banner-website-2-x-16cm

Widgetized Section

Go to Admin » Appearance » Widgets » and move Gabfire Widget: Social into that MastheadOverlay zone

Pilkada Bali, Media dan Netizen Berfungsi Kontrol Berita ‘Hoaks dan Konten Negatif’

Wakapolresta Denpasar AKBP Nyoman Artana

Denpasar. (Metrobali.com)-

Menyikapi pemberitaan di media daring khususnya jelang Pilkada Serentak 2018 di provinsi Bali, Polresta Denpasar meminta media baik online, cetak, elektronik dan netizen untuk berhati-hati dalam membuat pemberitaan.
Wakapolresta Denpasar AKBP Nyoman Artana mengatakan, pihaknya sengaja mengumpulkan media baik online, elektronik maupun cetak termasuk netizen (orang yang menggunakan media sosial/daring) untuk menyikapi perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang ada saat ini.
“Sekarang ini jamannya jaman now, kita semua harus paham. Sudah ada lingkungan itu tapi bidangnya berbeda jadi perlu diberikan informasi. Di kalangan netizen semua bebas berbicara tetapi ada juga orang yang memanfaatkan disitu yang membuat informasi berbeda, sehingga membuat provokasi. Atau sekarang itu seperti memberikan sesuatu yang berbeda dengan faktanya (hoax),” ucapnya di Gedung Serbaguna, Polresta Denpasar, Jumat (9/2).
Peran netizen, katanya diharapkan mampu meluruskan pemberitaan yang tidak benar. Maksud kegiatan ini katanya, untuk mengantisipasi potensi kerawanan berita hoaks dan konten negatif di medsos dalam rangka menghadapi pilkada serentak.
Meminimalisir terjadinya isu-isu provokatif terkait Sara agar tidak berkembang menjadi konflik sosial dalam pelaksanaan Pilkada serentak 2018 di media sosial/dunia maya.
“Sekarang saja kita melihat berita yang ada di media sosial itu terkait kita di Bali, bagaimana satu tokoh di Pilkada ini sudah mulai tensinya sudah naik sedikit. Temen-temen media mungkin itu sumber berita bagi media tapi kita sebagai masyarakat harus menilai apakah berita itu benar apa gaknya,” tukasnya.
Karena itu, sebagai media katanya, diharapkan jangan malah memojokan namun hendaknya berfungsi sebagai kontrol sosial. Dan di dunia jurnaslistik katanya, sebuah media biasanya memiliki satu redaksi yang bertanggungjawab terhadap semua pemberitaan.
“Jadi kita harus bertanggungjawab terhadap apa yang kita buat misal kalau media ya bertanggungjawab kepada pemberitaan yang dia buat, kalau netizen ya harus menjadi kontrol atau meluruskan jika ada satu berita yang belum tentu benar adanya (hoaks),” ujarnya.
Pada intinya, katanya marilah kita bijak dalam menggunakan media sosial. Ada beberapa hal yang digarisbawahi olehnya sebelum membaca sebuah konten atau informasi di media sosial, pertama cek dan ricek media online tersebut apakah media online yang terpercaya atau abal-abal.
Kedua, memberitakan atau menginformasikan sesuai fakta yang ada di lapangan dengan melakukan kounter atau klarifikasi kepada narasumber, ketiga sebelum mengeshare ke media sosial cek dulu kebenaran berita tersebut. SIA-MB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *