banner-website-2-x-16cm

Widgetized Section

Go to Admin » Appearance » Widgets » and move Gabfire Widget: Social into that MastheadOverlay zone

Status Gunung Agung Turun, Pengungsi dari 22 Desa Boleh Pulang

Gunung Agung 23 Oktober 2017

Gunung Agung/MB

Karangasem, (Metrobali.com) –
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah menurunkan status Gunung Agung dari awas (level IV) menjadi siga (level III). Ketentuan itu setelah dilakukan pengamatan menyeluruh terhadap aktivitas gunung setinggi 3.142 mdpl itu dan berlaku mulai hari ini, Minggu 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA.
Penurunan status itu berimplikasi pula pada zona bahaya Gunung Agung. Jika masih berstatus awas ditetapkan radius 9 kilometerditambah perluasan sektoral ke arah utara-timurlaut dan tenggara-selatan-barat daya sejauh 12 kilometer, kini menjadi radius 6 kilometer dan perluasan sektoral ke arah utara-timurlaut dan tenggara-selatan-barat daya sejauh 7,5 kilometer.
Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan, meskipun sudah diturunkan menjadi siaga, di seluruh areal di dalam radius yang telah ditetapkan itu tidak boleh ada aktivitas masyarakat.. “Di dalam radius tersebut masih berbahaya,” kata Sutopo, Minggu 29 Oktober 2017.
Ia melanjutkan, meskipun status aktivitas Gunung Agung telah diturunkan ke level III (siaga), namun perlu dipahami bersama bahwa aktivitas vulkanik Gunung Agung belum mereda sepenuhnya dan masih memiliki potensi untuk meletus.
PVMBG merekomendasikan masyarakat di sekitar Gunung Agung dan pendaki, pengunjung, wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di zona perkiraan bahaya yaitu di dalam areal kawah Gunung Agung dan di seluruh areal di dalam radius 6 kilometer dari kawah puncak Gunung Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah utara-timur laut dan tenggara-selatan-barat daya sejauh 7,5 kilometer. “Zona perkiraan bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi serta dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan Gunung Agung yang paling aktual,” ujarnya.
Dalam luas wilayah itu, ada enam desa yang masuk dalam zona merah. ‎Di antaranya adalahDusun Banjar Belong, Pucang, dan Pengalusan (Desa Ban); Dusun Banjar Badeg Kelodan, Badeg Tengah, Badegdukuh, Telunbuana, Pura, Lebih dan Sogra (Desa Sebudi); Dusun Banjar Kesimpar, Kidulingkreteg, Putung, Temukus, Besakih dan Jugul (Desa Besakih); Dusun Banjar Bukitpaon dan Tanaharon (Desa Buana Giri); Dusun Banjar Yehkori, Untalan, Galih dan Pesagi (Desa Jungutan); dan sebagian wilayah Desa Dukuh adalah daerah yang berbahaya. “Masyarakat yang berasal dari daerah ini masih harus berada di pengungsian,” tegas Sutopo.
“Pengungsi saat ini berjumlah 133.457 jiwa yang tersebar di 385 titik. Sebagian besar pengungsi boleh pulang. Pengungsi yang berasal dari desa atau dusun yang berada di luar radius 6-7,5 kilometer seperti dalam daftar desa atau dusun tersebut di atas diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing,” tambah Sutopo.
BNPB, Sutopo melanjutkan, telah berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Bali dan BPBD kabupaten/kota di Bali untuk pemulangan pengungsi. Jumlah penduduk yang berasal dari desa/dusun yang masih harus mengungsi masih dilakukan pendataan oleh BPBD.
“BPBD bersama TNI, Polri, Basarnas, SKPD, NGO dan masyarakat telah menyediakan kendaraan yang ditempatkan di pos pengungsian untuk mengangkut pengungsi pulang. Sebagian pengungsi pulang menggunakan kendaraan sendiri atau dibantu pihak lain,” tutur dia.
Meskipun status Gunung Agung sudah diturunkan menjadi siaga, namun status keadaan darurat penanganan pengungsi Gunung Agung yang ditetapkan Gubernur Bali tetap berlaku, yaitu 27 Oktober 2017 hingga 9 November 2017. Penyataan keadaan darurat ini diperlukan sebagai dasar dalam kemudahan akses penanganan pengungsi. JAK-MB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *