banner-website-2-x-16cm

Widgetized Section

Go to Admin » Appearance » Widgets » and move Gabfire Widget: Social into that MastheadOverlay zone

“Niti Sastra” dan “Nemu Gelang” Akhiri Bali Mandara Nawanatya 2017

IMG_20171207_155801

Sebuah garapan kolaborasi yang di dandani Rumah Budaya Penggak Men Mersi mendapat kehormatan untuk tampil menyajikan garapan bertajuk “Nemu Gelang”/MB

Denpasar, (Metrobali.com) –

Setelah berlangsung selama hampir setahun, Gelar Seni Akhir Pekan-Bali Mandara Nawanatya 2017, Sabtu (9/12) pukul 19.00 mendatang akan resmi ditutup. Sebagai penampilan pamungkas, sebuah garapan kolaborasi yang di dandani  Rumah Budaya Penggak Men Mersi mendapat kehormatan untuk tampil menyajikan garapan bertajuk “Nemu Gelang”

Konseptor Garapan, Kadek Wahyudita menjelaskan Nemu Gelang adalah sebuah bahasa kiasan masyarakat Bali untuk menyatakan ‘telah bertemu’ atau sesuatu telah mencapai keharmonisan. Berpijak dari esensi Nemu Gelang inilah, Penggak Men Mersi mencoba membuat sebuah karya seni pertunjukan kolaborasi yang melibatkan seniman lintas generasi.

“Kolaborasi ini akan berbentuk kolosal dengan menghadirkan seniman-seniaman muda pilihan untuk menterjermahkan konsep sebuah seni pertunjukan yang atraktif dan inovatif. Narasi karya yang ingin kami sampaikan lewat garapan ini adalah sebuah replay pagelaran Bali Mandara Nawanatya selama setahun yang melibatkan anak-anak hingga komunitas muda kreatif,” jelasnya.

Wahyudita menambahkan, dalam garpan Nemu Gelang ini Penggak Men Mersi berkolaborasi dengan empat komposer handal lintas generasi. Seniman tersebut diantaranya,Gung Bona Alit dengan sanggar Bona alitnya yang telah berhasil memadukan elemen musik tradisi nusantara dan dunia menjadi sebuah garapan world music dengan nafas Balinya. I Ketut Lanus dengan Sanggar Cahya Artsuka telah memiliki karakter menghadirkan gamelan Bali yang dikolaborasikan dengan kendang Sunda. Ary Wijaya lewat sanggar Palawara yang menghadirkan suasana-suasana baru dalam hal karya kontemporer namun tetap berpijak pada elemen tradisi. Terakhir, perwakilan jiwa muda yang kini tengah naik daun diungkapkan oleh I Wayan Sudiarsa (Pacet) dengan gamelan Singapraga yang memiliki karakter yang khas.

“Jadi dalam garapan ini kami melibatkan sekitar 100 seniman termasuk pemusik dan penari. Selain itu kami juga melibatkan Eka Laksmi dengan anak asuhnya di Naraswari Dance Creator,” ujar Wahyudita yang juga Kelihan Penggak Men Mersi.

Selain garapan “Nemu Gelang”, penutupan Bali Mandara Nawanatya akan diawali dengan sebuah tari inovatif dengan judul Tari Niti Sastra. Tari yang dikoreograferi oleh Wawan Gusman Adi Gunawan dari Komunitas Gumiart dan dibawakan oleh Rare Penggak ini memadukan beberapa elemen seni tradisi baik gerak maupun gamelan menjadi sebuah karya kontemporer. Adapun narasi garapan yang ingin disampaikan adalah dengan mempelajari lontar-lontar tentang kepemimpinan sejatinya kita akan dapat memahami ajaran Niti Sastra. Alur narasi akan coba dihadirkan lewat simbol-simbol gerak tari dan kostum.

“Tari ini melibatkan sekitar 30 orang penari. Niti Sastra adalah pengetahuan tentang moral dan politik kepemimpinan. Di dalam Niti sastra terangkum berbagai tuntunan moral dan etika untuk para pemimpin. Salah satu pengetahuan kepemimpinan yang sering dijadikan pedoman oleh para pemimpin dalam memimpin rakyatnya adalah filsafat tentang Panca Pandawa,” lanjut Wahyudita

Sebagai seniman yang paling senior, Gung Bona Alit menuturkan, menyambut dengan baik garapan ini. Baginya lewat garapan Nemu Gelang ini pihaknya bisa menjalin sebuah kebersamaan dengan para seniman lintas generasi yang sangat haus akan berkesenian. “Tentu sebagai seniman yang paling tua disini, saya banyak memberi masukan pada teman-teman lain sesuai dengan arah musikalitas mereka masing-masing,” ungkap pria asal Desa Bona, Gianyar ini.

Ketut Lanus yang juga ikut serta tampil menerangkan, sebuah kolaborasi bukan hanya sebatas memadukan aliran musik. Namun lebih lanjut dikatakan bagaimana sebagai seorang seniman bisa menekan ego masing-masing sembari mencari solusi demi sebuah harmonisasi. “Saya menyadari setiap seniman memiliki ciri khasnya masing-masing. Nah dengan tampil bersama kita akan berkomunikasi dan berinterkasi menghasilkan garapan yang berbeda namun tetap selaras,” tuturnya.

Dua orang komposer muda yang juga ikut tampil I Wayan Ary Wijaya dan I Wayan ‘Pacet’ Sudiarsa mengaku sangat antusias bisa turut serta dalam garapan Nemu Gelang. Ary Wijaya mengaku lewat garapan ini dirinya bisa mengembangkan diri, bukan hanya sekedar pentas diatas panggung. Apalagi, daalam garapan ini dirinya dengan piano dan gitarnya menjadi rythem  musik, membungkus garapan ini sejak awal hingga akhir. “Untungnya saya sudah pernah bekerja sama dengan para senior ini, jadi sedikit tidaknya saya sudah mengetahui warna musik mereka,” ulasnya.

Sejalan dengan Ary Wijaya, Wayan Sudiarsa pun merasa menemukan sebuah warna baru ketika bisa tampil berkolaborasi dengan para seniman lainnya. “Disini saya yang paling muda. Suatu kehormatan bisa sepanggung dan sekarya dengan mereka. Semoga nantinya konsep seperti ini bisa menginspirasi seniman-seniman lainnya untuk berani mengeksplorasi diri dalam berkesenian,” sebutnya.

Sementara Prof. I Wayan Dibia yang sempat hadir meninjau persiapan latihan garapan Nemu Gelang mengaku bangga melihat semangat seniman ini. Apalagi sebagai sajian sebuah penutupan, garapan ini menjadikan agenda Bali Mandara Nawanatya lebih berwarna.

“Kolaboratif disini bukan dinilai dari musiknya yang beraneka ragam saja dengan konsep satu otak, melainkan kolaborasi itu menghadirkan dua atau lebih konseptor yang berbeda, mereka  bertemu dan  menghasilkan dalam olahan karya cita rasa berbeda dalam kebersamaan, ini akan menjadi garapan yang menurut saya akan menghasilkan ciptaan yang beda, mudah-mudahan mampu menjadi tontonan musik dan tari kontemporer masa kini -mbtanpa meninggalkan tradisinya,” pungkasnya. AD-MB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *