banner-website-2-x-16cm

Widgetized Section

Go to Admin » Appearance » Widgets » and move Gabfire Widget: Social into that MastheadOverlay zone

Harga bawang merah anjlok, Soksi hadir bantu petani

Panen Bawang1
Bangli (Metrobali.com)-
Petani bawang merah khususnya di desa Songan Kintamani Bangli menjerit. Pasalnya, bawang merah setelah di panen, harganya “terjun bebas”. Tak hanya pada komoditi bawang merah, tomat dan cabe juga mengalami hal yang sama.
“Bawang kami di Bali sementara terganggu harganya”, ungkap Ketua Kelompok Suka Karya Desa Songan, Haji Muhammad Ali Basari Selasa (19/09), disela-sela panen raya bawang merah dan penyerahan alshintan oleh Anggota Komisi IV DPR RI, Anak Agung Bagus Adhi Mahendra Putra, di Banjar Tabu Desa Songan Kintamani Bangli.
Anjloknya harga bawang merah ini, dijelaskan Haji Ali, karena komoditinya sama sehinga saat panen berbarengan yang berdampak harga jadi sangat murah.
“Kalau harga eceran masih bisa bertahan di angka 15 ribu tapi yang dari petaninya yang diambil para pengepul harganya 10 ribu. Bahkan kemarinnya sempat harganya 8 ribu per kilo”, katanya.
Dengan harga kisaran tersebut, Haji Ali tetap bersyukur petani masih bisa bernafas meski jika dihitung mulai dari penanaman bibit sampai panen, jelas dirasakan merugi.
“Kalau dihitung dari A sampai Z permodalan yang kami keluarkan, per kilogram itu dari tenaga kerja pemupukan dan pemeliharaan bibit itu mencapai 10 ribu per kilogram. Kalau harga pasca panen 10 ribu kami hanya dapat ongkos kerja”, ucapnya sedih.
Haji Ali menerangkan, Ia bersama kelompoknya, menanam bawang merah di tanah seluas 2 hektar. Ia bersama petani bawang merah di Desa Songan sangat berharap, harga bawang merah akan naik menjelang hari raya Galungan.
“Kami berharap harganya akan naik karena saat itu kebutuhan masyarakat terutama saudara kami yang beragama Hindu akan merayakan hari raya Galungan”, harapnya.
Pola tanam yang diterapkan oleh petani bawang merah sudah sesuai anjuran. Untuk satu hektar seperti yang dijelaskan Haji Ali, setelah diadakan pemupukan yang tepat, per hektar mencapai 3 ton. “Dari 12 ton sebelumnya kini produksinya bisa 15 ton per hektar”, terangnya.
Meski demikian, Haji Ali mengakui masih merugi, karena dari harga 10 ribu permodalan per kilogramnya petani hanya mendapat ongkosnya kerja saja. “Di angka 10 ribu permodalan per kilogram itu termasuk tenaga saja”, imbuhnya.
Dengan persoalan yang dihadapi petani bawang merah saat ini, Haji Ali berharap kepada Anggota Komisi IV DPR RI Anak Agung Bagus Adhi Mahendra Putra, yang dikenalnya sangat getol dan peduli terhadap nasib petani, agar bisa membantu meningkatkan kesejahteraan petani.
“Ada banyak hal yang perlu kita atasi, salah satunya menjaga stabilitas harga dengan menyempurnakan sarana prasarana terutama jalan”, ungkap politisi Partai Golkar yang akrab dipanggil Gus Adhi ini, menyikapi aspirasi dari petani.
Ditambahkan Gus Adhi, perlu juga membuat zonasi pertanian, untuk mengatur agar petani tidak menanam satu jenis komoditi.
“Zonasi ini perlu diatur agar jangan semuanya menanam bawang, atau tomat semuanya. Jadi perlu diatur berapa persen masyarakat menanam tomat berapa persen menanam bawang merah sehingga dapat menjaga stabilitas harga”, ucapnya sembari menambahkan perlu ada sentuhan teknologi.
“Karena itu, Soksi hadir untuk membantu petani meningkatkan produktivitasnya dengan menyerahkan 4 unit traktor roda 4 dan juga ada alshintan”, katanya.
Gus Adhi juga mengaku sedih harga bawang merah dan komoditi lainnya “terjun bebas”. Sehingga untuk menyiasati persoalan harga ini, Sentra Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (Soksi) langsung turun tangan menyelamatkan persoalan yang dihadapi petani, dengan membangun sebuah bank tani.
“Karena petani tidak punya wadah untuk menampung komoditi petani. Sehingga ditempat ini (Banjar Tabu Desa Songan) akan dibangun bank tani”, pungkasnya.
Dijelaskannya, bank tani merupakan salah satu solusi untuk mengatasi persoalan petani, khususnya menstabilkan harga.
Di bank tani menurut Ketua Depidar Soksi Provinsi Bali ini, akan dibantu ijin pendirian koperasi dan akan diberikan seperangkat komputer termasuk modal dasar untuk mendirikan bank tani. Ketika harga komoditi pertanian di Desa Songan anjlok,
Soksi hadir untuk membantu petani dan pembentukan bank tani ini telah dibuktikan hasil produksinya akan dikirim ke Jembrana.
“Kalau hasil panen petani dibawa ke bank tani di Banjar Tabu ini dan kemudian dikelola, disalurkan lewat Jaringan Sosial Swadiri Bali (JSSB) dijual ke Jembrana karena harga bawang disana mahal. Jadi bank tani ini hanya sebagai penyalur dari hasil pertanian yang dimiliki anggotanya”, bebernya.
Dengan kehadiran bank tani ini, ungkapnya, tidak akan ada tangan kedua lagi. “Kalau bank tani ini nantinya bisa diwujudkan, maka penjualan tangan kedua tidak akan ada. Jadi manajer bank tani ini akan bisa melihat prospek laba ke depan, dia tidak akan mungkin menekan petaninya tapi dia akan mencari solusi yang terbaik untuk petaninya karena bank tani ini hadir untuk mensejahterakan anggotanya”, ungkapnya.
Selaku Ketua Depidar Soksi Provinsi Bali, Gus Adhi berharap, warga masyarakat di Desa Songan dan khususnya di Banjar Tabu, dapat memanfaatkan fasilitas yang diberikan terutama pendirian bank tani ini.  ARI-MB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *