Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Biaya Produksi Perkebunan Cengkeh Capai Ro 21,6 Juta

Metro Bali
single-image

produksi cengkeh

Denpasar (Metrobali.com)-

Biaya produksi usaha perkebunan cengkeh di Bali atas lahan seluas satu hektare mencapai Rp21,6 juta hektare setiap tahunnya, hampir sama dengan komoditas kakao dan kopi.

“Biaya pengeluaran tersebut paling bwsar untuk tenaga kerja sebesar 56,34 persen,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali Panasunan Siregar di Denpasar, Jumat (26/12).

Ia mengatakan, data tersebut diperoleh dari hasil sensus pertanian tahun 2013 yang dilakukan secara rinci terhadap komoditas perkebunan cengkeh, kakao dan kopi.

Biaya tenaga kerja untuk pengembangan dan perawatan cengkeh itu paling besar untuk membiayai proses pemanenan yang mencapai 36,68 persen dari seluruh total biaya.

Panasunan Siregar menambahkan, sedangkan rata-rata biaya usaha perkebunan kakao dalam luasan yang sama hanya Rp12,3 juta per hekare setiap tahun.

Biaya pengeluaran paling besar juga untuk tenaga kerja yang mencapai 59,35 persen, dengan jenis kegiatan terbesar pada proses panenan yang mencapai 24,41 persen dari seluruh total biaya.

Demikian juga untuk untuk biaya produksi perkebunan kopi mencapai Rp14,4 juta per hektare setiap tahunnya.

Pengeluaran paling besar untuk membiayai tenaga kerja yang mencapai 44,44 persen, dengan jenis kegiatan untuk proses pemanenan yang mencapai 18,28 persen dari seluruh total biaya.

Panasunan Siregar menjelaskan, hasil sensus pertanian 2013 itu dinilai sangat penting, salah satu diantaranya mendorong terwujudnya kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.

Hal itu dilakukan dengan membangun kedaulatan pangan, mewujudkan kedaulatan energi, penguatan teknologi melalui kebijakan penciptaan dan sistem inovasi nasional.

BPS melaksanakan sensus pertanian setiap sepuluh tahun sekali sesuai amanat Udang-Undang nomor 16 tahun 1967 untuk melakukan pencatatan bidang pertanian secara lengkap.

Untuk itu dalam sensus pertanian 2013 juga menyangkut survei pendapatan rumah tangga usaha pertanian tahun 2013 dan 2014 sebagai rangkaian terakhir dari kegiatan tersebut, ujar Panasunan Siregar. AN-MB 

Baca Juga :
Lelang 8 Kursi Jabatan Eselon II Pemkot Denpasar Resmi Dibuka

activate javascript

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.