banner-website-2-x-16cm

Widgetized Section

Go to Admin » Appearance » Widgets » and move Gabfire Widget: Social into that MastheadOverlay zone

Pendanaan Start Up Teknologi Jangan Hanya Andalkan Investor

Ketua Yayasan STMIK Primakara Made Artana

Ketua Yayasan STMIK Primakara Made Artana.

Denpasar (Metrobali.com)–

Keterbatasan modal atau pendanaan masih menjadi permasalahan klasik bagi sebagian besar pelaku usaha rintisan atau start up berbasis teknologi. Selama ini kebanyakan start up teknologi berhasrat mendapatkan kucuran dana dari investor baik investor korporasi (capital ventura) maupun investor perorangan (angel investor)  untuk mendanai operasional bisnis mereka ketika modal sendiri para pendiri (bootstrap) sudah menipis bahkan habis.

Namun menurut praktisi dan pemerhati start up Made Artana, sebenarnya masih banyak sumber pendanaan lain yang bisa dimanfaatkan dan diakes para pelaku start up yang kebanyakan berasal dari kalangan generasi muda termasuk mahasiswa.

“Pelaku start up tidak melulu harus mengandalkan dana dari investor. Masih banyak sumber dana lain. Jadi mereka harus kreatif dan mencari banyak sumber informasi dan sumber dana yang berbeda,” kata Artana usai acara kuliah umum dengan tema “Solusi Cerdas Menjadi Pengusaha di Zaman Now” di Kampus STMIK Primakara, Rabu (7/12).

Artana yang juga Ketua Yayasan STMIK Primakara itu menambahkan permasalahan modal atau pendanaan jangan sampai menjadi momok bagi pelaku start up apalagi sampai menutup usaha yang masih potensial untuk bertumbuh dan menghasilkan pendapatan dengan alasan kekurangan modal untuk mengembangkan bisnis. Sebab, sebenarnya semakin banyak akses permodalan yang bisa dimanfaatkan.

Salah satunya yang bisa menjadi alternatif ketika pelaku start up kesulitan mendapatkan dana dari investor adalah dana bantuan atau hibah dari pemerintah. “Untuk modal sekarang alternatifnya semakin banyak. Bahkan modal dari pemerintah juga banyak,” tegas Artana.

Jumlah bantuan dana atau hibah yang disediakan pemerintah bagi pelaku usaha start up bervariasi dari yang jumlahnya kecil di kisaran Rp 5 juta hingga yang lumayan besar mencapai Rp 400 juta. Namun permasalahannya adalah masih banyak pelaku start up yang tidak mengetahui informasi tersebut atau bahkan belum memenuhi kualifikasi untuk bersaing mendapatkan dana tersebut dengan pelaku start up lain.

“Dana bantuan atau hibah pemerintah untuk start up sebenarnya banyak dari yang kecil Rp 5 jutaan sampai yang besar hingga Rp 400 jutaan. Ini sebetulnya teman-teman start up harus mampu mengenali sumber pendanaan tersebut,” ujarnya.

Artana mencontohkan di STMIK  Primakara sudah ada 10 start up teknologi besutan mahasiswa yang mendapatkan pendanaan cukup besar dari pemerintah khususnya melalui Kemenristek Dikti (Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi). “Bahkan setiap tahun ada alokasi dana hampir 400 juta per start up. Itu adalah modal yang sangat cukup untuk mulai usaha start up teknologi dan menjadi technopreneur. Jadi mereka harus banyak tahu mengenai informasi mengenai sumber-sumber pendanaan tersebut,” pungkas Artana. WID-MB.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *