banner-website-2-x-16cm

Widgetized Section

Go to Admin » Appearance » Widgets » and move Gabfire Widget: Social into that MastheadOverlay zone

Kepsek Remas Payudara Siswi Diamankan di Polres Jembrana

Tersangka (kaos bergaris putih) memeluk korban dari belakang saat rekontruksi di ruang kepala sekolah

Pria asal Desa Yehembang Kauh, Kecamatan mendoyo ini diamankan setelah penyidik Polres Jembrana melakukan rekontruksi di sekolah tersebut, Rabu (11/10)/MB

Jembrana, (Metrobali.com) –

Kepala Sekolah (Kepsek) SDN 2 Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Ida Bagus Putu Sudarta (55) diamankan di Polres Jembrana, Rabu (11/10).

Sebelumnya, Kepsek cabul ini ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pelecehan seksual terhadap tiga siswinya yang masih duduk dibangku kelas VI.

Pria asal Desa Yehembang Kauh, Kecamatan mendoyo ini diamankan setelah penyidik Polres Jembrana melakukan rekontruksi di sekolah tersebut, Rabu (11/10).

Rekontruksi selama satu jam dari pukul 13.00 Wita sampai pukul 14.00 Wita setelah bubaran sekolah mendapat pengawalan ketat aparat kepolisian Polres Jembrana. Ketiga korban (siswi) dalam rekontruksi tersebut diperankan oleh polisi.

Ada 7 adegan dalam rekontruksi tersebut, diantaranya 3 adegan di ruang kepala sekolah, 2 adegan di ruang guru dan UKS, 1 adegan di ruang kelas dan 1 adegan di kamar mandi. Namun adegan yang di kamar mandi tidak diakui tersangka.

Adegan meremas payudara korban dilakukan tersangka dengan cara memeluk korban dari belakang. Dalam rekontruksi tersebut juga terkuak cara tersangka mencium korban.

 “Dari 7 adegan dalam rekontruksi, hanya 1 adegan yang tidak diakui tersangka. Yang di kamar mandi tidak diakui tersangka. Itu hak dia” ujar Kasat Reskrim Polres Jembrana AKP Yusak Agustinus Sooi seizin Kapolres Jembrana, Rabu (11/10) siang.

Menurutnya, semua adegan dalam rekontruksi sesuai dengan BAP kendati satu adegan dibantah oleh tersangka. Tersangka melakukan perbuatannya dengan meremas payudara dan mencium korban pada saat jam sekolah dan jam-jam istirahat.

Dari pengakuan korban imbuh Yusak, perbuatan tersangka disertai ancaman tidak akan diluluskan jika korban mengadukan perbuatannya kepada orang lain, termasuk orang tua korban.

“Seusai rekontruksi tersangka resmi kami tahan” ujarnya.

Tersangka dijerat Pasal 82 UU 17 Tahun 2016 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU 1 Tahun 2016 Tentang Perubahan kedua atas UU 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun penjara. MT-MB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *