Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Anas “Wisanggeni” Ter-Gugat”

Metro Bali
single-image

anas-urbaningrum

Oleh: Ngurah Karyadi

Seperti Wisanggeni, begitulah nasib Anas Urbaningrum. Sebuah lakon yang dia tulis sendiri dalam: “Janji Kebangsaan Kita”. Buku ini meluncur kepada publik, Jum’at, 17 Januari 2014, besamaan dengan peluncuran “Semua Ada Pilihan” SBY, sang Betara Guru-nya. Kini. Kini Anas (dan Andi “Antasena” Malanggreng) Ter-Gugat, di “Rumah Tahanan Guntur” milik TNI yang dipinjam KPK, menjelang perang “Bratayuda” Pemilu 2014.

Wisanggeni adalah nama seorang tokoh pewayangan yang tidak terdapat dalam wiracarita Mahabharata. karena merupakan tokoh asli ciptaan pujangga lokal (Jawa). Dikenal sebagai putra Arjuna yang lahir dari seorang bidadari bernama Batari Dresanala, putri Batara Brahma. Wisanggeni merupakan tokoh istimewa dalam pewayangan Jawa. Dikenal pemberani, tegas dalam bersikap, serta memiliki kesaktian luar biasa. Namun nasibnya sama dengan Antasena, yang ditahan di “Rantai Emas” milik Dewi Prabasini dan ‘moksa’ sebelum perang Bratayuda.

Kelahiran
Kisah kelahiran dan karier politik Anas,  diawali dengan kecemburuan Raden  “Ibas” Dewasrani, putra Batari “Ani” Durga terhadap Raden “Aji” Arjuna yang telah menikahi Batari “Angelina” Dresanala, bidadari dan putri kahyangan. Raden Ibas merengek kepada ibunya supaya memisahkan perkawinan mereka. Durga pun menghadap kepada suaminya, yaitu Batara Guru, raja para dewa.

Atas desakan Durga, Batara Guru pun memerintahkan agar Batara Brahma menceraikan Raden Aji dan Dewi Angelina. Keputusan ini ditentang oleh Batara Suburbudi Narada, yang merupakan penasihat Batara Guru. Ia pun mengundurkan diri dan memilih membela Aji -dari pertapaanya, Universitas Indonesia.

Brahma yang telah kembali ke kahyangannya, segera menyuruh Aji pulang ke alam dunia dengan alasan Angelina hendak dijadikan Batara Guru sebagai penari di berbagai pentas kahyangan, di Riau ataupun di  Hambalang. Aji  pun menurut tanpa curiga. Setelah Aji pergi, Brahma pun menghajar Dewi Angelina untuk mengeluarkan janin yang dikandungnya, secara paksa.

Baca Juga :
Ciptakan Tertib Administrasi Kependudukan, Kelurahan Sesetan dan Sumerta Gelar Sidak, Jaring 63 Duktang

Angelina pun melahirkan sebelum waktunya. Durga dan Ibas datang menjemput dan menyeretnya ke sangar emas KPK -takut kiriman apel malang dan amerika ke istana bocor. Sementara Brahma membuang cucunya sendiri yang baru lahir itu ke dalam kawah Gunung Merapi (Candradimuka). Diiringi letusan hebat, sampe menghempas sang penjaga, Mbah Marijan.

Batara Suburbudi diam-diam terus  mengawasi semua kejadian tersebut. Ia pun membantu bayi tersebut keluar dari kawah. Secara ajaib, bayi itu telah tumbuh menjadi seorang pemuda. Diberinya nama Anas “Wisanggeni” Urbaningrum, Wisanggeni yang bermakna “racun api”. Hal ini dikarenakan ia lahir akibat kemarahan Brahma, sang dewa penguasa api. Selain itu, api kawah Candradimuka bukannya membunuh justru menghidupkannya.

Atas petunjuk Batara Suburbudi, Anas pun ikut sayembara di kahyangan. Tidak ada seorang pun yang mampu menangkap dan menaklukkannya, karena ia berada dalam perlindungan Nyi Ageng, mertua Batara Guru. Batara Guru dan Batara Brahma akhirnya bertobat dan mengaku salah. Batara Suburbudi pun akhirnya bersedia kembali bertugas di kahyangan.

Anas kemudian datang ke Partai Kerajaan, yang meminta kepada Raden Aji supaya diakui sebagai anak, dan diberikan kesempatan ikut sayembara pemilihan ketua. Semula Raden Aji menolak karena tidak percaya begitu saja. Terjadi perang tanding di mana Anas dapat mengalahkan Aji dan anggota partai kerajaan lainnya. “Banyak anggota partai di suap, dari uang berbagai proyek kerajaan,” kicau burung Nazar(udin) ramai di twiter.

Setelah Anas menceritakan kejadian yang sebenarnya, Aji pun berangkat menuju Kerajaan Tunggulmalaya, tempat tinggal Angelina. Melalui pertempuran seru, ia berhasil bertemu Angelina. Namun, Angelina harus menjalani hukuman di sangkar emas KPK, karena ikut embat duit berbagai proyek kerajaan. Raden Aji sock, dan tidak bisa berbuat apa-apa sampai akhir hayatnya.

Baca Juga :
Satu lagi siswa sekolah polisi di Padang positif COVID-19

Sifat dan kesaktian
Secara fisik, Anas digambarkan sebagai orang yang baik, meski terkesan angkuh. Namun hatinya baik dan suka menolong. Ia  tinggal di dunia dan membesarkan partai  kerajaan, hanya sesekali ke kahyangan Sanghyang Wenang, leluhur para dewa. Dalam hal berbicara, Anas selalu menggunakan basa krama (bahasa halus) kepada siapa pun, apalagi pada Betara Guru dan Nyi Ageng -Sanghyang Wenang.

Kesaktian Anas dikisahkan melebihi putra-putri partai kerajaan lainnya, misalnya Alireja, Andisena, Abibas, ataupun Gatot Batugana. Sepupunya yang setara kesaktiannya hanya Andisena saja. Namun bedanya, Andi bersifat polos dan lugu, sedangkan Anas cerdik dan penuh akal.

Menjelang meletusnya perang Baratayuda, Anas dan Andi naik ke Kahyangan Alang-alang Kumitir meminta restu kepada Betara Guru dan Nyi Ageng, Sanghyang Wenang sebelum mereka bergabung di pihak partai kerajaan. Akan tetapi, Betara Guru dan Nyi Ageng -Sanghyang Wenang- telah meramalkan, pihak partai kerajaan justru akan mengalami kekalahan bila Anas dan Andi ikut perang Bratayuda Pemilu 2014. Maka dibuatlah konvensi partai kerajaan, sebagai jalan pintas angkat popularitas dengan mengundang figur alternatif, dan sekaligus jembatan bagi tampilnya “anak emak(s)” untuk itu.

Akhirnya, Anas dan Andi diputuskan untuk tidak kembali ke perkemahan partai kerajaan. Semula Anas memaksa, bahkan bikin pasukan khusus PPI, dalam memenuhi “Janji Kebangsaan Kita”, seperti  telah ditulisnya. “Namun, karena berbagai rekayasa Betaru Guru, yang membuat Anas (dan Andi) sebagai Tergugat atas penyimpangan proyek kerajaan di Hambalang, dan lain-lain” kata salah satu anggota PPI, berkilah.

Keduanya dijadikan tumbal demi kemenangan partai. Mereka kini mengheningkan cipta dalam “Rantai Emas” milik TNI yang dipinjam KPK. “Mudah-mudahan keduanya  mencapai moksa, musnah bersama jasad mereka, dan sejarahnya pun akhirnya dilupakan,” begitu mungkin harapan Betara Guru, seperti tersirat dalam buku: Semua Ada Pilihan. (***)

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.