banner-website-2-x-16cm

Widgetized Section

Go to Admin » Appearance » Widgets » and move Gabfire Widget: Social into that MastheadOverlay zone

Sekuler-Materialistik : Biang Krisis Karakter Pendidikan

 

IMG-20170219-WA0001Oleh : Isfawati Mahmud, S.Ft

Mahasiswi PascaSarjana Universitas Udayana

 

Pendidikan merupakan suatu hal yang penting dalam menopang tonggak peradaban. Disisi lain pendidikan kerap dijadikan sebagai permasalahan urgent yang  dihadapi masyarakat hari ini. Berbagai  persoalan yang terjadi di dunia pendidikan diantaranya meningkatnya kriminalitas yang dilakukan para pelajar seperti tawuran, penyalahgunaan narkoba,merebaknya video porno antar pelajar, bullying, kekerasan yang dilakukan guru kepada muridnya dan masih banyak lagi. Sungguh persoalan seperti ini sangat meresahkan masyarakat khususnya pada orang tua. Terlebih lagi ini menjadi keprihatinan besar bagi negara. Karena bagaimanapun peran negara dalam dunia pendidikan sangatlah penting.

Tetapi melihat fakta yang ada, semakin meningkatnya angka kriminalitas dalam dunia pendidikan bukti bahwa solusi yang terus di gelontorkan hanyalah solusi parsial saja. Bagaimana mungkin bisa mencetak generasi yang cemerlang ketika banyak kebijakan-kebijakan dalam dinamika dunia pendidikan yang justru kontradiktif. Sejatinya, tujuan pendidikan yaitu menciptakan manusia seutuhnya yang beriman dan bertaqwa. Tetapi sayang, sistem pendidikan yang diterapkan negara hari ini tidak memberikan ruang untuk menciptakan itu semua. Sistem pendidikan yang berlandaskan sistem sekular-materialistik ini hanya akan melahirkan sosok yang egoistik dan individualistik.

Sekularisasi pendidikan yang mendikotomikan antara pendidikan agama dan pendidikan umum pada dasarnya konsep yang diusung oleh Barat dalam menghancurkan generasi. Pendidikan sekuler-materialistik dimulai sejak Belanda menjajah Indonesia. Sejak saat itu, pendidikan di  pondok-pondok pesantren masih kental dengan pendidikan keislaman yang  terpisah dengan sistem pendidikan nasional. Namun secara kelembagaan,  sekularisasi pendidikan dimulai sejak adanya dua lembaga pendidikan yaitu pendidikan agama melalui madrasah, institut agama dan pesantren dikelola oleh Departemen Agama, sementara pendidikan umum melalui sekolah dasar, sekolah menengah dan kejuruan serta perguruan tinggi  umum dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional. Terdapat kesan yang sangat kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu kehidupan (iptek) dilakukan oleh Depdiknas dan dipandang sebagai tidak berhubungan dengan agama. Sementara,pembentukan karakter siswa yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan di sini justru kurang tergarap secara serius.

Pendidikan yang sekular-materialistik ini memang melahirkan orang-orang yang mampu menguasai sains dan teknologi dalam “pendidikan umumnya” tetapi di sisi lain telah gagal membentuk kepribadian yang mulia dan menguasai tsaqofah Islam. Tak heran ketika kita melihat hari ini banyak para lulusan pendidikan yang buta akan agama. Sebaliknya, melalui “pendidikan agama” mampu melahirkan orang yang menguasai tsaqofah Islam, kepribadian yang baik tetapi di satu sisi buta akan perkembangan sains dan teknologi. Jadi wajar ketika banyak terjadi penyalahgunaan dalam berbagai sektor karena yang menempati itu semua adalah orang-orang yang  kurang faham agama. Agama hanya dijadikan sebagai pengatur hubungan dalam satu aspek saja(ibadah ritual) tetapi tidak dijadikan sebagai pengatur segala aspek kehidupan.

Disamping itu pendidikan sekuler-materialistik juga melahirkan orang-orang yang orientasinya hanya kepada material semata. Seakan-akan apa yang sudah dikeluarkan dalam dunia pendidikan harus dikembalikan entah itu dalam hal meraih gelar, jabatan, kekayaan dan lainnya yang bersifat material. Akhirnya muncullah berbagai cara dalam meraih itu semua. Hal-hal semacam inilah yang sejatinya meracuni pemikiran-pemikiran kaum muslimin sehingga  terbukti bahwa pendidikan sekuler-materialistik ini telah gagal menciptakan generasi yang memiliki kepribadian yang luhur dan mampu menguasai sains dan teknologi secara bersamaan.

Melihat kondisi seperti ini seharusnya kita merasa geram bahwasanya generasi kita yang merupakan investasi peradaban berada diujung tanduk kerusakan. Perlu disegerakan perubahan dalam dunia pendidikan. Tetapi perubahan seperti apa yang dilakukan ?? Seperti yang dilansir di Tribunnews.com  “Saat ini kita fokuskan pada peningkatan akses pada layanan pendidikan, menguatkan pendidikan vokasi sebagai langkah strategis untuk produktivitas dan daya saing, serta mejadikan kebudayaan menaungi pendidikan nasional sebagai upaya merevolusi karakter bangsa,” ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Jumat(30/12/16). Ditambahkannya, bahwa implementasi Penguatan Pendidikan Karakter(PPK) akan menjadi motor utama kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan dan kebudayaan.

Pendidikan karakter muncul karena melihat adanya krisis karakter di dunia pendidikan. Tetapi itu bukan solusi yang tuntas, karena berbagai persoalan yang muncul didunia pendidikan bukan semata-mata masalah dari dalam pendidikan tetapi ini permasalahan yang komprehensif dengan bidang lain, yaitu kebijakan pemerintah tentang politik yang mendukung pendidikan, media yang edukatif, ekonomi yang mensejahterakan, budaya masyarakat yang kondusif, dll.

Kebijakan-kebijakan yang diterapkan dalam dunia pendidikan sangat bertentangan dan  masih belum mampu menciptakan karakter-karakter mulia yang al fikru-al mustanir. Misalnya aktivitas yang mengarah pada liberalisasi perilaku difasilitasi, sementara kegiatan rohis dan keagamaan dicurigai bahkan dilarang. Konten pelajaran yang mengarah pada pemahaman islam Kaffah dihilangkan, sementara konten liberal dan merusak moral secara vulgar dibiarkan. Upaya pembungkaman rohis dan aktivis dakwah di sekolah , pesantren dan mesjid di kampus  dilakukan secara masif, sementara kegiatan-kegiatan hedonis disemarakkan.

Hal ini menjadi pertanyaan besar buat kita, mengapa hal itu terjadi ?? Dan tentu tidak bisa melahirkan generasi pencetus peradaban ketika sistem pendidikan masih menggunakan sistem sekuler-materialistik. Oleh karena itu, Islam memiliki konsep yang berbeda dengan Barat. Pendidikan dalam Islam adalah upaya sadar, terstruktur, terprogram, dan sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan yang telah digariskan syari’at Islam adalah membentuk manusia bertaqwa yang memiliki kepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah) secara utuh, yakni pola pikir dan pola sikapnya didasarkan pada akidah Islam. Dengan tujuan pendidikan seperti ini, output yang akan dihasilkan dari pendidikan Islam adalah generasi yang bertaqwa, tunduk dan taat pada hukum-hukum Allah, bukan generasi yang miskin moralitas, lemah dan tidak memiliki ghirah agama. Kurikulum dan kebijakan pendidikan berpijak pada pengokohan akidah, penguatan kepribadian islam, faqih dalam agama dan tinggi dalam saintek. Akhirnya akan melahirkan sosok pribadi yang berkarakter  ulama sekaligus ilmuwan. Kebijakan negara didukung oleh kurikulum, kegiatan sekolah dan ekstrakurikuler serta lingkungan yang kondusif. Para ulama mengatakan  “ Orang Barat bisa maju karena meninggalkan agamanya, sedangkan Muslimin hanya akan maju jika ia mendalami agamanya. Wallahu’alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *