banner-website-2-x-16cm

Widgetized Section

Go to Admin » Appearance » Widgets » and move Gabfire Widget: Social into that MastheadOverlay zone

Pelaksanaan Upacara Yadnya Secara Massal, Sebagai Bentuk Kepedulian Kepada Sesama Yang Kurang Mampu

ngaben massal (2)

Wagub Ketut Sudikerta  menghadiri Upacara Ngeroras sebagai rangkaian Upacara Ngaben massal di Br. Pegesangan, Desa Pekraman Temesi, Tulikup, Gianyar, Kamis (7/9).

Gianyar (Metrobali.com)-

Melaksanakan upacara Ngaben bagi leluhur yang sudah meninggal disamping bermakna membayar hutang kepada leluhur (Pitra Rna) sesuai ajaran agama Hindu Tri Rna yang merupakan kewajiban setiap umat Hindu, jika dilaksanakan secara massal juga bisa membantu sesama yang kurang mampu. Demikian penegasan yang disampaikan Wagub Ketut Sudikerta saat menghadiri Upacara Ngeroras sebagai rangkaian Upacara Ngaben massal di Br. Pegesangan, Desa Pekraman Temesi, Tulikup, Gianyar, Kamis (7/9).

“Jika ada krama yang mampu jangan beryadnya sendiri-sendiri, mari galakkan upacara yang digelar secara massal, seperti Ngaben massal ini, tentu akan meringankan beban krama yang kurang mampu. Dengan begitu, tujuan kita untuk membayar hutang kepada leluhur tercapai, berkah karena membantu sesama juga dapat,” cetus Sudikerta seraya menjelaskan dengan melaksanakan upacara secara massal juga akan dapat meningkatkan persatuan dan kesatuan krama desa setempat, yang umumnya di Bali terdiri dari berbagai pasemetonan atau soroh. “Walaupun terdiri dari berbagai pasemetonan, jika sudah melaksanakan secara massal maka harus bisa melebur diri dalam kesatuan desa, harus bisa bersatu padu, apa yang dikerjakan sudah tidak lagi atas nama pasemetonan namun atas nama desa, maka akan mempererat rasa kebersamaan krama desa tersebut,” imbuh Sudikerta.

Lebih jauh, Wagub Sudikerta pun berharap segala pelaksanaan upacara yadnya maupun program kegiatan-kegiatan desa lainnya yang berdasarkan prerarem maupun awig-awig bisa fleksibel mengikuti perkembangan jaman, dengan cara terus mengadakan mengadakan perubahan secara rutin terhadap awig-awig yang dimiliki. “Awig-awig berpengaruh besar terhadap pelaksanaan adat, upacara yadnya maupun lainnya pada lingkup desa adat, jadi patut dikoreksi minimal setiap 5 tahun agar bisa mengikuti perubahan dan fleksibel sesuai perkrmbangan jaman,” tutup Sudikerta.

Kelian Dusun yang juga selaku Ketua Panitia Penyelenggara Ketut Berata, menyampaikan Program ngabenmassal di desanya sudah digelar secara rutin dari tahun 2007, yang tujuan utamanya guna meringankan biaya pelaksanaan upacara dan meringankan beban hidup masyarakat setempat. Hal tersebut dibuktikannya dengan pelaksanaan ngaben kali ini yang tidak memungut biaya sepeser pun dari krama peserta. Biaya yang dihabiskan berasal dari program desa dalam bentuk tabungan oleh seluruh krama untuk selanjutnya didepositokan, serta bunga deposito tersebutlah yang  dimanfaatkan guna biaya pelaksanaan upacarangaben massal tersebut. Terkait upacara peroras Ia menjelaskan akan digelar pada tanggal 9 September 2017. AD-MB 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *