banner-website-2-x-16cm

Widgetized Section

Go to Admin » Appearance » Widgets » and move Gabfire Widget: Social into that MastheadOverlay zone

Wagub Sudikerta Antusias Ikuti Prosesi Memasar Bersama Warga Tampak Siring Gianyar

IMG_8056 (2)

Wagub Ketut Sudikerta dengan antusias berbaur bersama krama pengempon di Pura Puseh Bale Agung Desa Pekramaan Tampak Siring, Senin (9/10)/MB

Gianyar, (Metrobali.com) –

Seusai melaksanakan persembahyangan, Wagub Ketut Sudikerta dengan antusias berbaur bersama krama pengempon untuk mengikuti prosesi Memasar yang dilaksanakan serangkaian Penyineban Karya NgusabaDesa, Melaspas, Ngenteg Linggih, lan Mendem Pedagingan di Pura Puseh Bale Agung Desa Pekramaan Tampak Siring, Senin (9/10).

Seusai mengikuti prosesi, Wagub Sudikerta menyampaikan apresiasinya atas tingginya antusiasme krama pengempon dalam mengikuti pelaksanaan upacara tersebut, yang patut terus diajegkan guna menjadi daya tarik pariwisata, disamping tujuan utamanya sebagai bentuk wujud syukur atas berkah yang dikaruniakan ISHWW.

“Tampak Siring sebagai salah satu daerah ikon wisata religi yang terkenal dengan lokasi wisatanya Tirta Empul, memang patut terus melestarikan kearifan-kearifan lokal yang dimiliki terkait seni, budaya dan agama seperti upacara Memasar yang baru saja dilangsungkan. Karena selain dimaknai sebagai rasa syukur kita kehadapan ISHWW atas berkah yang sudah kita terima, secara tidak langsung ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan,” cetus Sudikerta.

Lebih jauh, Wagub Sudikerta berharap derasnya kunjungan wisatawan yang tak hanya membawa dampak positif  namun juga negatif, tidak membuat masyarakat tergoda melupakan kearifan lokal yang dimiliki, dengan tetap menggelar upacara berdasarkan sastra dan petunjuk dari para Sulinggih sehingga tujuan yang diharapkan bisa tercapai.

“Saya berharap ada filterisasi dampak negatif tingginya kunjungan wisatawan, Dalam menggelar upacara harus tetap berpegang pada sastra agama dan petunjuk para sulinggih, jangan digelar secara besar-besaran dan ditambah-tambahi karena ingin kelihatan menarik,  yang penting lengkap sehingga tidak mengurangi makna upacara yang digelar,” pungkas Sudikerta. AD-MB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *