banner-website-2-x-16cm

Widgetized Section

Go to Admin » Appearance » Widgets » and move Gabfire Widget: Social into that MastheadOverlay zone

Ketahanan Nasional Berawal dari Ketahanan Keluarga

isfawati-mahmud-s-ft

Oleh

Isfawati Mahmud, S.Ft

Di saat membicarakan ketahanan nasional bangsa ini, banyak pihak yang fokus membicarakan pentingnya memperkuat pertahanan dan keamanan dengan memodernisasi angkatan bersenjata. Tidak lebih dari itu, penambahan angaran untuk biaya operasional dan pembelian alutsista yang lebih banyak dan lebih canggih. Akan tetapi ada aspek yang terlupakan dimana  salah satu faktor melemahnya ketahanan nasional suatu bangsa akibat dari rapuhnya ketahanan dalam keluarga. Keluarga merupakan suatu unit terkecil dalam kehidupan bermasyarakat yang sangat berpengaruh dalam meningkatkan ketahanan nasional. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengingatkan generasi muda akan pentingnya ketahanan keluarga sebagai dasar bagi ketahanan negara. Saya ingin mengingatkan bahwa upaya membangun ketahanan nasional dimulai dari unit terkecil yaitu ketahanan keluarga,” kata Khofifah di hadapan para peserta program Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) di Jakarta, Jumat (3/6).

Saat ini berbagai permasalahan seperti narkoba, kekerasan seksual, banyak yang berawal dari kerentanan keluarga. Jika ada kerentanan dalam keluarga, biasanya yang pertama sekali menjadi korban adalah anak-anak. Tahun 2013 lalu, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sudah mengabarkan soal angka perceraian di Indonesia yang menduduki peringkat tertinggi di Asia Pasifik. Dan angka perceraian tersebut tak kunjung menurun di tahun-tahun berikutnya. Menurut data Pustlitbang Kementerian Agama, penggugat cerai lebih banyak dari pihak perempuan, yaitu sebanyak 70 persen dari kasus perceraian yang ada. Lalu, apa alasan utama pasangan Indonesia bercerai? Menurut data Litbang 2016, setidaknya ada empat alasan utama pasangan di Indonesia bercerai, antara lain hubungan sudah tidak harmonis, tidak ada tanggung jawab, khususnya terhadap anak, kehadiran pihak ketiga dan persoalan ekonomi.

Seperti dilansir dalam Republika.Co.Id, Jakarta — Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Venetia R. Danes akan melakukan sosialisasi pada pemerintah daerah (pemda) ihwal pemberdayaan keluarga. Hal tersebut merupakan upaya untuk menekan tingginya angka perceraian.
“Sosialisasi pada pemda bagaimana mau memberdayakan keluarga agar kekerasan berkurang,” kata dia kepada Republika.co.id, Jumat (7/10)., Meningkatnya angka perceraian merupakan bukti bahwa katahanan dalam keluarga sangat rapuh dan lemah sehingga anak-anak menjadi korban. Wajar saja ketika banyak perilaku menyimpang yang dilakukan oleh generasi hari ini diakibatkan kurangnya kontrol dari keluarga. Disamping itu canggihnya teknologi juga menjadi salah satu faktor generasi banyak melakukan tindakan menyimpang karena tontonan yang ditayangkan tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku.

Berbagai masalah tersebut tak lain sudah diatur sedemikian rupa. Penghancuran keluarga dan pembunuhan karakter bagi generasi muda sudah menjadi skenario yang sistemik. Sejatinya, aspek ideologi merupakan salah satu aspek yang harus dipenuhi dalam mencapai ketahanan nasional. Penguatan ketahanan nasional bisa dilakukan mulai dari penguatan ideologi suatu bangsa. Tapi sayang, ideologi kapitalisme yang diemban negara ini telah membuat para pemegang kekuasaan untuk mengambil kebijakan yang sesuai dengan pesanan para kapitalis.

Ancaman Liberalisasi : Ketahanan Keluarga Lemah,

Tumbuh suburnya kapitalisme yang ditopang oleh negara dalam mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara tentu membawa pengaruh bagi setiap keluarga. Kapitalisme yang menjunjung tinggi empat (4) macam kebebasan yaitu kebebasan beraqidah, kebebasan berpendapat, kebebasan bertingkah laku, dan kebebasan kepemilikan telah membuat eksistensi sebuah keluarga terancam.

Fakta rapuhnya keluarga muslim yang disebabkan faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu lemahnya aqidah kaum muslimin sehingga tidak memiliki visi dan misi hidup yang jelas, juga lemahnya pemahaman terhadap aturan-aturan Islam termasuk konsep pernikahan dan berkeluarga. Rendahnya pengetahuan akan nilai-nilai yang islami membuat komitmen terhadap nilai keislaman menjadi rendah mengakibatkan ketahanan keluarga akan mudah rapuh. Sedangkan faktor eksternal yang membuat keluarga muslim semakin rapuh, adalah konspirasi asing untuk menghancurkan umat Islam dan keluarga muslim melalui serangan pemikiran dan budaya sekuler yang rusak dan merusak. Sikap hidup yang matrealistis. Kehidupan yang lebih mementingkan materi membuat orangtua hanya berpikir untuk mencari uang yang banyak. Anak hanya dicukupi secara materi namun mengabaikan aspek kasih sayang dan perhatian. Akibatnya anak banyak mencari perhatian di luar rumah, sehingga cenderung melakukan perilaku menyimpang. Berkembangnya nilai-nilai jahilliyah yang dapat dengan mudah diakses melalui kemajuan teknologi yang terjadi saat ini. Nilai tersebut akan mudah diserap jika pondasi nilai-nilai keislaman keluarga rendah. Selain itu, minimnya komunikasi antar anggota keluarga. Tuntutan ekonomi terkadang membuat kedua orangtua harus bekerja. Kesibukan dalam bekerja seringkali membuat komunikasi antar anggota keluarga terhambat. Komunikasi yang terjadi lebih banyak yang bersifat sekunder, yaitu menggunakan alat-alat komunikasi seperti smart phone. Padahal komunikasi primer antar anggota keluarga akan lebih meningkatkan keharmonisan keluarga. Faktor eksternal inilah yang saat ini sedang digencarkan oleh pengemban ideologi liberalisme kepada kaum muslimin.

Keluarga merupakan agen sosialisasi primer dalam pembentukan kepribadian individu. Ketika fungsi dalam sebuah keluarga tidak sepenuhnya berjalan, maka akan mempengaruhi ketahanan keluarga tersebut. Ketahanan keluarga adalah konsep dalam menjaga kehidupan rumah tangga islami dari nilai-nilai liberalisasi dan sekuler yang dapat mengancam eksistensi keluarga tersebut dalam mengamalkan nilai-nilai yang islami. Ketahanan keluarga yang baik akan memberikan pengaruh yang positif dalam kehidupan masyarakat.

Negara dan Ketahanan Keluarga

Keluarga muslim haruslah dibangun berdasarkan ketaqwaan kepada Allah SWT, sehingga setiap anggota keluarga senantiasa berupaya menjalankan hak dan kewajiban menurut syariat Islam. Disamping itu keluarga muslim adalah keluarga yang punya tanggungjawab dan kepedulian untuk amar makruf baik di tingkat masyarakat maupun terhadap penguasa. Mewujudkan ketahanan keluarga sebagai salah satu pilar katahanan masyarakat dan bangsa tidak bisa dibebankan pada kualitas individu dalam memerankan diri di masing-masing keluarganya. Fungsi religi, edukasi, proteksi, ekonomi, sosialisasi, afeksi, reproduksi dan rekreasi mustahil diwujudkan oleh masing-masing keluarga tanpa peran besar negara. Negara diharapkan menyediakan seluruh perangkat dan prasarana agar setiap individu dan setiap keluarga mampu memerankan fungsi-fungsinya secara ideal, tanpa gangguan dan tidak tumpang tindih. Fungsi ekonomi misalnya, bisa terjalan bila negara menopangnya dengan memberikan pendidikan untuk menjelaskan siapa saja pihak yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Negara juga harus menyediakan program dan sarana pelatihan agar individu terampil bekerja, membuka lapangan kerja, memberi kemudahan permodalan dan pengembangan usaha . Negara bahkan dituntut menghapus semua praktik kecurangan di dunia usaha. Karenanya, mengatasi kerapuhan keluarga yang dipicu faktor kemiskinan tidak bisa dilakukan dengan mendorong lebih banyak kaum ibu untuk bekerja. Justeru kebijakan ini akan berlawanan dengan perwujudan fungsi keluarga yang lain yang melibatkan ibu.

Demikianlah betapa besar peran yang semestinya dihadirkan oleh negara dalam menyokong terwujudnya fungsi keluarga. Fungsi negara itu bisa dijalankan tatkala ideologi yang diemban bukan ideologi kapitalisme. Akan tetapi asas negara yang berlandaskan aqidah Islam. Islam merupakan satu-satunya solusi dalam menyelesaikan segala problematika yang terjadi. Begitu mulianya Islam, karena bukan hanya dalam tataran ibadah spiritual saja, tetapi segala aspek  diatur mulai dari individu sampai negara. Oleh karena itu hal yang pertama kali harus dilakukan dalam mencapai ketahanan nasional adalah menciptakan ketahanan keluarga. Keluarga adalah bagian terkecil dari suatu masyarakat yang dapat memberikan pengaruh yang signifikan. Jika keluarga kuat maka Negara akan hebat.

Penulis : Mahasiswa Program Pasca Sarjana Universitas Udayana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *