbincangkan. Model atau gaya pemotratan yang menitik beratkan pada obyek sosok manusia ini memerlukan sensitifitas yang terbilang tinggi selain berbekal teknik maupun kamera mahal.<i> </i>Fotografi jenis ini seringkali ditujukan untuk memvisualkan suasana hati, sedih, senang, tertawa, bahagia, bercanda, berlari, menangis maupun lain sebagainya dari subyek foto tersebut.</p>
<p>“Memotret tidak sekadar membawa kamera dan melakukan jepretan. Pengetahuan tentang subyek foto penting dalam tahap “previsualisasi”. Sebelum turun ke lapangan, selalu lakukan riset dengan bertanya dan membaca referensi. Ketahui juga tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan ketika memotret, “ ujar Andi Sucirta.</p>
<p>Andi Sucirta merupakan dokter sekaligus seniman foto kelahiran 1976 yang telah meraih aneka juara tingkat nasional dan internasional. Penghargaan nasional dan internasional yang pernah diterimanya, antara lain:<i> </i><i>Best Asian Photografer of The Year 2006</i> oleh Federation of Asian Photografic Art di Taiwan, <i>Documentary Awards Winners</i>, <i>Human Photography Awards 2009 &amp; 2011</i> oleh UNESCO di China, <i>Adam Malik Awards</i>, <i>Best Overall Garuda Indonesia Photo Competition 2011</i> dan lain-lain. Saat ini, Andi Sucirta menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Fotografer Bali.</p>
<p>“Selain dapat memberi ruang bagi generasi muda untuk lebih memahami dunia fotografi, diharapkan dengan diskusi ini akan lebih mendorong lagi minat kawula muda untuk lebih antusias dalam dunia fotografi, “, tambah Adi Swastama.</p>
<p>Diskusi dan workshop yang diikuti oleh siswa SMA/SMK ini diadakan serangkaian Lomba dan Pameran <i>Photography</i> se-Bali.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metrobali.com/2013/04/11/diskusi-workshop-human-interest-photography-di-bentara-budaya-bali-jumat-124/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kapal Roro Jaya Abadi Nyaris Tenggelam : 10 Sepeda Motor Rusak Berat Tertimpa Truk</title>
		<link>http://metrobali.com/2013/03/06/kapal-roro-jaya-abadi-nyaris-tenggelam-10-sepeda-motor-rusak-berat-tertimpa-truk/</link>
		<comments>http://metrobali.com/2013/03/06/kapal-roro-jaya-abadi-nyaris-tenggelam-10-sepeda-motor-rusak-berat-tertimpa-truk/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Mar 2013 16:11:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sutiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bali Region]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Klungkung]]></category>
		<category><![CDATA[Metro Politika]]></category>
		<category><![CDATA[Top News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metrobali.com/?p=22708</guid>
		<description><![CDATA[Klungkung ( Metrobali.com )- Kapal Roro Jaya Abadi milik Pemkab Klungkung saat meninggalkan pelabuhan Padang Bay yang akan menuju Nusa Penida pada Selasa ( 5/3 ) sekira pukul 15.20 wita nyaris tenggelam dihantam gelombang yang disertai angin kencang. Meskipun dalam keadaan hujan deras disertai angin kencang dan pandangan mata ke depan tidak begitu jelas terlihat, [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Klungkung ( Metrobali.com )</strong>-</p>
<p>Kapal Roro Jaya Abadi milik Pemkab Klungkung saat meninggalkan pelabuhan Padang Bay yang akan menuju Nusa Penida pada Selasa ( 5/3 ) sekira pukul 15.20 wita nyaris tenggelam dihantam gelombang yang disertai angin kencang. Meskipun dalam keadaan hujan deras disertai angin kencang dan pandangan mata ke depan tidak begitu jelas terlihat, Kapal Roro tidak boleh tidak, harus meninggalkan pelabuhan Padang Bay. Itu dikarenakan kapal roro tidak diperbolehkan berlama lama bersandar di Pelabuhan Padang Bay, maklum masih numpang nyandarnya.</p>
<p>Apa yang terjadi begitu Kapal Roro meninggalkan Pelabuhan Padang Bay, .pelan tapi pasti beru berjalan kurang lebih 200 meter angin kencang dan gelombang besar menghantam lambung tengah kapal. Tiba tiba kapal  mengambil haluan ke kanan, saat itu juga mendadak kapal miring ke kiri dan penumpang yang adapun teriak histeris. Bukan itu saja<b> wartawan Metrobali.com </b>sempat mendengar suara ledakan sebanyak dua kali dari bawah tempat parkir kendaraan.</p>
<p>Penumpangpun saling pandang dan beberapa penumpang berlarian turun ke bawah untuk mencari tahu apa yang terjadi. Di samping penumpang histeris ada pula penimpang menangis sambil berdoa. Jaket pelampung segera dibagikan, tampak penumpang saling rebutan hingga ada penumpang yang sampai terjatuh.</p>
<p>Sementara itu dibawah tempat parkir kendaraan<b> Metrobali.com</b> menyaksikan kendaraan Truk DK 9530 AE yang bertuliskan UD Khaswari nyaris roboh memuntahkan muatan yang dibawa. Tampak roda truk setengahnya tidak lagi menyentuh lantai parkir. Terdengar suara wanita merintih kesakitan dari balik bedak truk. Korban terlihat paha kaki kanan terjepit diantara sepeda motor yang tertimpa truk, hal tersebut membuat kru kapal dibuat panik. Anggota Polres yang kebetulan ikut menumpang kapal membantu mengevakuasi. Cukup lama korban bertahan direruntuhan sepeda motor. Baru sekira 30 menit kemudian korban berhasil dikeluarkan dan dipapah untuk dibawa keatas kapal.</p>
<p>Sementara di atas kapal tempat penumpang berada suasana menjadi gaduh. Penumpang yang ada terkejut dan ingin melihat kondisi korban. Diketahui korban adalah Ni Putu Tini 19 asal Sebunibus, Nusa Penida. Korban terus teriak teriak setiap kali kaki kirinya disentuh. Bukan itu saja ada juga korban seorang laki laki tertimpa speda motor.</p>
<p>Dia adalah I Wayan Sudiarta 39 asal Banjar Nyuh, Desa Ped hanya mengalami luka lecet pada kaki kanan terkena kenalpot. &#8220;Saya percis berada di samping truk bersama korban Tini, namun saya beruntung cepat menghindar begitu truk akan jatuh dan hanya kaki kanan saya kena kenalpot hingga terbakar &#8221; ujarnya ketika kapal Roroi bersandar. Celana jens yang saya pakai hingga robek, imbuhnya. Korban Ni Putu Tini 19 setelah diperiksa di Puskesmas Nusa Penida oleh dokter korban diketahui patah paha pada kaki kanan dan pinggang korban juga patah.</p>
<p>Sementara itu penumpang beserta kendaraan yang ada sudah keluar. Tampak Truk masih berada di tempat dalam keadaan miring dan di ikat tali kapal warna putih. Untuk membalikan truk kembali normal oleh awak kapal diperlukan truk untukj memindahkan barang yang dibawa truk tersebut.</p>
<p>Sekira pukul 19.00 wita akhirnya truk baru bisa dibalik keposisi normal. Sebanyak 10 sepeda motor berbagai merk rinsek. Satu persatu kendaran dikeluarkan dari dalam kapal Roro. Menurut Kapten Kapal Abdul Manan semua kendaraan yang diatas kapal jika terjadi musibah akan dibayar jasa raharja karena semua kendaraan di asuransikan, ujarnya. Besaran asuransi tergantung dari seberapa besar biaya setelah kendaraan diperbaiki, imbuhnya.</p>
<p>Sementara Kapolres Klungkung AKBP Ni Wayan Sri YW, Sik yang saat itu turut berada dalam kapal roro mengtakan bahwa yang terjadi adalah sebuah peristiwa alam, dimana filosofinya agar kita semua senatiasa mengucapkan syukur kapada Tuhan, ujarnya.</p>
<p>Saya ucapkan terimakasih banyak kepada seluruh masyarakat yang menenangkan diri saya dan saya melihat pada berdoa. Tenang modal untuk kita berfikir jernih, sehingga tidak mudah panik dan emosi, ungkap Sri. Jika ada korban kami telah berusaha maksimal dengan pak dokter Irfana memberikan pertolongan, dengan keterbatasan yang ada kebetulan bersama rombongan ada dirinya, imbuh Kapolres. Kepada korban kami hanya bisa berdoa semoga cepat sembuh. <b>SUS-MB</b></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metrobali.com/2013/03/06/kapal-roro-jaya-abadi-nyaris-tenggelam-10-sepeda-motor-rusak-berat-tertimpa-truk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pentas Monolog Putu Satria Kusuma &#8220;JANJI PLASTIK&#8221; Minggu, 16 Desember 2012 pukul 19.00 wita</title>
		<link>http://metrobali.com/2012/12/14/pentas-monolog-putu-satria-kusuma-janji-plastik/</link>
		<comments>http://metrobali.com/2012/12/14/pentas-monolog-putu-satria-kusuma-janji-plastik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Dec 2012 14:19:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Metro Politika]]></category>
		<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metrobali.com/?p=18426</guid>
		<description><![CDATA[Denpasar (Metrobali.com) Setelah sekian lama menekuni dunia sastra, teater, seni rupa, dan film, dramawan Putu Satria Kusuma bekerjasama dengan Bentara Budaya Bali, Minggu (16/12) akan mementaskan naskah monolog karyanya terkini berjudul “Janji Plastik” di Jalan Prof. Ida Bagus Mantra No 88A, Ketewel-Gianyar. Naskah “Janji Plastik,” ditulis oleh Putu Satria Kusuma, berkisah tentang seseorang yang mengaku [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Denpasar (Metrobali.com) Setelah sekian lama menekuni dunia sastra, teater, seni rupa, dan film, dramawan Putu Satria Kusuma bekerjasama dengan Bentara Budaya Bali, Minggu (16/12) akan mementaskan naskah monolog karyanya terkini berjudul “Janji Plastik” di Jalan Prof. Ida Bagus Mantra No 88A, Ketewel-Gianyar.<br />
Naskah “Janji Plastik,” ditulis oleh Putu Satria Kusuma, berkisah tentang seseorang yang mengaku dirinya kini telah kaya, banyak uang dan siap membayar tagihan hutangnya. Ketika datang penagih, ia pun enteng merogoh sakunya untuk mengambil uang. Namun yang terambil bukan uang melainkan segepok sampah plastik. Di tas lusuhnya, juga tak ada uang, melainkan hanya sampah plastik. Kardus kiriman uang dari Tokoh-Tokoh Kita sebagai tanda terimakasih telah memilih mereka dalam pemilu, juga isinya plastik. Ketika ia menggunakan hak asasinya untuk berteriak menagih janji dari Tokoh-Tokoh Kita, yang menjawab hanya hamburan segunung sampah plastik hingga menguburnya hidup-hidup.<br />
“Saya mempersiakan pementasan monolog ini dengan berusaha mengolah pesan menjadi sebentuk kritik sosial yang tidak membebani penonton dengan ide-ide berlebihan, melainkan sebentuk ajakan untuk merenung mengenai perilaku kita sehari-hari. Selain itu, pementasan ini juga mengajak kita untuk berbagi tentang masalah-masalah lingkungan,” ujar Putu Satria Kusuma yang sudah lebih dari 20 tahun menekuni dunia teater modern di Bali.<br />
Pementasan yang diproduksi oleh Teater Kampoeng Seni Banyoening dengan dukungan penata lampu Jazuli; tata panggung: Surya Kencana dan Dedi; pembantu kreatif Desi dan Suma, disutradarai dan akan dimainkan sendiri oleh Putu Satria Kusuma. Selain mengedepankan bentuk tampilan yang menyegarkan sebagaiman lakon-lakon monolog sebelumnya, Putu juga mengolah pertunjukannya kali ini dengan kritik sosial yang kuat, terutama terkait soal pencemaran lingkungan.<br />
Putu Satria Kusuma telah menulis dan menyutradarai sejumlah sinetron, ia juga memenangkan berbagai penghargaan, di antaranya Pemenang Ketiga Penulisan Naskah Drama Dewan Kesenian Jakarta (1998), meraih hibah Yayasan Kelola (2007), Penghargaan dari Menbudpar RI atas Skenario Film ‘Romantika Mesin Cusi (2005) serta menampilkan pertunjukan ‘Cupak Tanah’ di Bentara Budaya Jakarta (2000), Gedung Kesenian Jakarta (2000), CCCL Bandung (2007), dan berbagai kegiatan di beberapa kota di Indonesia. Karya cerpennya juga masuk dalam kumpulan Komunitas Sastra Indonesia dan Lobakan.<br />
“Pementasan monolog ini, diharapkan tidak hanya memberikan hiburan kepada publik yang menontonnya, namun lebih jauh, semoga dapat memberikan perspektif baru terhadap realitas kehidupan sosial dan politik kita melalui caranya tersendiri,“ ujar Putu Aryastawa, penata acara di Bentara Budaya Bali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metrobali.com/2012/12/14/pentas-monolog-putu-satria-kusuma-janji-plastik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PKB Masih Perlu, Tapi Berkualitas</title>
		<link>http://metrobali.com/2012/09/16/pkb-masih-perlu-tapi-berkualitas/</link>
		<comments>http://metrobali.com/2012/09/16/pkb-masih-perlu-tapi-berkualitas/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Sep 2012 23:18:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sutiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bali Region]]></category>
		<category><![CDATA[Denpasar]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Metro Politika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metrobali.com/?p=13312</guid>
		<description><![CDATA[Denpasar (Metrobali.com)- Sejumlah akademisi, praktisi, seniman, dan budayawan serta para tokoh masyarakat dan kalangan mahasiswa dan pelajar duduk bersama sambil debat kusir dalam diskusi kebudayaan di Nabeshima Creative Space, Jalan Padma, Gang Harum No.5 Denpasar, Jumat (14/9) malam lalu. Diskusi kebudayaan ini mengangkat tajuk Pesta Kesenian Bali: Apakah Masih Membanggakan, Apakah Masih Diperlukan ?. Dan, [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Denpasar (Metrobali.com)-</strong></p>
<p><strong></strong>Sejumlah akademisi, praktisi, seniman, dan budayawan serta para tokoh masyarakat dan kalangan mahasiswa dan pelajar duduk bersama sambil debat kusir dalam diskusi kebudayaan di Nabeshima Creative Space, Jalan Padma, Gang Harum No.5 Denpasar, Jumat (14/9) malam lalu. Diskusi kebudayaan ini mengangkat tajuk Pesta Kesenian Bali: Apakah Masih Membanggakan, Apakah Masih Diperlukan ?. Dan, menghadirkan narasumber, yakni Prof. Dr. I Wayan Dibia dan Wayan Gede Yudane, serta dipandu moderator Ketut Syahruwardi Abbas.</p>
<p>Diskusi kebudayaan ini berlangsung cukup hangat dan sangat seru dalam suasana santai tapi serius. Bahkan mampu menggelitik lahirnya berbagai pemikiran kritis untuk membenahi konstruksi pelaksanaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke depan. Sehingga mampu menjadi wahana penggalian, pelestarian dan pengembangan seni budaya bangsa yang berbasis kearifan budaya lokal Bali secara berkelanjutan. Demi upaya penguatan karakter bangsa serta daya saing bangsa di kancah internasional.</p>
<p>Dalam kesempatan itu, komposer Wayan Gede Yudane, secara blak-blakan mengatakan bahwa jika mengacu pada spirit awalnya memang PKB memang sudah selesai dan tidak jadi masalah karena cukup sukses menjadi wadah penggalian, pelestarian dan pengembangan kesenian di setiap kabupaten/kota se-Bali. Tapi, kemudian dengan adanya perkembangan dan tuntutan dari berbagai kepentingan masyarakat memang PKB perlu dibenahi dari segi kualitas.</p>
<p>Dalam konteks ini, PKB bukan dijadikan pesta dagang, melainkan betul-betul menjadi pesta kesenian Bali yang mengadopsi berbagai karya cipta kreatif para seniman di setiap kabupaten/kota se-Bali. “Bukan seperti saat ini, dimana PKB justru menjadi pesta dagang di tengah kreativitas berkesenian yang selalu semarak dengan masalah klasik dari tahun ke tahun seperti parkir dan stan dagang, serta lainnya,” sentilnya.</p>
<p>Sementara itu, Prof. Dr. I Wayan Dibia, guru besar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar mengatakan bahwa jika melihat perkembangan globalisasi saat ini, PKB menjadi sangat penting sebagai media edukasi publik di bidang pendidikan seni budaya dan sekaligus sebagai upaya diplomasi budaya demi penguatan daya saing bangsa di kancah internasional. Maka itulah, ke depan manejemen penyelenggaraan PKB mesti dibenahi dan dikelola secara lebih profesional. Artinya, program kesenian yang disajikan di PKB tidak lagi mengejar kuantitas, melainkan justru diprioritaskan untuk mencapai peningkatan mutu dan kualitas berstandar internasional.</p>
<p>Di samping itu, perlu adanya kuratorial atau kurasi terhadap kesenian partisipasi baik nasional maupun internasional dengan berbagai kajian dan pertimbangan secara lebih proporsional dan profesional. Sehingga, dapat menjadi media pembanding sekaligus motivasi bagi seniman Bali dalam proses berkesenian untuk menciptakan karya kreatif inovatif yang lebih unggul dan berkualitas. Dalam konteks ini, PKB itu masih diperlukan, tapi harus disajikan dengan mutu dan kualitas yang lebih baik dan berstandar internasional. “Demi upaya mencapai visi dan misi <em>go</em> internasional sebagai media promosi pariwisata bangsa secara mendunia,” tegasnya.</p>
<p>Lebih jauh,  Kadek Suardana, pemilik Nabeshima Creative Space, mengatakan bahwa diskusi kebudayaan ini merupakan ajang para akademisi, praktisi, budayawan, dan tokoh masyarakat serta kalangan pelajar dan mahasiswa untuk dapat berperan secara proaktif dalam mengkritisi berbagai persoalan bangsa terutama di bidang pendidikan seni budaya. Sebagai upaya peningkatan penggalian, pelestarian dan pengembangan kebudayaan bangsa yang berbasis kearifan budaya lokal khas Bali secara berkelanjutan. Yang pasti, segala bentuk wacana yang muncul pada diskusi kebudayaan ini termasuk tentang PKB nantinya akan dirumuskan dalam bentuk rekomendasi dan langsung diserahkan kepada berbagai pihak terkait, terutamanya instansi pemerintahan di bidangnya. Dengan harapan, rekomendasi ini dapat menjadi acuan penting bagi politik kebijakan di bidang kebudayaan bangsa ke depannya. “Sehingga PKB dapat berkembang, dan berkelanjutan sesuai dengan konteks perubahan zaman tanpa kehilangan daya kreatif dan jati diri/identitasnya,” harapnya.<strong> IJA-MB<br />
</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metrobali.com/2012/09/16/pkb-masih-perlu-tapi-berkualitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rancangan Program PKB 2013 Disbud Bali Jaring Relawan Pelajar dan Mahasiswa</title>
		<link>http://metrobali.com/2012/09/13/rancangan-program-pkb-2013-disbud-bali-jaring-relawan-pelajar-dan-mahasiswa/</link>
		<comments>http://metrobali.com/2012/09/13/rancangan-program-pkb-2013-disbud-bali-jaring-relawan-pelajar-dan-mahasiswa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Sep 2012 00:01:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sutiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bali Region]]></category>
		<category><![CDATA[Denpasar]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Metro Politika]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Atraksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metrobali.com/?p=13081</guid>
		<description><![CDATA[Denpasar (Metrobali.com)- Meskipun rapat evaluasi Pesta Kesenian Bali 2012 masih tertunda, tapi Dinas Kebudayaan (Disbud) Bali sudah mulai bergerak cepat mengadakan rapat koordinasi tentang rancangan program PKB ke-35 tahun 2013 mendatang, Rabu (12/9) kemarin. Langkah ini dilakukan untuk memantapkan program pagelaran seni budaya dan sekaligus dalam upaya memanusiakan seniman demi kemuliaan kebudayaan bangsa yang berbasis [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Denpasar (Metrobali.com)-</strong></p>
<p>Meskipun rapat evaluasi Pesta Kesenian Bali 2012 masih<br />
tertunda, tapi Dinas Kebudayaan (Disbud) Bali sudah mulai bergerak<br />
cepat mengadakan rapat koordinasi tentang rancangan program PKB ke-35<br />
tahun 2013 mendatang, Rabu (12/9) kemarin. Langkah ini dilakukan untuk<br />
memantapkan program pagelaran seni budaya dan sekaligus dalam upaya<br />
memanusiakan seniman demi kemuliaan kebudayaan bangsa yang berbasis<br />
kearifan budaya lokal khas Bali. Sehingga, tidak mudah tergerus arus<br />
negatif dari budaya global.<br />
Salah satu dari langkah strategis yang kini sedang dirancang untuk<br />
menjawab berbagai kendala klasik dalam PKB sebelumnya adalah dengan<br />
menjaring relawan sebagai polentier atau leasion organizer (LO).<br />
Mereka rencananya akan menjadi ujung tombak dalam pelayanan publik<br />
terutama bagi seniman yang tampil di PKB. Mulai dari proses persiapan<br />
peralatan dan kelengkapan panggung, penerimaan tamu undangan,<br />
kehadiran seniman, hingga kenyaman pementasan. Sehingga, para seniman<br />
nantinya dapat menyajikan pagelaran seni unggulannya secara maksimal.<br />
Kepala Disbud Bali, Ketut Suastika menegaskan bahwa sengaja melakukan<br />
rapat koordinasi tentang rancangan program PKB tahun depan lebih awal<br />
semata-mata untuk menyatukan persepsi dalam menjawab berbagai kendala<br />
yang terjadi dalam pelaksanaan PKB ke-34 tahun 2012 lalu. Supaya<br />
pelaksanaan PKB ke-35 tahun depan yang mengusung tema Taksu:<br />
Meningkatkan Daya Kreatif dan Jati Diri.<br />
Terlebih lagi, katanya misi pelayanan dalam PKB tahun depan menjadi<br />
prioritas utama untuk memanusiakan seniman dan memuliakan seni budaya<br />
Bali. “Jadi saya berharap segala bentuk perubahan yang dalam PKB tahun<br />
depan dapat tercapai sesuai dengan tema yang telah ditentukan,”<br />
harapnya.<br />
Hal senada dipertegas oleh Prof. Dr. I Wayan Dibia, guru besar<br />
Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar mengatakan bahwa memang sudah<br />
semestinya penyelenggaraan PKB digarap secara lebih serius, dengan<br />
menerapkan manajemen pelayanan yang berstandar internasional secara<br />
profesional. Penggunaan LO memang semestinya sudah sejak dulu<br />
dilakukan, sehingga pelaksanaan PKB layak sebagai pertunjukan seni<br />
budaya yang mendidik dan memiliki daya tarik bagi turistik baik<br />
domestik maupun mancanegara.<br />
Menurutnya, mulai saat ini sudah ada upaya pendekatan dengan pihak<br />
perguruan tinggi seperti ISI Denpasar, IHDN Denpasar, UNHI Denpasar,<br />
Unud Denpasar, dan perguruan tinggi swasta lainnya. Termasuk juga<br />
kalangan pelajar tingkat SMP dan SMA. “Ini sebagai upaya meningkatkan<br />
apresiasi publik terhadap seni budaya dalam dunia pendidikan,”<br />
tegasnya. <strong>IJA-MB</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metrobali.com/2012/09/13/rancangan-program-pkb-2013-disbud-bali-jaring-relawan-pelajar-dan-mahasiswa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kampus Jadi Agen Antikorupsi</title>
		<link>http://metrobali.com/2012/08/31/kampus-jadi-agen-antikorupsi/</link>
		<comments>http://metrobali.com/2012/08/31/kampus-jadi-agen-antikorupsi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Aug 2012 00:44:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sutiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bali Region]]></category>
		<category><![CDATA[Denpasar]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Metro Politika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metrobali.com/?p=12290</guid>
		<description><![CDATA[Denpasar (Metrobali.com)- Pemerintah telah berupaya memasukan program pendidikan Antikorupsi dalam proses pembelajaran di jenjang pendidikan dasar maupun menengah mulai tahun ajaran 2012/2013 sebagai mata pelajaran wajib yang disisipkan dalam setiap mata pelajaran. Hal ini bertujuan mengimplimentasikan upaya pemberantasan korupsi secara sistemik dan berkelanjutan. Namun, langkah itu rupanya belum cukup dan dianggap masih perlu ditingkatkan. Pasalnya, [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Denpasar (Metrobali.com)-</strong></p>
<p>Pemerintah telah berupaya memasukan program pendidikan Antikorupsi dalam proses pembelajaran di jenjang pendidikan dasar maupun menengah mulai tahun ajaran 2012/2013 sebagai mata pelajaran wajib yang disisipkan dalam setiap mata pelajaran. Hal ini bertujuan mengimplimentasikan upaya pemberantasan korupsi secara sistemik dan berkelanjutan. Namun, langkah itu rupanya belum cukup dan dianggap masih perlu ditingkatkan. Pasalnya, budaya korupsi masih cukup marak dan bahkan ironisnya cenderung dilakukan oleh kalangan intelektual sebagai elite politik penguasa pemangku kebijakan di berbagai aspek kehidupan.</p>
<p>Menyikapi hal itu, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kemudian mengeluarkan surat edaran tentang implementasi pendidikan Antikorupsi untuk perguruan tinggi baik negeri maupun swasta di seluruh Indonesia. Pendidikan Antikorupsi dapat dilaksanakan dalam mata kuliah wajib, pilihan, ataupun disisipkan dalam mata kuliah yang relevan.</p>
<p>Bertujuan sebagai upaya mencetak kampus atau perguruan tinggi sebagai motor penggerak dari agen perubahan terhadap gerakan Antikorupsi di tengah kehidupan masyarakat. Untuk proses pembelajaran pendidikan Antikorupsi Kemendikbud bekerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Makanya, perguruan tinggi dan mahasiswa ataupun karyasiswa dituntut harus berperan aktif mencegah maraknya korupsi di tengah masyarakat ke depannya.</p>
<p>Kepada koran ini, Prof Dr. I Wayan Rai S, selaku Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar mengatakan sangat menyambut baik program pemerintah untuk melibatkan kalangan kampus ataupun perguruan tinggi sebagai agen Antikorupsi dalam mengimplementasikan gerakan pencegahan korupsi di masyarakat. Pihaknya, telah berupaya menyisipkan pendidikan Antikorupsi dalam setiap proses pembelajaran mata kuliah yang relevan secara bertahap. Tentunya, dimulai dengan pembekalan kepada para dosen pengajar dan staf pegawai di seluruh program studi melalui kegiatan seminar, lokakarya, maupun workshop akademik secara kontinyu.</p>
<p>Menurutnya, upaya pencegahan maraknya korupsi memang harus melibatkan seluruh komponen bangsa terutama kalangan akademisi, karena dampak buruk korupsi dapat mengancam kesejahteraan masyarakat dari berbagai aspek kehidupan serta menghambat kemajuan bangsa dan negara. “Memang sudah seharusnya kalangan kampus tampil terdepan sebagai agen Antikorupsi untuk mengimplementasikan gerakan Antikorupsi di masyarakat,” katanya.</p>
<p>Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua Yayasan Dwijendra, Denpasar, Drs. Ida Bagus Gede Wiyana, yang juga selaku Ketua Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Bali. Dia mengakui sangat sedih dan prihatin dengan kondisi bangsa saat ini. Di mana sebagian besar dari para elite politik penguasa pemangku kebijakan terjerat perilaku korupsi. Padahal, sebagian besar dari mereka termasuk kalangan intelektual yang juga berasal dari lingkungan perguruan tinggi terbaik di Indonesia.</p>
<p>Maka itulah, terkait upaya implementasi gerakan Antikorupsi dengan menjadikan kampus sebagai agen Antikorupsi, pihaknya lebih menekankan pencetakan karakter bangsa melalui pendidikan budi pekerti. Terutama, proses pembelajaran mulai dari jenjang pendidikan dasar maupun menengah termasuk perguruan tinggi yang berada dalam naungan Yayasan Dwijendra. Selain itu, juga melakukan peningkatan pendalaman dharma dan spiritual religius melalui kegiatan keagamaan seperti halnya perayaan hari raya Galungan dan Kuningan saat ini. “Untuk menumbuhkan kesadaran Tuhan dalam diri masyarakat, sehingga menjadi pribadi yang lebih beriman dan bermartabat, serta berkeadaban,” tegasnya.</p>
<p>Diakuinya, memang sudah semestinya kampus dipermak lebih serius sebagai agen Antikorupsi, sehingga tidak sekadar wacana untuk kepentingan pencitraan politik semata yang cenderung bersifat sesaat. Meskipun berbagai upaya dilakukan dalam meningkatkan gerakan Antikorupsi belum mampu secara signifikan mencegah perilaku korupsi di masyarakat, setidaknya dengan menjadikan kampus sebagai agen Antikorupsi dapat mencetak karakter intelektual yang memiliki budaya malu. Ke depan, katanya, harus ada langkah berani dan lebih ekstrem bagi para pemimpin yang koruptor dari kalangan akademisi dengan mencabut gelar akademiknya, sehingga mereka kehilangan segalanya dan mendapatkan sanksi moral di masyarakat. “Rasanya inilah langkah strategis untuk memiskinkan para koruptor secara struktural ke depannya,” cetusnya.<strong> IJA-MB</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metrobali.com/2012/08/31/kampus-jadi-agen-antikorupsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rombongan Pemprov Bali ke Pura Mandara Giri Semeru Agung Lumajang</title>
		<link>http://metrobali.com/2012/07/13/rombongan-pemprov-bali-ke-pura-mandara-giri-semeru-agung-lumajang/</link>
		<comments>http://metrobali.com/2012/07/13/rombongan-pemprov-bali-ke-pura-mandara-giri-semeru-agung-lumajang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jul 2012 13:41:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sutiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan Seni & Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metrobali.com/?p=10028</guid>
		<description><![CDATA[Dalam rangka ngaturang Bhakti Penganyar Ida Bhatara Pasupati di Pura Mandara Giri Semeru Agung Lumajang Jawa Timur kamis, 12 Juli 2012 para Pemangku dan segenap Manggala Praja Provinsi Bali yang dipimpin langsung Sekda Provinsi Bali I Made Jendra, SH  melaksanakan persembahyangan bersama serangkaian upacara dimaksud. Sebelum tiba di Lumajang, rombongan juga melakukan persembahyangan di Pura [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam rangka ngaturang Bhakti Penganyar Ida Bhatara Pasupati di Pura Mandara Giri Semeru Agung Lumajang Jawa Timur kamis, 12 Juli 2012 para Pemangku dan segenap Manggala Praja Provinsi Bali yang dipimpin langsung Sekda Provinsi Bali I Made Jendra, SH  melaksanakan persembahyangan bersama serangkaian upacara dimaksud. Sebelum tiba di Lumajang, rombongan juga melakukan persembahyangan di Pura Blambangan, Muncar, Banyuwangi.</p>
<p>Di Pura Mandara Giri Semeru Agung Lumajang, persembahyangan bersama dilaksanakan tengah malam yang sebelumnya didahului dengan Dharma Wacana yang disampaikan oleh Ida Pedanda Wayahan Bun dari Griya Sanur Pejeng Gianyar dengan topik “Perkembangan Agama Hindu dari Jawa ke Bali dan Hubungan Gunung Semeru dengan Gunung Agung”.</p>
<p>Ida Pedanda Wayahan Bun dalam wejangannya menekankan,”Orang Bali harus selalu hormat dengan Bhisama Sang Hyang Pasupati, dimana secara mithologi hakekat penghormatan terhadap Sang Hyang Pasupati dengan segala manifestasinya baik di Jawa  maupun di Bali, mengandung makna persatuan dan kesatuan demi “keajegan” Bali dan Nusantara,”tegasnya dihadapan ratusan pemedek.</p>
<p>“Pemimpin Bali harus kompak, saat ini pemimpin Bali sepertinya kurang kompak,” kritik Ida Pedanda Wayahan Bun yang sangat menguasi beberapa isi prasasti terkait perkembangan Agama Hindu di nusantara mulai Kutai, Jawa Barat, Jawa Timur hingga Bali.</p>
<p>Pada hari kedua jumat 13 Juli 2012 Pukul 05.00 wib, rombongan Mangala Praja dan Sekda Provinsi Bali melanjutkan rakaian upacara sekaligus ngaturang ayah berupa tari rejang, dan bondres yang dilanjutkan  dengan persembahyangan bersama. Sekitar pukul 09.00 Wib Rombongan bertolak kembali ke Denpasar dengan 7 buah bus (**).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metrobali.com/2012/07/13/rombongan-pemprov-bali-ke-pura-mandara-giri-semeru-agung-lumajang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Upacara  Ngenteg Linggih dan Pemlaspasan  di Pura Tri Hita Karana Berlin</title>
		<link>http://metrobali.com/2012/05/16/upacara-ngenteg-linggih-dan-pemlaspasan-di-pura-tri-hita-karana-berlin/</link>
		<comments>http://metrobali.com/2012/05/16/upacara-ngenteg-linggih-dan-pemlaspasan-di-pura-tri-hita-karana-berlin/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 07:30:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Metro Politika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metrobali.com/?p=7183</guid>
		<description><![CDATA[Saniscara Wage Prangbakat 5 Mei 2012, yang bertepatan dengan rahinan Purnama Jiyesta, umat Hindu di Berlin (Jerman) melaksanakan upacara suci ngenteg linggih dan pemlaspasan Pura Tri Hita Karana, Berlin. Upacara ngenteg linggih dan pemlaspasan ini merupakan puncak dari serangkaian usaha yang diperjuangkan sejak lama oleh masyarakat Bali di Berlin yang tergabung dalam kelompok Nyama Braya [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Saniscara Wage Prangbakat 5 Mei 2012, yang bertepatan dengan rahinan Purnama Jiyesta, umat Hindu di Berlin (Jerman) melaksanakan upacara suci ngenteg linggih dan pemlaspasan Pura Tri Hita Karana, Berlin.<br />
Upacara ngenteg linggih dan pemlaspasan ini merupakan puncak dari serangkaian usaha yang diperjuangkan sejak lama oleh masyarakat Bali di Berlin yang tergabung dalam kelompok Nyama Braya Bali (NBB) Berlin untuk menfungsikan keberadaan (tadinya) Taman Tri Hita Karana yang sejak didirikan oleh pemerintah Jerman pada tahun 2003 hanya berupa objek wisata untuk memperkenalkan kebudayaan Bali kepada masyarakat Jerman yang berlokasi di taman rekreasi „Erholungspark Gärten der Welt“.<br />
Di awal musim panas tahun 2012 ini akhirnya Pura Tri Hita Karana dapat difungsikan sebagaimana layaknya sebuah pura Hindu sebagai tempat persembahyangan memuja kebesaran Ida Sang Hyang Widi Wasa. Adapun wujud pura meliputi pelinggih-pelinggih yang sudah dibangun sebelumnya oleh pihak Jerman yaitu pelinggih rong tiga, taksu, ngrurah dan surya yang dibangun di dalam sebuah kompleks taman terisolasi dengan dekorasi taman tropis a la Bali. Kehangatan cuaca trofis bisa dinikmati di sini sepanjang tahun, termasuk saat musim dingin denagn suhu di luar di bawah 0 derajat celcius. Selain itu dua pelinggih yang baru didirikan meliputi pelinggih padmasana dan penglurah. Penambahan dua banguan pelinggih akhir dapat diselesaikan tepat waktu setelah melalui proses  yang cukup panjang antara lain perijinan dari pengelola taman, penyediaan lahan, pembelian material pelinggih dan pengangkutan dari Bali.<br />
Pembelian material pelinggih dan pengirimannya ke Jerman merupakan sumbangan dari Dirjen Bimas Hindu dimana pembangunannya dilaksana secara bergotong-royong dengan mendatangkan tiga pengayah dari Bali yaitu : Agung Putradhyana (seorang arsitek), Cok Putra dan Cok Raka Bawa. Dua nama terakhir sekaligus merupakan seniman dari misi kesenian hindu yang nantinya ikut meramaikan pementasan kesenian. Di samping pengayah dari Bali pembangunan pura juga mendapat dukungan dari sponsor pihak Jerman yaitu firma Kittel, Herold dan Penta yang membantu dari awal pembersihan lahan, material banguan tambahan sampai pekerjaan finishing bangunan pelinggih. Adanya dukungan sponsor dari pihak Jerman tidak lepas juga dari usaha dan koordinasi yang tak kenal lelah oleh seorang pecinta Bali Steffen Brodt, seorang arsitek Jerman yang telah menganggap Bali sebagai tanah airnya yang kedua. </p>
<p>Jalannya Upacara  5 Mei 2012</p>
<p>Suhu udara yang dingin sekitar 10 &#8211; 12 derajat celcius sepanjang hari Sabtu 5 Mei 2012 tidak menyurutkan semangat umat Hindu dari berbagai kota di Jerman yang hadir di Berlin untuk mengikuti jalannya upacara serta  menjadi saksi upacara ngenteg linggih dan pemlaspasan yang dipimpin oleh Ida Pedanda Gede Putra Yoga dari Grya Tunjuk, Marga, Tabanan, dibantu oleh Jero Mangku Nyoman Sudarsa dari Dusun Geluntung Kelod Desa Petiga Marga Tabanan. Upacara ini dihadiri juga oleh beberapa tokoh Hindu dari Bali antara lain Prof. Yudha Triguna (Dirjen Bimas Hindu), I Ketut Lancar (Direktur Urusan Agama Hindu), Prof. Made Titib (Rektor IHDN Denpasar) dan Prof. Wayan Wita (dosen senior UNUD Denpasar). </p>
<p>Runtutan upacara secara keseluruhan meliputi upacara mecaru, mendem pedagingan, pemelaspasan, dan ngeteg linggih. Mendem pedagingan dimulai dari  pelinggih padmasana oleh Prof. IBG Yudha Trigun dilanjutkan dengan pelinggih penglurah oleh I Ketut Lancar SE, Msi kemudian di pelinggih rong tiga (tri murti) kembali oleh Prof. IBG Yudha Triguna, lalu di pelinggih taksu dan penglurah yang lama yang ada dalam kompleks taman oleh Prof. I Made Titib. Prosesi mendem pedagingan diakhir oleh Prof. Wayan Wita dan Ni Ketut Warsini (dari NBB Berlin) di pelinggih Surya Siwa Reka.</p>
<p>Di tengah-tengah prosesi persembahyangan bersama yang diawali dengan puja mantram dipimpin oleh Ida Pedanda juga dilakukan upacara pewintenan  atas Ida Ayu Anom yang nantinya dipercaya menjadi pemangku di pura Tri Hita Karana dengan didampingi pengabih Ni Ketut Warsini.</p>
<p>Sebagai bagian dari prosesi upacara ditampilkan tarian-tarian ritual agama Hindu seperti tari Rejang Dewa, Baris Gede (Baris Kul-kul), Topeng Sidakarya dan Bebondresan yang dibawakan oleh grup Misi Kesenian Hindu dari Universitas Hindu Indonesia, Denpasar. Khusus untuk tari Rejang Dewa ikut pula menari dua penari belia berusia 9 tahun yang merupakan putri anggota NBB Berlin. Adapun kehadiran Misi Kesenian Hindu dari UNHI Denpasar tidak lepas dari dukungan Direktorat Bimas Hindu di Jakarta yang memfasilitasi misi perjalanan ini  sebagai upaya menjalin dialog keagamaan dan kebudayaan dalam hal ini Hindu Bali dengan masyarakat Eropa. Misi kali ini selain dilakukan di Jerman juga di Belgia dan Belanda. Di Berlin selain tampil di Pura Tri Hita Karana mereka juga melaksanakan pementasan di Museum Ethnologi Berlin.</p>
<p>Setelah prosesi upacara dan persembahyangan disampaikan darma wacana oleh Prof. I Made Titib yang merupakan rektor Institut Hindu Dharma Negei Denpasar. Beliau memaparkan makna pelinggih padmasana sebagai sarana pemujaan Hyang Widhi Wasa dan arti upacara ngenteg linggih itu sendiri. Juga disampaikan perlunya umat hindu untuk terus menumbuhkembangkan nilai-nilai hindu serta perlunya menjalin dialog dengan kelompok agama/budaya lain untuk menumbuhkan rasa saling pengertian. Dalam hal ini penting sekali peranan umat Hindu yang tinggal di luar Indonesia.  Beliau juga menyampaikan rasa bangga dan salutnya atas usaha yang ditunjukan oleh masyarakat hindu di Berlin dan Jerman pada umumnya dalam peran aktifnya menyampaikan misi ini ke masyarakat Jerman. Ditekankan pula perlunya selalu menjaga kekompakan menyama-braya di kalangan masyarakat Bali di Berlin, apalagi dengan adanya tambahan kewajiban sebagai pengemong pura Tri Hita Karana ini. </p>
<p>Pementasan Kesenian Bali </p>
<p>Setelah diselingin dengan istirahat makan siang acara dilanjutkan dengan prosesi mepeed dimana orang Jerman menyebutnya dengan Tempel-Umzug. Dimana para semeton Hindu yang hadir berjalan mengelilingi area pura dengan menyungsung prani (sesajen) yang diikuti riuh rendah musik baleganjur. Parade ini mendapat perhatian yang besar di bawah jepretan ratusan ratusan kamera pengunjung yang membuat suasana semakin mirip upacara melasti di Bali.</p>
<p>Sebagai sumbangsih tanda terimakasih dari pihak Nyama Braya Bali di Berlin kepada pihak pengelola taman wisata Gärten der Welt Berlin dipentaskan tari-tarian dari UNHI di atas panggung yang telah disediakan yang dimulai dengan tabuh lelambatan Gasuri dengan dipimpin oleh dosen kerawitan dari UNHI I Ketut Gede Rudita. Sebagian besar tarian-tarian yang ditampilkan merupakan tari klasik Bali seperti: Gabor, Kebyar Duduk, Oleg Tambulilingan, Legong Kuntul dan tari kreasi Belibis. Satu-satunya penari yang bukan dari UNHI adalah Ketut Edi yang datang langsung dari Belanda membawakan tari Teruna Jaya. Pementasan acara hiburan ini mendapat sambutan yang sangat meriah. Walaupun cuaca sempat diselingi hujan gerimis, hal ini tidak menyrutkan minat pengunjung untuk mengikuti acara sampai selesai.</p>
<p>Di sela-sela pementasan acara diselingi dengan penyampaian sambutan dari pihak taman Gärten der Welt, dari pemerintah Indonesia (KBRI Berlin), dan dari Dirjen Hindu. Manajer Gärten der Welt Beate Reuber dalam sambutannya menyatakan kegembiraan luar biasa dengan penyelenggaraan prosesi pemlapasan yang merupakan bagian dari Balinese Temple Festival dalam rangka perayaan ulang tahun ke-25 taman tersebut.  Dia yang awalnya skeptis dengan usaha yang dirintis oleh masyarakat Bali di Berlin akhirnya menyampaikan rasa salutnya atas keberhasilan pembanguna pura Tri Hita Karana. &#8220;Hari ini Nyama Braya Bali telah berhasil menarik warga Jerman untuk melihat dan mempelajari lebih terperinci dan memperoleh wawasan berharga tentang Bali. Ini pengalaman luar biasa, tidak saja bagi saya tetapi juga masyarakat Jerman pengunjung taman ini,&#8221; demikian petikan sambutan Ibu Beate Reuber yang di sampaikannya dalam bahasa jerman. </p>
<p>Sambutan dari pihak pemerintah Indonesia yang dibacakan oleh Kuasa Usaha ad Interim Diah Rubianto mewakili Duta Besar RI untuk Republik Federal Jerman yang berhalangan hadir saat itu, menyampaikan bahwa prosesi penyucian pura Tri Hita Karana di taman Gärten der Welt tersebut telah membuka dimensi baru mengenai budaya Bali dan keberadaan budaya Indonesia di Jerman.  &#8220;Suatu penghormatan tak terhingga, bukan saja untuk masyarakat Bali di Jerman, tetapi Indonesia secara keseluruhan mengingat hal ini merupakan manifestasi dari keragaman agama dan budaya Indonesia, yang telah menjadi aset Indonesia paling bernilai,&#8221;. Lebih lanjut sambutan Ibu Diah Rubianto yang di sampaikannya dalam bahasa inggris menyambut baik upacara ngenteg linggih dan pemlaspasan yang di lengkapi dengan pementasan tari-tarian bali yang merupakan bagian dari diplomasi untuk memperkokoh pondasi persahabatan masyarakat Indonesia-Jerman yang berbeda latar belakang budaya. </p>
<p>Sambutan lainnya disampaikan oleh Dirjen Hindu Indonesia bapak Professor Dr. Yudha Triguna yang mewakili Umat Hindu di Indonesia serta mewakili Kementerian Agama RI dan Pemerintah Daerah Bali yang sambutannya disampaiakan dalam bahasa indonesia dan diterjemahkan kedalam bahasa jerman oleh moderator acara Gusti Ayu Aryani Kriegenburg menyampaikan rasa terimakasih kepada pihak pengelola taman Gärten der Welt yang telah memberikan ijin untuk melaksanakan upacara ngenteg linggih dan pemlaspasan. Disampaikan pula agar umat Hindu di Berlin dan di Jerman untuk ikut serta merawat Pura Tri Hita Karana, dan berharap keberadaan Pura Tri Hita Karana bisa menjadi pemersatu umat Hindu yang ada di Jerman dan mempertebal keyakinan akan kehinduannya walaupun merantau hingga ke Jerman.</p>
<p>Serangkaian acara hiburan akhirnya ditutup dengan pementasan drama tari yang sangat popular di Bali, Calonarang. Walaupun cukup asing di kalangan publik Jerman, kisah klasik tentang pergulatan antara kebaikan dan kejahatan yang sangat digemari di Bali ini, bisa diikuti dan dimengerti oleh penonton dengan latar belakang budaya berbeda. Hal ini tak lepas dari kepiawaian para pemain yang membuat sekat-sekat bahasa dan budaya menjadi hilang. Diselingi dengan pemakaian bahasa Inggris (bercampur Bali), para pemain punakawan berhasil mengocok perut penonton yang sekali-sekali diselingi aksi slapstick di atas panggung. Seakan tidak memperdulikan dinginan cuaca, para penari dan penabuh dengan fokus dan profesional menunjukan keliahiannya yang pada akhir pementasan mendapat aplaus dari ratusan penonton yang setia mengikuti acara sampai selesai.<br />
Sekitar jam 19:00 waktu setempat akhirnya semua rangkaian acara berakhir yang ditutup dengan persembahyangan bersama dimana rombongan misi kesenian seterusnya melanjutkan  perjalanan ke Brussel, Belgia.</p>
<p>*Sebagaimana dilaporkan oleh I Ketut Santrawan, panitia Upacara Ngenteg Linggih Pura Tri Hita Karana Berlin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metrobali.com/2012/05/16/upacara-ngenteg-linggih-dan-pemlaspasan-di-pura-tri-hita-karana-berlin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
