banner-website-2-x-16cm

Widgetized Section

Go to Admin » Appearance » Widgets » and move Gabfire Widget: Social into that MastheadOverlay zone

Arjaya Meragukan Pernyataan Cok Rat, Terkait Dukungan ke Rai Mantra

Tokoh PDI P asal Sanur Made Arjaya

Denpasar (Metrobali.com)-

Statemen tokoh PDI Perjuangan yang juga pinisepuh Puri Stria Cok Ratmadi yang menyatakan mendukung IB Rai Dharmawijaya Mantra maju menjadi Calon Gubernur Bali Tahun 2018 mendapat tanggapan dari sejumlah elite politik PDI Perjuangan. Salah satu tokoh PDI P asal Sanur Made Arjaya meragukan pernyataan Cok Ratmadi yang mengatakan PDI Perjuangan di Bali telah berubah warna, bukan lagi PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri.

Made Arjaya kepada wartawan senior Metrobali.com Nyoman Sutiawan mengungkapkan rasa penyesalannya akan ucapan Cok Ratmadi di salah satu media di Bali. ‘’Pernyataan Tjok Ratmadi ini, saya ragukan. Pernyataan ini apakah benar benar murni dari hati nuraninya, atau karena ada dendam dengan tokoh PDI Perjuangan yang sekarang berkuasa di Bali,’’ kata Arjaya kepada Metrobali.com, Senin (8/2).

Tokoh PDI Perjuangan asal Sanur ini  mengatakan, pernyataan Cok Ratmadi itu mewakili Puri Satria atau pibadi Tjok Rat sendiri. Kalau mengatasnamakan keluarga Puri Satria hal itu tidak mungkin. Karena di Puri Satria sendiri ada sejumlah tokoh PDI Perjuangan seperti AA Puspayoga, Jaya Negara, dan Bintang Puspayoga yang masih bertalian keluarga dengan Puri Satria.

Arjaya mempertanyakan, pernyataan Ratmadi bahwa PDI Perjuangan di Bali telah berubah warna, tidak lagi PDI Perjuangan Megawati. ‘’Ini tentu kurang pas, sebab PDI Perjuangan sejak ada tiga partai sebelumnya menduduki posisi nomor 2 setelah Golkar pada saat itu. Golkar sendiri menduduki posisi kursi di DPRD Bali hampir 90 persen,’’ katanya.

Karena itu, kata Arjaya besarnya PDI Perjuangan sekarang ini karena sejumlah kader Golkar hijrah ke PDI Perjuangan. Kalau sejumlah kader Golkar tidak hijrah ke PDI Perjuangan Bali, maka PDI Perjuangan tidak mungkin mendominasi kursi i di DPRD Bali. ‘’Oleh karena itu, Tjok Ratmadi tidak bisa menyebut  bahwa warna PDI Perjuangan di Bali sudah berubah, PDI P Bali tetap merah dan tetap berwarna Ibu Megawati Soekarno Putri sejak terjadi perubahan rezin dari Orba ke rezin Transisi.

Menurut Arjaya, perbahan di struktur di tubuh PDI Perjuanga di Bali memang berubah. Banyak kader kader Golkar yang mono loyalitas sekarang ada yang bergabung di PDI Perjuangan. Fakta itu tidak bisa ditampik oleh siapapun. ‘’Akan tetapi, dalam hal ini siapa pun harus terbuka, harus disebut siapa kader Golkar yag hijrah dan masuk ke struktur PDI Perjuangan,’’ kata Arjaya.

Made Arjaya mempertanyakan maksud Cok Ratmadi yang mengatakan bahwa ia mendukung Rai Mantra (RM) sebagai Gubernur Bali mendatang. Apalagi menyebutkan KBS-ACE yang diusung PDIP, bukan warna Megawati lagi. Padahal jika ditelisik, Rai Mantra sebagai calon Gubernur paket Mantra-Kerta jelas-jelas putra mantan Gubernur Bali dari Partai Golkar kala itu.

Jadi Arjaya yang dikenal sebagai mantan Vokalis DPRD Bali itu, heran saja kalau kader PDIP sekelas Cok Rat memiliki pikiran mendua. Padahal ia seharusnya menjadi panutan kader partai di Bali. Ia pernah menjadi Bupati, Ketua DPRD Bali mewakili partai sekaligus Ketua PDIP Bali sendir

Arjaya yang sampai sekarang mengaku tetap di PDIP pimpinan Megawati itu juga mempertanyakan apakah pikiran Cok Rat itu merupakan pikiran pribadi atau politik Puri Satria. “Saya khawatir di belakang pernyataan itu ada Menteri atau Wakil Walikota dengan maksud tertentu,” kata Arjaya yang konon banyak diajak parpol lain untuk bergabung namun ditolaknya.

Ia curiga dengan skenario Puri Satria yang dianggap berani melawan policy Megawati Soekarno Putri sebab Megawati orangnya disiplin. Arjaya yang mengaku sampai sekarang konsisten menjadi kader PDIP mengatakan, ia juga tidak mengerti dengan penilaian Cok Rat bahwa ada PDIP warna Megawati. “Pertanyaannya apakah di Indonesia sekarang ada juga PDIP di luar warna Megawati,” tanya Arjaya yang bertahun tahun pernah ngasih di Puri Satria itu, sehingga ia tahu betul seisi Puri.

Ia berharap kader banteng di Bali jangan terbawa arus pikiran Cok Rat sebab jago PDIP harus menang jadi Gubernur Bali.

Menurut pengusaha ini, pertarungan Pilgub Bali 2018 ini adalah pertarungan antara kekuatan nasionalis melawan kekuatan sosialis. Oleh karena itu Arjaya mengaku prihatin jika kader partai sekelas Cok Rat yang sudah banyak menikmati kemudahan partai memiliki pikiran nyeleneh. Ini namanya pembelotan elit yang sanksinya cukup berat. Ia berharap hal ini menjadi perhatian pimpinan partai ke depan supaya jangan menjadi perseden buruk di tubuh partai besar seperti PDI Perjuangan.  RED-MB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *