Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Bali Memiliki Beragam Bentuk Pertunjukan

Metro Bali
single-image

Denpasar (Metrobali.com)-

Pengamat seni budaya Bali Kadek Suartaya menilai masyarakat di delapan kabupaten dan kota Bali memiliki beragam bentuk seni pertunjukan sesuai dengan ciri khas daerah masing-masing.

“Keberagaman ekspresi seni pertunjukan itu. antara lain berupa seni tari, karawitan, dan pedalangan,” kata Kadek Suartaya, S,S.Kar., M.Si. yang juga dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Minggu (26/1)

Kandidat doktor Kajian Budaya Universitas Udayana itu mengutarakan bahwa pada tahun 1970–1980 merupakan era kejayaan sendratari di tengah masyarakat Pulau Dewata.

Situasi ekonomi yang mulai pulih dan kondisi politik yang relatif stabil menciptakan korelasi erat antara dunia seni dan masyarakat.

Selain sendratari, arja, drama gong, dan tari kebyar juga mengemuka menjadi seni pentas primadona penonton. Tari klasik legong sebagai seni pertunjukan unggulan warisan zaman kejayaan kerajaan juga kembali memancarkan pesonanya.

Demikian pula, kata Kadek Suartaya–seniman serba bisa kelahiran Sukawati, Kabupaten Gianyar–,wayang kulit dalam posisinya sebagai seni tontonan menampilkan dirinya sebagai pertunjukan yang karismatik.

Bahkan ,ketika posisi Bali makin mantap sebagai daerah tujuan wisata mancanegara pada tahun 1970–1980, sendratari Ramayana menjadi salah satu seni pertunjukan turistik yang khusus dipentaskan untuk pelancong.

Selain barong dan kecak yang sudah dikemas khusus sebagai seni pentas wisata, ada pula upaya-upaya komersialisasi seni pertunjukan sakral sebagai tontonan turis.

Suartaya menjelaskan, sebagai langkah pencegahan desakralisasi di tengah masyarakat dalam menghadapi dunia kepariwisataan, Pemerintah Provinsi Bali pada bulan Meret 1971 menggelar Seminar Seni Sakral dan Profan Bidang Tari.

Eksistensi kesenian Bali mendapat dukungan yang kuat dari organisasi sosial banjar dan bale banjar (balai pertemuan di masing-masing dusun) kembali menjadi arena pengayom seni yang signifikan.

Baca Juga :
KPU Plenokan DPT, Panwaslu Ingatkan Adanya Black Campaign

“Di masing-masing desa adat itulah nilai-nilai seni dilestarikan, dikembangkan, didiskusikan, dan diapresiasi. Kecintaan pada jagat seni dan keterampilan warga banjar dalam bidang seni banyak terasah dari aktivitas seni yang berpusat di arena bangunan umum milik banjar tersebut,” tutur Kadek Suartaya. AN-MB

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.