banner-website-2-x-16cm

Widgetized Section

Go to Admin » Appearance » Widgets » and move Gabfire Widget: Social into that MastheadOverlay zone

YLPK Bali, Minta Larang Pencantuman Harga Rokok Pada Iklan atau Promosi Rokok

Putu Armaya

Direktur Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen Bali, I Putu Armaya. SH

Denpasar,(Metrobali.com)-

Menurut Direktur Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen Bali, I Putu Armaya. SH, Kamis,(3/8) di Denpasar meyampaikan, mendukung usulan Ketua YLKI bapak Tulus Abadi.SH,  Sebagaimana mandat UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, bahwa konsumen mempunyai hak atas informasi yang jelas, jernih dan jujur; saat mengonsumsi barang dan atau jasa (Pasal 4). Termasuk hak untuk mengetahui harga atau tarif terhadap barang  atau jasa yang akan digunakannya.

“Ketentuan semacam itu tidak bisa serta merta bisa diberlakukan pada komoditas barang yang konsumsinya harus dibatasi atau dikendalikan (barang abnormal). Contoh dalam hal ini adalah produk tembakau, rokok. Secara regulasi, rokok adalah barang yang konsumsi, peredaran dan iklannya harus dikendalikan atau dibatasi adalah komoditas barang yang dikenai cukai; sebagaimana diatur dalam UU tentang Cukai dan UU tentang Kesehatan,” jelasnya.

Dilanjutkan, relevan dengan hal itu, pencantuman informasi harga rokok pada iklan dan promosi rokok adalah bertentangan dengan spirit UU tentang Cukai, UU Perlindungan Konsumen, dan tentunya UU tentang Kesehatan. Pencantuman informasi harga pada iklan/promosi rokok, seperti Rp 16.000/bungkus, atau Rp 2.000/batang; bertentangan dengan prinsip pengendalian/pembatasan konsumsi, sebagaimana diatur ke dalam regulasi dimaksud.

“Pencantuman informasi harga rokok, akan mendorong atau merangsang masyarakat untuk membeli rokok, apalagi harga rokok di Indonesia masih tergolong termurah di dunia dan bisa dibeli secara eceran atau ketengan; yang menjadikan harga rokok kian terjangkau. Terutama oleh anak-anak, remaja dan kalangan rumah tangga miskin,” ujarnya.

Disampaikan, Rokok adalah produk abnormal, tidak sepantasnya diiklankan, apalagi mencantumkan harganya demi mendorong peningkatan konsumsi. Secara sosiologis, pencantuman harga rokok pada iklan/promosi rokok hanya akan melanggengkan kegandrungan masyarakat Indonesia pada rokok. Termasuk anak anak Muda di Bali,  hanya di Indonesia rokok masih bebas beriklan.

“Kedepan masalah Iklan rokok di Bali juga harus diperketat, Di seluruh dunia iklan rokok sudah dilarang total. Pencantuman harga rokok pada iklan atau promosi rokok tidak sejalan dengan spirit UU tentang Cukai, UU tentang Perlindungan Konsumen, dan UU tentang Kesehatan,” cetusnya.

Oleh karena itu menurut Armaya, YLPK Bali meminta Kemenkes, untuk segera membuat regulasi teknis untuk melarang pencantuman harga rokok pada iklan atau promosi rokok di media masa elektronik, media masa cetak, dan media luar orang, seperti umbul-umbul, spanduk, poster dan lain-lain. Sebagai bentuk penjabaran atau perwujudan tembakau sebagai komoditas adiktif sebagaimana diatur dalam UU tentang Kesehatan. AA-MB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *