banner-website-2-x-16cm

Widgetized Section

Go to Admin » Appearance » Widgets » and move Gabfire Widget: Social into that MastheadOverlay zone

Ayam Dirampas, Peternak Mengadu Ke PBHI‎ Bali

 Seorang Peternak asal desa Katung, Kintamai, Bangli mengadukan kasus perampasan ternak ayam yang dilakukan Tubagus Oky Farm (TOF) ke kantor Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Bali
Seorang Peternak asal desa Katung, Kintamai, Bangli mengadukan kasus perampasan ternak ayam yang dilakukan Tubagus Oky Farm (TOF) ke kantor Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Bali
 
Denpasar (Metrobali.com)-
Seorang Peternak asal desa Katung, Kintamai, Bangli mengadukan kasus perampasan ternak ayam yang dilakukan Tubagus Oky Farm (TOF) ke kantor Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Bali, Jalan Cok Agung Tresna No. 49 Renon, Denpasar, Jum’at 10/3.
Perusahaan yang bergerak di bidang industri peternakan dan beralamat di Banjar Bunyuh, Desa Perean, Kecamatan Baturiti, Tabanan itu telah merampas 1.000 ekor ayam petelur milik Ni Wayan Suwantari, 40. Peristiwa miris itu terjadi, Sabtu 25 Februari 2017 di Banjar Katung, Desa Katung, Kecamatan Kintamani, Bangli.
Ditemui langsung di kantor PBHI Bali, Rabu (15/3) lalu adik kandung korban Suwantari, Kadek Yudiantara mengaku perampasan 1.000 ekor yang petelur itu dipimpin langsung oleh manajer operasional TOF, bernama I Kadek Ariyadi Adnyana. “Saat itu saya sedang memanaskan mobil dan mau jualan ke pasar. Tiba-tiba datang mobil pikap dan parkir di dekat rumah saya. Salah seorang bertanya kepada saya di mana rumah Pak Mangku. Lalu saya jawab itu bapak saya. Mereka pun bilang ada perintah dari perusahaan untuk mengambil ayam milik kakak saya,” ucapnya. Yudiantara mengaku terkejut sebab tidak ada informasi sebelumnya terkait pengambilan ayam-ayam petelur itu, baik dari ayah maupun Suwantari. Meski demikian dia mengetahui ada sisa tagihan atau hutang yang belum dibayar Suwantari kepada pihak Oky Farm. “Kakak saya bayar rutin. Tidak pernah ada masalah. Sama sekali tidak ada teguran sebelumnya. 1.000 ekor ayam kakak saya diambil paksa,” tandasnya.
Kepada PBHI ‎Yudiantara menuturkan total ayam petelur yang dibeli Suwantari dari perusahaan Oky Farm berjumlah 1.516 ekor. Rinciannya pada 23 September 2016 membeli 1.016 ekor bibit ayam petelur dan 500 ekor pada 29 September 2016. Total harga yang disepakati senilai Rp 86 juta rupiah. “Pembayaran lunas telah dilakukan senilai Rp 56.896.000 untuk seribu ekor ayam. Sisanya yang 500 ekor ayam juga telah dilakukan pembayaran sebesar Rp 10.344.000. Sisa tagihan atau hutang Rp 17.800.000,” urainya. Dijelaskan Yudiantara kejadian itu disaksikan oleh dua orang aparat keamanan setempat, kelian banjar, dan warga sekitar. Perampasan itu membuat keluarganya mengalami guncangan mental yang luar biasa. “Ibu saya menangis histeris. Hingga kini kejadian itu masih menjadi pembicaraan warga dan kami sangat tertekan. Lebih-lebih kami sama sekali tak melakukan kesalahan,” tegasnya. Yudiantara pun membeberkan kala itu manajer Tubagus Oky Farm bernama I Kadek Ariyadi Adnyana memaksa dan mengancam keluarga Suwantari membayar sisa tagihan atau hutang yang belum dibayar. Menariknya Ariyadi disebutnya menunjukkan bukti tagihan kepada keluarga Suwantari yang nilainya melebihi tagihan atau utang sebenarnya, yakni Rp 22 juta rupiah.
Ketua PBHI, Dewa Sunarya, dengan didampingi Ngurah Karyadi,  menerima langsung pengaduan Yudiantara mewakili kakak kandungnya, Suwantari, mengaku korban memiliki seluruh bukti transaksi alias uang yang disetor kepada Oky Farm. Dewa Sunarya menyebutn perampasan yang dilakukan Tubagus Oky Farm sebagai tindakan mematikan usaha rakyat.
Lebih lanjut dikatakan, pemilik peternakan Ni Wayan Suwantari membeli bibit sekitar bulan September di TOF (Tubagus Oky Farm) milik Made Wijaya, Banjar Bunyuh, Perean Baturiti seharga Rp 86 juta dengan sistem pembayaran mencicil. Namun ketika sisa utang korban Rp 17.800.000 tiba-tiba perampasan terjadi. “Seharusnya aparat kepolisian yang bertugas kala itu (Pak Jordan) bisa menghentikan aksi sewenang-wenang itu. Termasuk Kadus. Namun aparat mengembalikan ke pihak Oky Farm,” tandas Dewa Sunarya.
Sementara Ngurah Karyadi mengungkap, korban sempat memohon surat dari pihak dusun tentang perampasan ayam miliknya, namun sama sekali tidak diladeni. “Laporan ke Polda diterima namun di sarankan ke Polres Bangli, yang menyatakan bahwa itu masalah perdata. Jelas-jelas perampasan yang dilakukan itu kasus pidana,” tegasnya. 
Atas peristiwa tersebut, PBHI Bali menilai tindakan tersebut merupakan pebuatan sewenang-wenang, melawan hukum, baik pidana ataupun perdata, terlebih terjadi di depan aparat desa dan kepolisian. “Hal ini sekaligus mematikan usaha rakyat, yang seharusnya di ayomi dan dilindungi pemerintah,” pungkasnya.
Terkait tindakan sewenang-wenang itu, PBHI Bali telah melaporkan ke Polres Bangli, Sabtu 12/3, dan sudah dipanggil kembali untuk melengkapi berkas pengaduan, berikut bukti dan saksi-saksi, Selasa 21/3. PBHI sekaligus mengirimkan surat teguran (somasi) atau teguran 1 bernomor 05/S-TH/PBHI-Bali/III/2017, Selasa 15/3.  
Dikonfirmasi melalui sambungan dugaan pelibatan aparat, media ini sudah telepon Kapolsek Kintamani, Bangli AKP Gede Sumena mengatakan tak tahu-menahu dengan kasus perampasan tersebut. Namun Sumena membenarkan ada anggotanya yang bernama Jordan.
Ditemui Sabtu (18/3) kemarin di Jalan Gatot Subroto I Gang VII No. 16 A, Denpasar, manajer operasional Tubagus Oky Farm, I Kadek Ariyadi Adnyana sama sekali tak menampik pihaknya telah mengambil 1.000 ekor ayam Ni Wayan Suwantari, Sabtu (25/2) lalu di Banjar Katung, Desa Katung, Kecamatan Kintamani, Bangli. Dijelaskannya Sunarti membeli 1,540 ekor ayam pullet alias benih ayam petelur lewat dua kali pembelian: 1.016 ekor pada (23/9/2016) seharga Rp 56.896.000 dan 524 ekor pada (29/9/2016) seharga Rp 29.344.000. “Untuk pembelian pertama Suwantari dapat potongan harga Rp 296.000 dan yang kedua Rp 112.000. Total utang pembeli kepada perusahaan kami Rp 85 juta 832 ribu. Dia berjanji akan melakukan pelunasan dalam jangka waktu dua minggu,” ucapnya. Imbuhnya, sebelum ayam dikirim ke Banjar Katung, Kintamani, Suwantari dan Pak Mangku (ayah kandung Suwantari) sempat berkunjung ke kandang pullet Tubagus Oky Farm. “Terus terang manten (saja) kita di sini main kekeluargaan. Sistem kepercayaan. Jadi tidak ada surat perjanjian yang dibuat,” tandasnya.
Lebih lanjut, Ariadi memaparkan Suwantari telah tiga belas kali menyetorkan uang (pertama kali secara tunai dan sisanya via transfer) kepada Tubagus Oky Farm, yakni pada (29/9/2016) senilai Rp 10 juta, (17/10/2016) Rp 15 juta, (28/11/2016) Rp 5 juta, (14/12/2016) Rp 10 juta, (2/1) Rp 3,8 juta, (3/1) Rp 2 juta 990 ribu, (5/1) Rp 3 juta 210 ribu, (8/1) Rp 4 juta, (13/1) Rp 4 juta, (18/1) Rp 3,5 juta, (18/1) Rp 500 ribu, (25/1) Rp 4 juta, dan (14/2) Rp 2 juta rupiah. “Hingga (14/2) sisa utang pembeli Rp 17 juta 832 ribu. Rincian dua kali pembelian itu kami gabung menjadi satu. Seharusnya dia (Suwantari) lunas membayar sekitar tanggal belasan Oktober 2016 karena janji dua minggu lunas. Tapi hingga 17 Oktober 2016 dia baru bayar Rp 25 juta,” tandasnya. 
Ditanyai soal pengambilan ayam pada (25/2) di mana kala itu Ariadi menunjukkan sisa utang Suwantari senilai Rp 22 juta, pria berkacamata itu menampik kala itu terjadi kekeliruan. “Dia tidak ada info setelah transfer. Setelah dicek di rekening koran memang benar ada transferan. Saya sudah sms Bu Wayan meminta dia mengirimkan nomor rekening untuk mengirim sisa uang miliknya senilai Rp 12 juta 168 ribu,” bebernya.
Terkait pengambilan 1.000 ekor ayam dan menghargainya senilai Rp 30 juta rupiah, Ariadi menjawab karena yang membeli ayam itu hanya mau membayar Rp 30 ribu per ekor. “Kalau tidak diambil 1.000 ekor tiang (saya) yang tak bisa ngoper alias menjual. Sisanya itu saya sudah mau kembalikan. Saya sudah sms Bu Wayan,” pungkasnya sembari menyebut ada bukti untuk pembelian 1.000 ayam itu. “Yang membeli ayam itu namanya Pak Sumardi,” sambungnya. Ariadi menyebut kala itu Pak Mangku meminta seekor ayam petelur miliknya dihargai Rp 100 ribu rupiah. “Itu hal yang mustahil. Ayam, khususnya petelur semakin tua harganya semakin murah. Bukan semakin mahal,” jelasnya.
Ditanyai apakah ayam Suwantari diambil berdasarkan kesepakatan, Ariadi menjawab ada miskomunikasi sehubungan dengan hal tersebut. “Susah saya berkomunikasi dengan Bu Wayan. Saya sms tak dibalas; ingin berbicara lewat hp tak diangkat. Sampai sempat saya bilang agar dia mengangkat telepon. Akhirnya saya ke rumahnya di Kintamani, tetap tak bertemu. Hanya bertemu orang tuanya. Saat ibunya nelepon baru diangkat dan kami berjanji bertemu di Denpasar,” jelasnya. Bukannya bertemu, Ariadi mengaku malah diberi alamat palsu, yakni Jalan Oberoi Gang Arjuna. “Karena dia janji transfer tapi tak ditransfer saya cari ke sana, ditelepon tak diangkat. Saya sms dia bilang masih dalam perjalanan ke ATM. Saya tunggu sejam tak ada kabar. Saya sms lagi dia bilang lagi survei vila,” bebernya. Karena putus asa, Ariadi mengaku sempat hendak pergi ke rumah Suwantari di Desa Katung, Kintamani. Namun dalam perjalanan sampai wilayah Batubulan, Gianyar, Suwantari mengatakan dirinya telah melaporkan Ariadi ke Polsek Kuta Utara atas tuduhan pengancaman. “Kejadian itu tanggal 5 Januari 2017,” tegasnya.
Lebih lanjut dijelaskan Ariadi hasil pertemuan kedua belah pihak di Polsek Kuta Utara menghasilkan perjanjian bertulis tangan di atas meterai. “Waktu itu utangnya Rp 35.832.000. Waktu itu dia berjanji akan membayar secara cicil setiap empat hari sekali sebesar minimal Rp 4 juta rupiah. Cicilan itu mulai dibayar 8 Januari 2017,” jelasnya. Ariadi menjelaskan yang menulis surat perjanjian itu Suwantari sendiri dan pihaknya sama sekali tidak melakukan pemaksaan alias ancaman. “Rp 4 juta rupiah itu diambil dari asumsi hasil telor. Dia bilang ayam-ayam yang dibelinya dari Oky Farm menghasilkan telor yang bisa dipakainya membayar setiap 4 hari sekali,” ungkapnya. Namun dalam perjalanan, Suwantari kembali tak tertib membayar hingga puncaknya pengambilan ayam pada Sabtu, 25 Februari 2017 di Banjar Katung, Desa Katung, Kecamatan Kintamani, Bangli. “Soal info bahwa saya mengajak preman ke sana, itu salah. Dia adalah karyawan Tubagus Oky Farm bernama Surya yang bertugas sebagai debt-kolektor,” tegasnya. Ariadi mengaku belajar sangat banyak dari kasus ini dan untuk selanjutnya akan memperbaiki manajemen, termasuk keharusan membayar 80 persen dari total pembelian sebelum ayam dikirim. NK-MB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *