banner-website-2-x-16cm

Widgetized Section

Go to Admin » Appearance » Widgets » and move Gabfire Widget: Social into that MastheadOverlay zone

Konser Musik Klasik “An Evening With Paganini”

 

 

Konser Musik Klasik “An Evening With Paganini”

Konser Musik Klasik “An Evening With Paganini”

Gianyar (Metrobali.com)-

Sejumlah komposisi masterpiece gubahan maestro musik klasik Niccolo Paganini dibawakan oleh Robert Brown (violin) dan Lianto Tjahjoputro (gitar) di Bentara Budaya Bali (BBB) Jl. Prof. Ida Bagus Mantra No.88A, bypass Ketewel, Gianyar, Minggu (03/09) malam. Keduanya tampil berduet dalam konser musik bertajuk “An Evening With Paganini”.

Komposisi-komposisi terpilih yang dikreasi-padukan oleh Lianto Tjahjoputro dan Robert Brown merefleksikan kehidupan dan kepribadian dari Paganini, serta mencerminkan semangat musikal masa romantik itu. Pada malam itu dibawakan sejumlah komposisi, antara lain: Centone di Sonate n.1, Op 3. N. 4, Centone di Sonate n. 3, Caprice n. 5, Caprice n. 17, dan Caprice n. 24.

Niccolo Paganini tersohor sebagai virtuoso biola terbesar dalam sejarah. Lahir di Genoa, 27 Oktober 1782 dan meninggal di Nice, 27 Mei 1840 pada usia 57 tahun. Paganini terpujikan dengan kecakapan biola, viola, dan gitar, serta buah ciptanya yang immortal. Pada kesempatan tersebut kedua musikus mumpuni ini juga berbagi pemahaman dan pengalaman terkait sosok dan karya Paganini (Italia).

Bagi Robert Brown sendiri, komposisi Op. 3 N. 4 sangat merefleksikan dirinya. Sementara menurut Lianto Tjahjoputro, Caprice No 5 – adalah komposisi yang paling sulit untuk dibawakan dalam gitar klasik.

Selain karena capaian Paganini yang legendaris, baik Robert Brown maupun Lianto Tjahjoputro, menyebutkan bahwa karya Paganini sangat populer dan menarik untuk dibawakan dalam komposisi biola dan gitar klasik. Hal inilah yang membuat mereka sepakat membawakan karya-karya Paganini pada penampilan kali ini.

Robert Brown dan Lianto Tjahjoputro juga saling memuji penampilan masing-masing. Ini rupanya bukanlah kali pertama mereka berduet bersama. “Saya mengenal Pak Lianto dari seorang guru piano bernama Tomoko di Ubud, yang bilang bahwa Pak Lianto hebat dan mampu membawakan karya-karya klasik Paganini.  Akhirnya kami bertemu dan sepakat untuk berkolaborasi.  Dia adalah guru bagi saya,  saya muridnya.  Saya belajar banyak dari dia. Dia sungguh luar biasa, “ ungkap Robert Brown.

Sebelumnya, Bentara Budaya Bali juga pernah menggelar konser musik klasik, antara lain: Pertunjukan Gitar Klasik oleh Lianto Tjahjoputro dan Intan Mayadewi (24 Maret 2015), “A Tribute to Indonesian Composer” (11 Oktober 2015) bekerjasama dengan Amabile Music Studio, serta “Bali Virtuoso Guitar Performance” (27 Maret 2016) kerjasama PGKRI (Pagelaran Gitar Kolosal Rakyat Indonesia).

“Dengan kemajuan teknologi,  saya melihat generasi muda saat ini sangat mudah mengakses lagu klasik apa saja,  dibawakan oleh seniman siapa saja di seluruh dunia,  gitaris paling hebat sekalipun bisa dilihat di Youtube.  Berbeda dengan zaman dulu, saat mengoleksi kaset musik klasik masih langka.  Namun kelemahannya,  karena akses yang mudah,  mereka jarang mempelajari dengan sungguh sejarah dan tokoh-tokoh kreatornya,” ujar Lianto Tjahjoputro.  Sejak tahun 2009 – 2014, Lianto Tjahjoputro banyak mentranskripsi lagu – lagu yang awalnya “impossible” atau tidak mungkin untuk dimainkan di gitar, diantaranya adalah Campanella karya Franz Liszt, Johannes Passion karya Bach (Herr ünser Herrscher) yang dikerjakan selama 2 tahun, dan Matthaus Passion karya Bach (Kommt, ihr Töchter, helft mir klagen) yang dikerjakan selama 3 tahun.

Lianto telah belajar gitar sejak usia 11 tahun kepada ayahnya. Ia kemudian menekuni musik di Yasmi Surabaya, berguru pada Trie, Priadi, Yanto dan Jos Breddie (salah seorang murid Dick Visser di Belanda). Tahun 1984, ia belajar kepada Profesor Eliot Fisk (salah seorang murid Andres Segovia) di Koln, Jerman Barat.

“Saya hanya memperlihatkan semangat dan contoh untuk generasi muda bahwa mempelajari musik klasik menyenangkan dan saya pun masih melakoninya.  Saya berpesan untuk gitaris muda,  harus lebih giat lagi,  jangan menekuni sebentar setelah itu selesai.  Lanjutkan terus.  Semangat itu yang saya contohkan,” ungkap Lianto Tjahjoputro, pemenang Mimbar Juara Indonesia Gitar Klasik (Indonesian Classical Guitar Champion) tahun 1991 ini.  Namanya juga tercatat dalam ensiklopedi musik internasional “Enciclopedia de la Guitarra”, yang diterbitkan oleh Fransisco Herrera.

Sementara Robert Brown, yang memiliki pengalaman panjang sebagai musisi dan pemain orkestra, mengungkapkan bahwa ia melihat anak-anak di Bali banyak juga yang serius mempelajari musik klasik seperti Bach.  “Menurut saya,  musik klasik seperti Suzuki Violin Method membantu mereka menumbuhkan disiplin dan kepercayaan diri.  Live without music,  for me, its mistake,” ujar lelaki yang memiliki nama Bali Putu Merta ini.

Ia telah bekerja bersama ansambel seperti: the Houston, Atlanta dan American symphony orchestras di U.S.A., “Les Arts Florissant” di Paris, “l’Orchestra del Accademia Nazionale di Santa Cecilia” di Roma, dan “Orchestra of the Age Enlightment” di London dengan konduktor seperti; Leopold Stokowski, Sir John Barbirolli, dan Carlos Kleiber.

Robert Brown merupakan salah satu anggota pendiri ansambel “Europa Galante” yang telah menggelar tur di berbagai negara. Kini, Robert Brown bermukim di Bali dan aktif dalam belantika musik Indonesia. Ia mengajar resital untuk Stephan Tong – Jakarta, menjadi direktur musik untuk produksi opera “La Serva Padrona ‘, membawakan Musik Lou Harrison untuk biola dan gamelan serta menghadirkan pertunjukan kolaborasi musik biola solo Bach dengan tarian Bali. Ia juga mengajarkan metode biola Suzuki di Bali dan membuat musik video di Youtube dengan Lianto Tjahjoputro. RED-MB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *