Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

BNPB Sebut 584 Desa di Selatan Jawa Rawan Tsunami

Metro Bali
single-image

Kecamatan Labuan, Pandeglang, provinsi Banten pasca dilanda tsunami 26 Desember 2018 lalu (Foto: Antara).

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan melakukan ekspedisi “Desa Tangguh Bencana 2019,” menyusuri beberapa daerah di pulau Jawa yang berpotensi dilanda tsunami, mulai dari Provinsi Jawa Timur hingga Provinsi Banten. BNPB menyatakan terdapat 5.744 desa rawan tsunami, 584 di antaranya berada di bagian selatan Pulau Jawa.

Direktur Pemberdayaan Masyarakat BNPB Lilik Kurniawan menjelaskan ekspedisi “Desa Tangguh Bencana 2019” dalam jumpa pers di kantornya, Rabu (10/7). Ekspedisi menyusuri beberapa daerah di selatan Pulau Jawa yang berpotensi dilanda tsunami itu akan dimulai 12 Juli dari Banyuwangi di Jawa Timur, ke Jawa Tengah, Yogyakarta, kemudian Pangandaran, dan Garut di Jawa Barat, berakhir di Anyer, Banten, pada 16 Agustus 2019.

“Kita akan melewati 584 desa yang rawan tsunami. Di Indonesia itu ada 5.744 desa yang rawan tsunami, 584 desa itu ada di selatan Jawa. Ini menjadi hal yang penting kenapa kita lakukan (ekspedisi) di Jawa, karena dari 584 desa tadi ada kurang lebih 600 ribu masyarakat kita yang tinggal di desa-desa itu, yang rawan tsunami,” ujar Lilik.

Lilik mengatakan ekspedisi ini bertujuan memotret kesiap-siagaan atau program tiga pencegahan desa terhadap ancaman tsunami: mencegah jangan sampai bencana terjadi, namun dalam konteks gempa dan tsunami, tidak bisa dicegah; dan mencegah jangan sampai masyarakat tinggal di daerah rawan gempa dan tsunami.

Pencegahan kedua, diakui Lilik, tidak mudah karena sulit merelokasi penduduk yang sudah terlanjur tinggal di wilayah rawan bencana.

Pencegahan ketiga adalah jangan sampai ada korban kalau terjadi bencana.

Jumpa pers di kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Rabu (10/7) . (Foto: VOA/Fathiyah)
Jumpa pers di kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Rabu (10/7) . (Foto: VOA/Fathiyah)

Ekspedisi tersebut melibatkan BNPB, kementerian terkait, pemerintah daerah, relawan masyarakat, lembaga usaha, perguruan tinggi, akademisi, pakar, dan media.

Baca Juga :
Kapolda Bali Ajak Masyarakat Ciptakan Kamtibmas

Melalui Ekspedisi Desa Tangguh Bencana, lanjut Lilik, BNPB akan mengecek apakah 584 desa rawan tsunami itu sudah memiliki sirene peringatan tsunami, tempat evakuasi, dan jalan dan rambu menuju lokasi evakuasi. Dia menegaskan pendidikan bagi masyarakat di 584 desa rawan tsunami itu dan pelancong sangat penting karena wilayah selatan Jawa merupakan daerah wisata.

Di samping itu, menurut Lilik, edukasi mengenai cara evakuasi juga akan diberikan di lebih dari 200 sekolah di wilayah selatan Jawa yang rawan tersapu tsunami. Edukasi juga akan diberikan di masjid, pasar, dan tempat-tempat umum lainnya.

BNPB juga akan menggandeng perguruan-perguruan tinggi di Jawa untuk melakukan Kuliah Kerja Nyata di wilayah rawan tsunami.

Lilik menambahkan ekspedisi akan terbagi dalam empat tahapan. Pertama di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa barat, dan Banten. Masing-masing tahapan akan diikuti 200 peserta dari beragam unsur.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Rahmat Triyono membenarkan wilayah selatan Jawa rawan gempa dan tsunami. Dia menambahkan BMKG di berbagai daerah akan terlibat langsung dan mengikuti Ekspedisi Desa Tangguh Bencana. BMKG akan memberi informasi mengenai tingkatan peringatan tsunami dan produk-produk informasi dari BMKG sehingga masyarakat bisa mendapat informasi secara cepat dan valid.

Menurut Rahmat, terdapat catatan sejarah tsunami pernah terjadi di Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat, dan Banten. BMKG juga akan membuat skenario kalau tsunami terjadi di suatu wilayah, supaya masyarakat dapat memahami cara melakukan evakuasi dengan cepat dan tepat.

“Kadang ada daerah tertentu yang waktu tibanya tsunami itu lebih cepat dari peringatannya. Namun kalau di selatan Jawa, tentunya kami yakini lebih cepat peringatannya daripada tsunaminya itu sendiri. Tapi ada daerah-daerah tsunaminya itu datang, baru peringatan dininya menyusul,” ungkap Rahmat.

Baca Juga :
Abaikan Arsitektur Bali, Dewan Kecam Telkomsel

Dia mencontohkan Kepulauan Mentawai di Sumatera Barat, di mana sumber gempa sangat dekat sehingga tsunami datang sebelum BMKG mengeluarkan peringatan dini. Karena itu, lanjut Rahmat, penduduk di daerah-daerah seperti Kepulauan mentawai, harus diberikan edukasi untuk melakukan evakuasi mandiri tanpa harus menunggu peringatan dini dari BMKG.

Rahmat mengakui bahwa ada daerah-daerah yang memiliki kearifan lokal sehingga mampu menyelamatkan penduduknya dari ancaman tsunami yang datang. Dia mencontohkan penduduk di Pulau Simeulue yang selamat saat tsunami menghantam Aceh pada 2004. [fw/ka] (VOA Indonesia)

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.