banner-website-2-x-16cm

Widgetized Section

Go to Admin » Appearance » Widgets » and move Gabfire Widget: Social into that MastheadOverlay zone

KBS Dorong Gerakan Literasi di Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat

KBS 7KBS, saat jadi pembicara pada Dialog Pendidikan di Balai Budaya Gianyar.
Gianyar (Metrobali.com)-
 Budaya literasi atau membaca di Indonesia, masih sangat rendah. Padahal pengetahuan banyak diperoleh dari membaca. Gerakan literasi yang menjadi program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, semestinya tidak hanya dilakukan di sekolah, akan tetapi harus dilaksanakan pada tingkat keluarga dan masyarakat.

Hal ini ditegaskan Anggota Komisi X DPR RI, Wayan Koster, MM., saat menjadi pembicara dalam Dialog Pendidikan, dengan tema “Literasi Membangun Kompetensi Guru Dalam Gerakan Literasi Sekolah”. Dialog ini diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, dan dilaksanakan di Balai Budaya Gianyar. Sabtu (07/10).

Selain KBS (Koster Bali Satu), pada dialog yang dihadiri sekitar 500 peserta yang meliputi guru, kepala sekolah serta unsur pendidikan dari Kabupaten Gianyar, turut sebagai pembicara Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Ari Santoso. Hadir pula Wakil Bupati Gianyar, Made Mahayastra. Rendahnya budaya literasi masyarakat di Indonesia menurut KBS, juga berdasarkan hasil penelitian Programme for International Student Assessment, dimana budaya literasi masyarakat Indonesia pada tahun 2012 terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia. Indonesia menempati urutan 64 dari 65 negara tersebut.

Kondisi ini juga dikuatkan dengan data statistik UNESCO 2012 yang menyebutkan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. “Salah satu kelemahan bangsa ini adalah kurangnya disiplin membaca, budaya membaca masih sangat rendah. Rasa penasaran untuk mengetahui informasi yang lebih banyak sangat kurang, sehingga motivasi orang untuk membaca juga rendah”, kata KBS.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang memiliki program literasi tidak banyak diketahui oleh masyarakat. Padahal menurut Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali ini, program tersebut sangat baik, karena literasi menjadi cermin kemajuan masyarakat yang cerdas dan berpengetahuan. Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, disebutkan salah satu tujuan didirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Amanat konstitusi tersebut diterjemahkan dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Dimana dalam Undang-Undang tersebut, guru menjadi komponen utama dalam mencapai tujuan pendidikan, khususnya berkaitan dengan pembelajaran anak-anak di sekolah.

Sekolah, keluarga dan masyarakat sebagai lembaga yang memiliki fungsi menjalankan misi pendidikan nasional. Guru sebagai pilar utama pendidikan, harus memiliki pengetahuan, kecakapan dan kompetensi dalam memberikan pengetahuan kepada anak didiknya, dimana pengetahuan dan kompetensi tersebut diperoleh melalui literasi. Kondisi guru saat ini jauh lebih dibandingkan dengan guru dimasa lampu. Duduk di Komisi yang membidangi pendidikan, KBS membuat Undang-Undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Dengan Undang-Undang ini yang sebagian besar isinya, merupakan buah pemikiran KBS, salah satunya tunjangan profesi guru bagi guru yang telah lulus sertifikasi untuk meningkatkan kesejahteraan guru. KBS menambahkan, gerakan literasi tidak hanya dilaksanakan di sekolah, tetapi juga harus ditingkat keluarga dan masyarakat.

“Membangun kompetensi yang berkaitan dengan literasi harus ditanamkan di sekolah, keluarga, dan masyarakat. Jika semua bergerak, akan melahirkan semangat membaca, tidak hanya untuk siswa sekolah, tetapi juga akan tumbuh budaya baca, budaya menulis, dan menghitung di masyarakat”, tegas KBS. Dikatakannya, untuk menanamkan budaya membaca di masyarakat, peranan pemerintah untuk menyiapkan sarana dan prasarana harus dibarengi kesadaran masyarakat.

Sementara itu, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Ari Santoso, menerangkan ada tiga literasi dasar dan tiga literasi turunan. Literasi dasar adalah literasi baca dan tulis, literasi numerik, literasi kultur budaya dan kewarganegaraan. Sedangkan literasi turunan diantaranya literasi finansial, literasi ilmu pengetahuan dan literasi digital. Ari Santoso memberikan penekanan khusus kepada literasi digital, agar para guru berhati-hati memberikan kepada siswa didiknya. Dia mencontohkan, guru SD dan SMP, jangan sampai meminta siswanya membuat tugas melalui media sosial seperti facebook. “Kalau sampai ibu dan bapak guru SD atau SMP memberikan tugas kepada siswanya di facebook, ini sama artinya memaksa para siswa menipu diri sendiri.

Menjadi anggota facebook atau media sosial lainnya umur minimal harus 13 tahun, jadi bapak dan ibu guru haru memberikan perhatian terhadap hal tersebut”, tegasnya. Dia juga mengingatkan para guru untuk tidak mengajar anak didik dengan pola seperti pada saat para guru menerima pelajaran. Kalau itu dilakukan, menurut Ari Santoso sama artinya dengan mengajari anak didik kalah sebelum berperang. “Ajari dengan pembelajaran abad 21, salah satunya literasi digital, untuk menyongsong persaingan di tingkat global”, pungkasnya.   GA-MB 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *