Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Badung Komit Lestarikan Arsitektur Tradisional Bali, Gde Agung: Arsitektur Bali Turut Mempertahankan Taksu Badung

Metro Bali
single-image

Denpasar  (Metrobali.com)-

Komitmen Bupati Badung Anak Agung Gde Agung, dalam menjaga dan melestarikan  Budaya terutama  Arsitektur Tradisional Bali melalui kebijakan strategisnya yang begitu tegas, menertibkan bahkan mengeksekusi sejumlah bangunan hotel yang tidak berarsitektur Bali, serta  senantiasa menjaga kelestarian bangunan  seperti keberadaan Pura Taman Ayun yang penataannya dengan mengikuti kaidah-kaidah konservasi dengan melakukan Restorasi dan Pembangunan Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung yang mengadopsi secara penuh konsepsi Arsitektur tradisional bali yang dikenal dengan Tri Angga dan Tri Mandala ini, cukup menjadi alasan bagi Panitia Seminar Nasional Ikatan Arsitek Indonesia menjadikan sosok Bupati Badung sebagai salah satu pembicara kunci pada seminar yang dilaksanakan di Hotel Werdhapura Sanur, Sabtu (21/9) lalu.
Bupati Gde Agung pada awal paparannya mengungkapkan, bahwa keberadaan gedung dan bangunan yang menggunakan arsitektur bali merupakan salah satu wujud mempertahankan nilai nilai Tri Hita Karana, oleh karenanya ini tentu akan turut mmemberikan andil yang amat sangat besar bagi Bali dan Kabupaten Badung yang menjadi tujuan Pariwisata utama di Bali.
Lebih lanjut Gde Agung mengatakan, bahwa menyadari demikian pentingnya keberadaan arsitektur tradisional Bali bagi keberlanjutan pariwisata, maka untuk mereview permohonan Ijin Mendirikan Bangunan di Kabupaten Badung telah dibentuk Tim  Ahli Bangunan dan Gedung (TABG)  yang bertugas untuk memastikan digunakannya arsitektur Tradisional Bali” katanya.
“Kesadaran untuk terapkan arsitektur Bali ini penting disadari dan didukung semua pihak sebagai upaya pelestarian budaya dan untuk peryahankan taksu daerah yang menjadi sumber kekuatan pariwisata Bali dan Badung. ditekankannya bahwa bangunan dengan arsitektur Bali ini dapat dibangun dimana saja namun tidak akan sama dengan di bali taksunya. Hal ini karena di Bali  aspek unsur-unsur Tri Hita Karana menyatu dengan eksistensi bangunan yang mengadopsi Tri Angga dan Tri Mandala. sehingga unsur prahyangan, pawongan dan palemahannya terwujud dan menciptakan harmoni serta memancarkan Taksunya.” Tegas Gde Agung.
Bupati Gde Agung dalam seminar Nasional yang dibuka secara langsung oleh Rektor Universitas  Dwijendra Ketut Wirawan ini dihadiri Ketua Yayasan Dwijendra I.B. Wiyana, para pejabat dari lingkungan Pemerintah Kab. Badung dan Kota Denpasar tersebut juga mengatakan bahwa perkembangan pembangunan Arsitek Tradisional Bali yang begitu adiluhung yang diwarisi para leluhur Bali dengan gaya keHinduaanya dapat bersaing dengan baik dan bijak dalam era teknologi global di era kekinian telah diwujudkan dalam pembangunan Pemerintah kabupaten Badung. Dengan konsep Tri Hita Karena yang melekat dalam nafas pembangunan baik fisik maupun non fisik dalam kehidupan masyarakat Badung dan Bali tetap ajeg. Ditegaskannya bahwa Perkembangan Arsitek Tradisional Bali saat ini dinilai telah mampu memacu kehidupan perekonomian kreatif yang bernafaskan kehidupan masyarakat pariwisata di Badung dan Bali ini harus kita jaga bersama agar Arsitek Tradisional Bali yang kita miliki tetap lestari dalam jiwa insan generasi mendatang. Namun demikian diakui ternyata belum semua pihak mematuhinya. untuk itu perlu kesadaran dan dukungan bersama seluruh komponen baik masyarakat, pemerintah, dunia usaha termasuk kalangan perguruan tinggi.” tegasnya. PUT-MB
Bagikan :
Baca Juga :
Bali Lestarikan Kawasan Konservasi Laut Nusa Penida

Leave a Comment

Your email address will not be published.