banner-website-2-x-16cm

Widgetized Section

Go to Admin » Appearance » Widgets » and move Gabfire Widget: Social into that MastheadOverlay zone

Bupati Eka “Ngayah Nari Rejang” di Pura Puseh lan Desa Banjar Anyar, Kediri

        bupati2 (2) Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti “Ngayah Nari Rejang Renteng” di Pura Puseh lan Desa Banjar Anyar, Desa Banjar Anyar, Kediri, Selasa (28/11) .                                                                        

Tabanan  (Metrobali.com)-

 Dengan gerak gemulainya, Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti “Ngayah Nari Rejang Renteng” di Pura Puseh lan Desa Banjar Anyar, Desa Banjar Anyar, Kediri, Selasa (28/11).

Selain gerakanya yang nan gemulai, Bupati yang akrab disapa Eka tersebut juga menari penuh dengan kebahagian bersama puluhan Ibu-ibu pengayah setempat. Begitupun dengan para Ibu-ibu, sangat bahagia dan merasa sangat bangga karena baru pertama-kalinya menari ditemani orang nomer satu di Tabanan.

Hingga salah satu penari mengatakan bahwa merupakan suatu kehormatan menari dengan Bupati. Dan dirinya merasa terharu dan sangat bangga bisa menari dengan Srikandi Asal Tegeh, Angseri ini.

“Suatu kehormatan buat tiang, pertama kalinya buat tiang menari dengan Ibu Bupati Tabanan. Tidak pernah sebelumnya saya menari dengan pejabat, padahal saya penari. Baru kali ini saya merasakan, luar biasa terharu dan sangat bangga sekali tentunya”, aku Ibu yang akrab disapa Bu Irma ini.

Kehadiran Bupati Eka ke Pura Puseh lan Desa Banjar Anyar dalam rangka memenuhi undangan masyarakat atas digelarnya Upacara Dewa Yadnya Ngusaba Desa lan Ngusaba Nini oleh Masyarakat Desa Banjar Anyar di Pura setempat.

Setelahnya, di sela-sela acara Bupati Eka mengatakan permohonan maaf karena baru bisa memenuhi undangan masyarakat karena begitu padatnya acara. Dan sekarang dengan tidak mengurangi rasa hormat, Dirinya menyaksikan Karya masyarakat Banjar Anyar hari ini.

“Yang penting Tiang sampun polih manggihin taler nyarengin muspa wawu. Ngerejang sampun, sampun lengkap kayaknya Tiang niki ngayah sareng masyarakat iriki”, ucap srikandi cantik ini.

Meskipun itu sederhana, namun hal seperti itulah yang disebutnya pengabdian. Diungkapnya bahwa pengabdian itu bisa dimana saja dan bantu sebisa dan semampu mungkin dan Pemerintah pasti akan selalu mendukung kegiatan masyarakat yang bersifat positif, tandas Bupati Eka

“Itulah arti dari seorang Pemimpin, harus bisa apapun, dimanapun, kapanpun siap, itulah pemimpin. Jadi, tiang nunas dumogi tiang sehat, presida tiang ngayah, tiang mohon doanya dari hati yang tulus dan ikhlas. Nika yang penting, karena doa adalah kekuatan, dan tiang yakin nika”, tegas Eka.

Dirinya juga menambahkan setelah melihat bangunan dan upacara yang dilaksanakan begitu megah, Dirinya menyebut itulah yang merupakan Karya Agung. Ditambah masyarakat yang bersatu membuat Karya tersebut semakin penuh hikmah.

“Saya sangat salut dan bangga sekali dengan masyarakat disini, tepuk tangan dulu, semangatnya luar biasa, rasa memilikinya luar biasa. Diastun kita niki berbanyak tapi kalau pecah tidak ada artinya. Tapi kalau kita sudah bersatu. Cumpu sami mesikian kayun, ngayah sareng sami nyarengin, titiang yakin apapun beban nika pasti ada solusinya”, jelas orang nomer satu di Tabanan ini.

Tidak lupa dirinya juga meminta kepada seluruh masyarakat Banjar anyar agar tetap mempertahankan persatuannya. Tanpa persatuan semua tiada artinya, dan hanya menimbulkan perpecahan. Sehingga pembangunan di Desa menjadi terhambat.

“Mohon niki dipertahnkan, karena membuat lebih mudah namun mempertahankan pasti sulit. Nah nika semua harus saling menjaga, saling mengingatkan, kenten nggih? Sehingga kebersamaan nika bisa kita rawat terus menerus”, pinta Bupati Eka.

Tambahnya “Setiap Karya pastilah ada beban, bebannya pasti tentang anggaran kurang. Titiang berharap mudah-mudahan sama-sama kita pikirkan solusinya. Kalau mentok tolong ingatkan tiang, tiang pasti nyarengin”, tambahnya.

Sebelumnya Ketua Panitia Karya melaporkan bahwa sebelum melaksanakan karya ini tidak ada membeli Banten (sarana upacara). Dikatakannya semua sarana upacara dibuat oleh masyarakatnya sendiri.  Dan disekitar pekarangan masyarakat, apapun yang bisa dipakai dalam sarana upacara, itu yang dipakai.

Dijelaskan juga bahwa sebelum menapaki Karya ini, warganya sudah melakukan pembangunan secara bertahap dari bulan April 2014. Hingga sampai rampung seperti saat ini, dijelaskan menghabiskan dana untuk bangunan fisik sebesar Rp. 3 Miliar. Untuk Upakara menghabiskan dana sebesar Rp. 1,5 Miliar.

“Sumber dana niki, adalah kraman tiang. Dari urunan Rp. 2,5 Juta sane tahap pertama Rp. 1 Juta untuk pembangunan, dan Rp. 1,5 juta untuk Upakara tahap kedua. Kewentenan kirang langkung 750 Kepala Keluarga dari empat Banjar Pengempon Pura niki”, jelas pihaknya.

Pihaknya juga menegaskan sumber dana juga berasal dari Punia (sumbangan) masyarakat luar dan Desa Tetangga. Dan terimakasih yang sebesar-besarnya diberikan pihaknya karena telah mensuport Karya yang telah dilaksanakan oleh pihaknya.

“Suksma aturang titiang ring Ibu Bupati, sampun nyarengin sekadi pemargi nyanggra karya titiang niki. Inggih sapunika atur piuning titiang, akidik , mangda presida ngiring sareng-sareng ngaturan Bhakti, ngaturan ayah mangda presida Karya Ageng puniki memargi antar lan labda karya sidaning don”, tutup pihaknya. RED-MB 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *