banner-website-2-x-16cm

Widgetized Section

Go to Admin » Appearance » Widgets » and move Gabfire Widget: Social into that MastheadOverlay zone

Fenomena Donald Trump

donald-trump23

Donald Trump/MB

Denpasar, (Metrobali.com) – 

Satu tahun lebih kampanye panjang pemilu presiden Amerika Serikat berujung pada terpilihnya Donald Trump sebagai presiden pada pemilihan Tanggal 8 Nopember 2016. Kampanye yang penuh drama dari kedua kandidat menjadi pusat perhatian masyarakat serta para pengamat politik dari berbagai belahan dunia. Kemenangan Donald Trump sempat mematik reaksi negatif dari para pelaku ekonomi. Unjuk rasa sampai saat ini masih mewarnai di beberapa Negara bagian di Amerika Serikat.

Fenomena kemenangan Donald Trump diluar dugaan banyak pihak, dimana berbagai survey selalu memenangkan Hillary Clinton. Para pengamat pun mencoba untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. Donald Trump dalam kampanyenya bangga dan tanpa rasa bersalah terhadap skandal pelecehan seksual, berencana akan membuat tembok tinggi pada perbatasan dengan meksiko untuk menghambat imigran masuk ke Amerika Serikat, berniat melarang Muslim untuk masuk ke Amerika Serikat dan menuduh mereka sebagai teroris, dekat dengan Vladimir Putin dengan sering memujinya, mendapat dukungan dari pemimpin kelompok rasis KKK, menyarankan Jepang dan Korea Selatan membuat senjata nuklir, serta kampanye-kampanye menebar kemarahan dan ketakutan telah berhasil menjadi pemimpin sebuah negara adikuasa.

Dalam kampanyenya Donald Trump secara mengejutkan menyebut Presiden Amerika Serikat, Barack Obama adalah pencipta ISIS. Hal tersebut disampaikan Trump dalam pidato kampanye di Fort Lauderdale, Florida, Amerika. Seperti dilansir dari The New York TimesRabu (10/8), calon presiden partai Republik tersebut menyebut, itulah alasan kenapa Obama dihormati orang-orang. Menurut Trump, Obama adalah pencipta ISIS itu sendiri. Tidak heran kelompok tersebut memiliki kekuatan yang besar. Kemudian, menurut Trump ada orang lain yang menjadi ‘tandem’ Obama dalam membangun ISIS. Trump pun menyebut nama pesaingnya dari partai Demokrat, Hillary Clinton. Clinton disebut sebagai pihak yang membantu Obama untuk membentuk ISIS sampai sekarang. Namun, ini bukanlah yang pertama Trump menuduh saingannya terlibat dalam ISIS. Trump juga selama selalu mengaitkan Obama serta Clinton yang terus mendukung pihak Timur Tengah untuk membangun kekuatan Irak lewat ISIS. Trump pun juga sering mengritik kebijakan Obama dalam tindakan menghadapi negara-negara Timur Tengah. Trump menyebutkan kalau Clinton Foundation mendapat pendanaan dari perusahaan-perusahaan gelap. Menurutnya, perusahaan tersebut terjalin kerjasama dengan ISIS dan kelompok bersenjata lainnya di Suriah. Trump pun menyebut kalau Clinton punya tujuan terselubung. Trump melanjutkan kalau Hillary Clinton adalah salah satu calon presiden modern yang punya kebrutalan tingkat tinggi. Menurut Trump, Clinton punya hubungan dekat dengan rezim-rezim radikal. Kemudian, Trump pun mengaku dirinya telah menemukan bukti kalau Clinton Foundation menerima dana dari perusahaan yang berkaitan dengan ISIS. (IDNTimes.com)

Berbagai lembaga swadaya masyarakat semacam kawal pemilu di Indonesia melacak bahwa apa yang dikatakan Donald Trump saat kampanye sebagian besar jauh dari fakta dan sebagain besar condong manipulatif. Nicholas Reed Smith menulis tentang ini di spin-off The: Fenomena Trump. Era saat ini dalam berdemokrsasi dinegara-negara barat telah memasuk era Post-truth politics.

Post-truth politics adalah budaya politik di mana wacana dan perdebatan dibingkai oleh sebagian besar narasi-narasi yang menyentuh  emosi yang kadang-kadang tidak ada hubungan dengan substansi masalahnya. Bingkai narasi ini dinyatakan dan disajikan secara berulang-ulang dengan mengabaikan sanggahan dan segala fakta yang ada. Istilah Post-truth politics diungkapkan pertama kali  oleh David Roberts dalam sebuah posting blognya untuk Grist pada tanggal 1 April 2010, di mana ia mendefinisikan sebagai “budaya politik”di mana politik (opini publik dan media narasi) telah menjadi persepsi terhadap keseluruhan masalah yang tidak ada hubungannya dengan substansi kebijakan atau substansi undang-undang. Gaya kampanye semacam itu berusaha menciptakan cara pandang dan persepsi yang tidak sesuai dengan fakta dengan meniadakan bantahan fakta yang ada. Pola yang dibangun adalah mengutamakan hal-hal  yang menyentuh emosional sehingga fakta menjadi tidak penting. Kampanye yang dibangun lebih banyak memperkuat prasangka.

Katalis utama bagi munculnya post truth politics adalah maraknya serbuan media sosial ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Berkembangnya internet sebagai wahana komunikasi yang bebas menjangakau seluruh penjuru dunia dengan sangat cepat telah merubah pola berfikir penduduk dunia saat ini. Informasi tanpa terkendali diserap oleh publik menjadi lahan subur praktek post truth politic.

Fenomena Trump hampir sama dengan fenomena Brexit yang juga mengenjutkan banyak pihak. Peristiwa itu mengukuhkan bahwa ada gelombang yang mengaburkan antara realitas dengan persepsi yang dibentuk. Fenomena kampanye Trump dan Brexit menemukan lahan subur karena menggunakan ide kampanye non-linear. Singkatnya, kampanye non-linear bertujuan untuk membuat gerakannya undefinable. Idenya adalah bahwa jika sesuatu yang undefinable, maka itu juga uncriticisable. Ide non-linear ini diciptakan di Rusia, gagasan dari salah satu penasihat Vladimir Putin, Vladislav Surkov. Putin telah menggunakan pendekatan non-linear ini di dalam negeri dan juga digunakan dalam intervensi di Ukraina.

Menyikapi fenomena Trump dan Brexit bagaimana kita di Indonesia? Publik yang setiap saat mendapat gempuran informasi yang berlimpah dalam media sosial diharapkan melengkapi proteksi diri dengan informasi yang benar dengan membangun kesadaran literasi politik netizen. Keberlimpahan informasi bukannya tidak mungkin melahirkan pula pola post-truth politics, terutama bagi para netizen. Pertarungan opini dimedia kerap kesulitan membedakan antara realitas dan fantasi sehingga membuat esensi kampanye tak menyentuh substansi masalah. Para kandidat dan tim kampanye diharapkan menggunakan media sosial fokus pada pertarungan gagasan dan tidak terjebak pada pola post-truth politics. Publik saat ini memiliki tantangan dalam meneliti prilaku kampanye para calaon pemimpin kita. Kelompok masyarakat yang tercerahkan diharapkan membentuk gerakan sosial untuk menjaga kejernihan persepsi atas kemungkinan-kemungkinan kampanye dengan menggunakan cara post-truth politics. Bagaimana menurut anda?

Penulis:

I Gusti Ngurah Agung Darmayuda

Komisioner KPU Kota Denpasar

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *