Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

BPBD Badung Minta Warga Pesisir Selatan Tidak Terkecoh Sirine Simulasi Tanda Tsunami

Metro Bali
single-image

BPBD Badung

Mangupura (Metrobali.com)-

Jika sirine tanda tsunami tiap tanggal 26 setiap bulan berbunyi, dimana setiap tanggal tersebut memang agendanya adalah pengecekan terhadap alat tersebut, diharapkan masyarakat tidak terkecoh.

Masyarakat terutama yang tinggal di kawasan pantai Kab.Badung yang mendengar bunyi sirine tanda adanya tsunami pada tanggal 26 tersebut, diharapkan tidak serta merta lari dan bersembunyi, sebab jika berbunyi selain dari tanggal itu diperkirakan tsunami berskala 7 hingga 9 Skala Richter benar terjadi.

Kepala BPBD Kab.Badung, Nyoman Wijaya menjelaskan, setiap tanggal 26 tiap bulan, memang merupakan waktu berkala uji coba sirine yang dibunyikan terkait kesiapsiagaan bencana tsunami.

“Apabila sirine tersebut berbunyi selain tanggal 26 itu dan disertai gempa bumi yang berkekuatan 7-9 Skala Richter. Itu merupakan bahaya tsunami,” tutur Wijaya.

Lanjut Wijaya, masyarakat sendiri sudah tahu apabila sirine tersebut berbunyi tanggal 26, itu artinya uji coba. Karena sirine tersebut memang tidak bisa dimainkan. Dimana yang bertugas membunyikan tersebut, adalah khusus dari Pusdalops Propinsi Bali.

“Yang kita harap masyarakat sendiri tidak terkecoh jika sirine tersebut dibunyikan tanggal 26, namun ternyata benar ada ancaman tsunami. Kendati memang sudah ada tanda gempa bumi,” ungkap Wijaya.

Sebab, lanjut Wijaya. Tidak ada kekhususan bunyi sirine sebagai pembeda uji dengan bunyi tsunami sebenarnya.

“Untuk sementara memang belum ada pembeda, tapi kedepan itu bisa dimasukan usulan,”imbuh Wijaya.

Sementara itu, Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kab.Badung, Wayan Netra menambahkan. Alasan dibunyikannya sirine setiap tanggal 26 pada jam 10 pagi oleh BPBD Propinsi, karena mengambil historis waktu yang sama saat kejadian tsunami di Aceh yaitu tanggal 26 jam 10 tahun 2004.

“Spesifik bunyi sirinenya bila uji coba adalah volume suaranya yang diperkecil dari suara semula, dan ada nada setelah bunyi sirine, yang menerangkan sebagai ujicoba. Untuk bahasanya disediakan dalam dua versi, yaitu Inggris dan Indonesia. Durasi bunyinya cuman 1 menit,” ungkap Netra.

Baca Juga :
Wagub Sudikerta Minta Masyarakat Jaga Kerukunan Umat Beragama

Lanjut Netra, kalau berbunyi pas kejadian tsunami sebenarnya volumenya lebih keras yang mencapai radius 6 Km, yang menyebar ke kiri 3 km dan ke kanan 3 km. Yang disebar dibeberapa titik kawasan pantai, sehingga jika sirine berbunyi di Tanjung Benoa, maka akan cukup keras di dengar sampai ke Tuban. SIA-MB

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.