banner-website-2-x-16cm

Widgetized Section

Go to Admin » Appearance » Widgets » and move Gabfire Widget: Social into that MastheadOverlay zone

Sejarah Kelam Pembukaan Porprov Bali XIII Di Gianyar

 Sudikerta : Perlu Komunikasi Dan Koordinasi
Kontingen Buleleng
Gianyar, (Metrobali.com)-
Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta mengaku Pembukaan Porprov Bali XIII Tahun 2017 di Kabupaten Gianyar, Bali yang berlangsung MInggu (17/9) dilapangan Dipta, Gianyar perlu dilakukan koordinasi dan komunikasi lebih baik lagi. Sehingga tidak memunculkan kesalah pahaman.
”Sebenarnya sudah bagus acara pembukaan ini. Hanya saja, kurang koordinasi dan komunikasi penyelengaraan pembukaan Porprov Bali ini” ujarnya saat meninggalkan lapangan umum Dipta Gianyar usai acara pembukaan Porprov Bali XIII 2017.
Kata dia terhadap pertanyaan, kenapa dirinya tidak membaca sambutan, Menurutnya hal itu agar ditanyakan kepada pihak panitia.”Tanyakan saja kepada panitia” tandasnya sembari naik kemobil menuju ke Denpasar.
Dalam pengamatan Metrobali.com saat pembukaan Porprov Bali XIII di lapangan Dipta Gianyar, tampak terlihat pihak panitia ingin menampilkan sebuah acara pembukaan Porprov Bali yang spektakuler, tampil beda dengan penyelenggaraan di kabupaten/kota lainnya di Bali. Artinya dalam acara pembukaan itu, diupayakan mampu menarik simpati dan membuat para kontingen maupun undangan serta penonton lainnya bedecak kagum atas apa yang disuguhkan pada acara tersebut, berupa atrakasi seni dan budaya.
Namun, amat disayangkan, melupakan hal pokok dari acara tersebut, malahan setelah bunyi sirine dan peluncuran kembang api pertanda dibukanya Porprov Bali XIII, barulah Wagub Sudikerta diminta memberikan sambutan, sedangkan para peserta sudah banyak yang meninggalkan lapangan. Jadi tampak terkesan, lantaran kurangnya komunikasi dan koordinasi yang dilakukan pihak panitia itu, mengakibatkan para kontingen maupun manager serta official yang ikut dicara pembukaan itu menjadi kecewa.
Bagaimana tidak, dari kebanyakan para peserta tidak mengetahui secara pasti runutan dari acara yang dikemas oleh panitia. Misalnya saat para peserta atau kontingen diminta keluar dari lapangan, sedangkan upacara pembukaan belum usai, seperti misalnya Wagub belum memberikan sambutan serta penekanan sirine pertanda dibukanya Porprov Bali.
“Kami heran, kok disuruh bubar. Acara pembukaan belum usai, kok disuruh meninggalkan lapangan” ujar salah satu official dari Kabupaten Buleleng. ”Aneh acara ini, kesannya lebih mementingkan atraksi seni” ujarnya menambahkan.
Ketua Umum Koni Buleleng Komang Arta Widnyanapun angkat bicara. Menurutnya dengan adanya kurang komuniklasi yang dilakukan pihak panitia mengakibatkan banyak peserta yang kecewa. Begitu juga dengan dibatasinya peserta yang ikut defile.”Dibatasi 40 orang, tapi ada yang lebih dan ada yang kurang pesertanya. Hal ini harusnya tegas” tandasnya. GS-MB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *