Widgetized Section

Go to Admin » Appearance » Widgets » and move Gabfire Widget: Social into that MastheadOverlay zone

REKLAMASI DAN MASA DEPAN PARIWISATA BALI

ADA sejumlah fenomena masa kini, salah satunya kemacetan lalu lintas, yang akan menjadi penyebab dari berakhirnya usia slogan Pariwisata Budaya. Pada akhirnya masyarakat Bali akan dihadapkan pada dua pilihan yang serba sulit, apakah memilih melanjutkan budaya ataukah pariwisata. Memilih budaya, berarti akan begitu banyak kepentingan pariwisata yang harus mengalah atau dikalahkan, salah satunya kenyamanan berlalu-lintas. Sebaliknya memilih pariwisata, berarti budayalah yang harus sedikit mengalah, walau bukan berarti kalah.

Persoalan itu cukup serius, sebab selama kebijakan perlalulintasan masih tetap lebih mengistimewakan penggunaan kendaraan pribadi ketimbang yang massal, maka semua pembangunan infrastruktur lalu lintas akan sia-sia. Tak ada gunanya lagi membanggakan diri punya underpass di Simpang Siur dan jalan di atas perairan (JDP) yang menghubungkan Denpasar, Bandara Ngurah Rai, dengan Nusa Dua. Sebab pada akhirnya seiring dengan semakin banyaknya jumlah kendaraan pribadi, maka akan banyak lagi bermunculan underpass dan JDP baru.

Kalau yang bermunculan adalah underpass, tentu tak jadi masalah. Tetapi bagaimana jika muncul JDP. Perairan Bali pun jadi berkalung beton. Keindahan dan nilai ritual pantai pudar. Apalagi lahan-lahan hijau semakin habis demi membuat rute-rute jalan baru, akibat tak berani membuat jalan layang atau fly over disejumlah persimpangan jalan yang krodit.

Akibatnya, Pariwisata Budaya menjadi hanya sebuah konsep yang kehilangan daya tarik. Jika memang tetap ingin mengais devisa dollar, para turis mesti diberikan suguhan produk pariwisata baru. Bentuknya bisa sebuah budaya populer versi Asia, yang sebenarnya sudah marak di Kuta, Sanur, Legian, dan Nusa Dua. Salah satu yang menarik adalah shopping ala pariwisata Singapura. Mengapa Singapura yang luasnya tak lebih dari seperlima pulau Bali bisa menjadi pusat belanja dunia di Asia? Jawaban historisnya tentu, karena Singapura adalah bekas jajahan Inggris.

Beda dengan pemerintah kolonial Belanda yang lebih mengutamakan pengadaan kuli kontrak, Inggris lebih mementingkan keberadaan kelas menengah, yang akan dijadikan pasar sebagai produk-produk industri negara asal mereka. Kelompok kelas menengah itulah yang membesarkan Singapura seperti yang terwariskan sekarang ini. Andaikan saja tahun 1830-an Bali jadi dijajah Inggris, tentu akan menjadi negara yang lebih besar dari Singapura.

Tapi tentu jangan berhenti pada jawaban historis belaka, apalagi berandai-andai seperti itu. Bukankah kelas menengah di Bali sudah tercipta melalui jalur pariwisata. Lihatlah begitu banyak anak petani dan buruh tani yang tiba-tiba menjelma menjadi kelas menengah yang sukses di bidang industri pariwisata. Mereka lantas meneteskan kesuksesannya, sehingga banyak sekali orang yang kecipratan rejekinya. Karena itu menambah jumlah kelas menengah dan memperlebar ruang gerak mereka, merupakan program penting bagi pemprov Bali sekarang ini. Jika demikian pilihannya, sudah saatnya pemprov Bali berusaha mengembangkan diri ke model pariwisata ala Singapura.

Demi mencapai tujuannya sebagai daerah tujuan utama pariwisata dunia di Asia, Singapura bahkan sampai melakukan reklamasi pantai, sehingga luas wilayahnya jadi semakin luas. Singapura bisa reklamasi, mengapa Bali tidak? Asalkan sumber materialnya bukan diambil dari wilayah Bali, seperti yang dilakukan oleh Singapura dengan cara mengimpornya dari luar negeri, tentu tidak ada masalah melakukan reklamasi di Bali.

Sekalipun ada peluang, persoalannya adalah, begitu banyak orang Bali, ahli maupun awam, merasa punya hak berbicara untuk mengkaitkan reklamasi dengan abrasi. Mungkin ada benarnya juga, namun dalam artikel yang berjudul “Mencermati Ancaman Abrasi di Bali,” koleksi http://www.cybertokoh.com, disebutkan tanpa faktor manusiawi pun, abrasi tetap akan terjadi secara rutin dan perlahan tapi pasti. Proses kejadiannya berbeda satu sama lain. Ada yang sangat cepat dan ada pula lambat. Abrasi yang paling parah di wilayah Indonesia terjadi di Bali Selatan dan Timur serta kawasan Pantai Utara Jawa, seperti di pesisir Indramayu, Brebes, Tegal, dan Pekalongan.

Masih dalam artikel itu, disebutkan kekuatan alam yang menjadi penyebab dari terjadinya abrasi bisa muncul ke permukaan bumi. Kedatangannya sangat sulit diprediksi sekalipun dengan memanfaatkan kemajuan teknologi canggih. Namun karena pantai juga mempunyai fungsi keagamaan, maka ada yang langsung menyimpulkan, bahwa penyebab abrasi di Bali adalah reklamasi atau pengerukan tanah pantai di Pulau Serangan dan Benoa. Namun pendapat ini dibantah oleh yang lain. Alasannya, jika benar sampai bisa menyebabkan terjadinya abrasi, lalu mengapa reklamasi secara besar-besaran di Pantai Ancol tahun 1970-an tidak menimbulkan abrasi yang parah seperti di Bali.

Pendapat yang menghubungkan abrasi dengan reklamasi pun semakin tidak mempunyai kebenaran ilmiah, karena pada kenyataannya pengikisan tanah-tanah pantai oleh air laut terjadi jauh sebelum adanya reklamasi di Serangan dan Benoa. Hal itu terungkap dalam artikel berjudul “Abrasi Mengancam Bali,” koleksi http://guswestnawa.wordpress.com. Disebutkan dalam artikel itu, pada tahun 1987 misalnya, abrasi di Bali terjadi di sepanjang 49,95 kilometer. Artinya, dalam kurun waktu lebih dari 20 tahun terjadi penambahan abrasi sepanjang 131,75 kilometer garis pantai atau rata-rata per tahun 5,98 kilometer. Hingga tahun 2009 abrasi di Bali terjadi di sepanjang 181,70 kilometer dari keseluruhan panjang pantai di Bali yang mencapai 437,70 kilometer.

Sementara, dalam artikel “Tahukah Anda Ternyata Air Laut Bali,” koleksi http://arekprambon.blogspot.com, disebutkan kondisi pantai di Bali yang paling parah mengalami abrasi adalah pantai di kota Denpasar. Ibukota Provinsi Bali yang mempunyai panjang pantai 9 kilometer secara keseluruhan telah tergerus oleh abrasi. Abrasi terparah di kota Denpasar terjadi di Pantai Sanur. Rusaknya garis pantai di Sanur berpotensi terjadinya tsunami yang dahsyat. Diperkirakan aliran air laut saat terjadinya tsunami akan masuk ke darat hingga jarak 8 kilometer dengan ketinggian air 6 meter.

Akhirnya berkat bantuan dari pemerintah Jepang, masalah abrasi terutama di Pantai Sanur bisa diatasi. Dalam artikel “Pantai Bali Mengkhawatirkan Akibat Abrasi”, koleksi http://www.suryakarya-online.com, disebutkan sebelum kedatangan Jepang, sesungguhnya sejak tahun 1980 pemerintah daerah Bali sudah melakukan upaya penanggulangan abrasi pantai-pantai di Bali. Abrasi yang begitu parah di pantai-pantai Bali segera memerlukan penanganan. Penanganan pun dilakukan dengan memanfaatkan berbagai sumber dana. Asal dana dari berbagai anggaran baik pemerintah pusat maupun dana APBD Bali. Namun upaya itu belum mampu menghentikan abrasi. Akhirnya pemerintah Jepang menyatakan siap membantu menanganinya. Jepang yang merupakan negara pemasok wisatawan mancanegara terbesar di Bali, sebelumnya telah memberikan pinjaman sebesar 9,5 miliyar yen untuk penanggulangan abrasi pantai sepanjang 11,9 kilometer di empat lokasi yang dinilai strategis.

Demikianlah, dalam menyikapi pro-kontra reklamasi di Teluk Benoa, sebagai seorang sejarawan saya hanya bisa menyajikan intertekstualitas reklamasi itu, tidak punya kemampuan membenarkan atau menyalahkannya. Biarkanlah para ahli di bidangnya yang bersuara tentang persoalan itu. Namun menyangkut prediksi mengenai akan segera berakhirnya magnet slogan Pariwisata Budaya, saya rasa bukan hal yang main-main.

Hukum sejarah berkata, suatu budaya masyarakat yang sudah sampai pada puncaknya, bagaimana pun pasti akan melemah, lantas menurun, dan hancur dengan sendirinya. Harus diakui budaya telah mengantarkan orang-orang Bali sampai pada puncak pariwisata budaya, seperti terlihat dari meningkatnya kesejahteraan individu-individu. Tapi prestasi harus dikonversi dengan biaya sosial yang sangat mahal, yakni persoalan lalu lintas dan kerusakan lingkungan seperti sudah disebutkan di atas.

Jika sudah sadar hukum sejarah akan berlaku di Bali, karena itu tirulah pohon salak yang selalu meremajakan diri demi bertahan hidup. Mengadopsi model pariwisata Singapura, sambil merenovasi model pariwisata budaya yang sudah keropos, saya rasa sangat perlu. Jika berhasil,  akan muncul iklan “di Bali ada Singapura dan di Singapura tidak ada Bali.”  

Demi mencapai tujuan itu, bila perlu seperlima wilayah Pulau Bali diolah jadi Singapura. Jika kurang rela, karena akan merusak hutan, tentu tidak ada salahnya melakukan reklamasi, asalkan memenuhi persyaratan yang dikemukakan oleh para ahli independen, bukan yang penuh kepentingan politik dan maklar.

Kalau para ahli sudah mengatakan wilayah Bali Selatan dan Timur rawan abrasi secara alami, mengapa ditambahkan lagi dengan yang buatan manusia. Bukankah lebih baik ciptakan tiruan pariwisata Singapura di Bali Utara? Dan itu akan bisa dicapai tanpa perlu reklamasi. Sekalipun sampai terpaksa reklamasi, tentu resikonya tidak akan sebahaya di Bali Selatan dan Timur.

Secara mentalitas, orang-orang Bali Utara yang lebih lama berkenalan dengan budaya Barat akan lebih siap ketimbang Bali Selatan atau Timur. Kesiapan mental memang sangat diperlukan jika memang Bali ingin membuat model pariwisata ala Singapura. Sebab di dalamnya akan penuh dengan infra dan suprastruktur pariwisata antara lain ada hotel, bank, rumah sakit, universitas, mall, menara, dan lain sebagainya yang serba modern dan berkualitas internasional.

Salah satu infrastruktur, tempat mentalitas manusia terujikan adalah jalan-jalan layang dan rel monorel, suatu yang belum mungkin dilakukan di Bali Selatan, karena banyak orang merasa tidak boleh masulub, berjalan atau berada ditempat yang menjadikan kepala dilangkapi orang lain. Akan lebih tidak boleh lagi, apalagi berjalan sambil membawa benda-benda sakral, karena akan menjadikan roh-roh suci tidak lagi suci akibat terkena aib.

Kalau pariwisata Bali Selatan masih dikelola dengan mindset seperti itu, biarlah. Tapi sebagai antisipasi robohnya pola pengembangan pariwisata peninggalan zaman kolonial itu, Bali harus membangun model pariwisata post-kolonial yang mampu memberikan perlawanan terhadap keterbatasan model pariwisata kolonial, sehingga Bali akan bisa seperti pohon salak, bukan pohon pisang yang sekali berbuah harus ditebang.

Karena itu demi masa depan Bali, biarlah Bali Utara menjual pariwisata modern model Singapura, dan Bali Selatan yang klasik. Kebetulan sekarang sudah akan diambil keputusan untuk membangun bandara internasional di Bali Utara, lalu apa salahnya bersiap diri menjadi Singaraja sebagai saingan Singapura, ayolah Bapak Bupati Buleleng. Bangkitkan Gumi Panji Saktiné, tarik investor reklamasi Teluk Benoa ke Buleleng[]

Oleh

Nyoman Wijaya

Staf Dosen Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Udayana

Direktur Kantor Sejarawan Profesional Tri Sadhana Putra

 

Tinggal di iwijayastsp@yahoo.co.id

21 Responses to REKLAMASI DAN MASA DEPAN PARIWISATA BALI

  1. Laskar Peceng-Perot Reply

    July 14, 2013 at 5:20 AM

    Tulisan Pak Nyoman Wijaya , cukup menarik dan menjadi aspirasi masyarakat Bali Utara , Singaraja Sakti, Buleleng memliki pulau menjangan alam didalamnya hampir belum tersentuh oleh pariwisata, selama ini hanya sebagai tempat untuk metirtayatra bagi umat hindhu di Bali, laut disekitarnya kaya keindahan dengan terbukti banyak para tourism melakukan penyelaman melihat satwa yang ada di dasar laut, ini salah satu modal pariwisata Bali utara mampu bersaing dengan Bali Selatan yang urgen dengan kesakralannya, trim,s

    • agunggus Reply

      July 14, 2013 at 5:59 AM

      saya rasa tidak hanya dgn reklamasi bali akan menjadi tempat yg akan menyaingi singapura….Dgn begini saja, dgn menjadi pulau klasik yg berbudaya saja, Bali sudah menjadi one of the tourist destination di asia, dan manca negara tau itu…Singapur adalah negara kecil yg modern yg penuh dgn kerlap kerlip kemewahan, nuansa alam pun bisa direkayasa secara artificial, karena konsep asli tdk bisa dia dapat seperti yg Bali miliki. Bagi saya konsep negara yg terlalu memgutamakan modernity kadang bisa membuat menjadi budaya bali tertelan oleh imbas kemegahan tempat berpijak yg tentunya ciri khas pulau itu menjadi pudar….

    • Nyoman Dupa Reply

      July 14, 2013 at 5:32 PM

      Reklamasi Daerah Tanjung Benoa dan dampak di daerah sekitar dan Bali pada umumnya.

      Berbicara mengenai reklamasi sekarang di Bali merupakan hal yang ketumpang tindihan atau pro dan kontra di kalangan masyarakat, Apa yang menyebabkan demikian? Saya kira dalm proses ini adanya suatu yang tidak beres dalam menanggulanginya.Kemungkinan insvestor hanya mau mengeruk keuntungan pribadi dan tidak memperdulikan dampak lingkungan di sekitarnya khususnya Bali, kalau di biarkan perkembangannya ekosistem dan keberadaan alam Bali akan rusak keindahannya dan tidak mempunyai nilai taksu.
      Kalau kita lihat ke belakang sejarah Pariwisata Bali telah dimulai pada abad 20 dimana sebelumnnya Bali ditemukan pada tahun 1579 oleh orang Belanda yang bernama Cornellis de Houtman dalam ekspidisinya mengelilingim dunia. Dalam perjalannya ini dia melihat dari jauh ada sebuah pulau kecil yang penuh dengan pohon yang rindang, setelah dia mendarat dia hanya menemukan keunikan kehidupan yang dia tidak pernah dilihat di daerah lain yang dikunjinginya.Kemudian dia pulang kenegaranya dan menceritakan apa yang telah lihat. Semenjak itulah negara- negara Eropa datang ke Bali seperti Begia, jerman, Spanyol dll.

      Reklamasi dan banyaknya investor yang tidak tahu filosopi Tri hita karena, hanya mau mengubah Bali dan mengeruk keuntungan pribadi dan tidak melihat dampak lingkungannya, ini menandakan Bali seperti Pulau Mykonos di negara Greece yang sekarang digoncang kemiskinan, saya tidak mau demikan, marilah kita belajar dari sejarah dan jangan membiarkan diri kita di perbudak dirumah kita sendri

      Memperkembangkan Bali selanjutnya, dimana globalisasi pariwisata yang begitu meluas di perlukan penangan yang serius dan dibutuhkan seorang yang konsisten dibidangya , jangan Bali diperjual belikan kepada investor karena pariwisata itu hanya bersifat sementara. kemungkinan anak cucu kita tidak tahu Bali yang sebenarnya nanti. Perkembangan sektor pariwisata di Bali banyak daerah yang tidak dijamah serius seperti karangasem; Buleleng, Negara daerah ini mempunyai banyak potensial, jangan hanya didaerah selatan dibangun.

    • Madetolis Reply

      July 14, 2013 at 7:50 PM

      patut nike pak…pengembangan pembangunan pariwisata seyognyana bukan hanya di Bali selatan, di Bali Utara pun (yg kaya akan keindahan bawah lautnya) mestinya harus dipikirkan sehingga pemerataan peningkatan kualitas hidup masyarakat Bali terlihat….banyak lahan yg kering & tandus di Bali utara yg bisa di sulap menjadi objek wisata seperti yg diuraiakn Pak Nyoman Wijaya, Reklamasi bukan menjadi pilihan utama memajukan Pariwisata Bali….(kebetulan saya besar di Bali Utara (Barat) yang lgi mekuli di Pulau Sulawesi)…suksma

  2. Santun Reply

    July 14, 2013 at 5:40 AM

    Bali tidak bisa tinggal diam dalam antisipasi pengaruh global..bila perlu bikin jalan layang…..saya sangat setuju sbg alternative mengurangi kemacetan lalu lintas….apakah anda bisa membendung masyarakat agar tidak membeli sepeda motor atau mobil??

  3. donat Reply

    July 14, 2013 at 9:44 AM

    Saya setuju dengan pak Wijaya, pariwisata ini memang perlu dikembangkan dan dimeratakan, supaya dampak2nya juga terasakan bagi masyarakat bali timur, utara, barat dan tengah. Planing pemerataan ini adalah kewenangan pemerintah dengan menyiapkan infrastruktur yang memadai ke seluruh Bali, sehingga investor lebih tertarik ke kawasan lain di Bali ini, tidak hanya yang strategis saja yang diincarnya. Kalau saja infrastruktur Bali handal, (contoh jalan freeway ke Bali timur, utara, barat, tengah tersedia dan handal, maka investor mungkin mau berinvestasi menyebar, dan penduduk balipun tidak perlu berbondong-bondong ke bali selatan untuk mencari penghidupan yang lebi layak.
    Kalau ide membuat kawasan pariwisata terpadu, saya memliki pendapat lain: Kalau kawasan wisata terpadu dimana semua keperluan tourist tersedia, maka bali masyarakat TiUtBaTeng yang bisa akan berusaha ikut berbondong-bondong berparttisipasi, yang tak bisa akan mjd pendengar yang tidak mungkin menikmatinya. dampaknya justru centralisasi. Maka jangan terpadulah, karena andalan pariwisata bali adalah BUDAYA, maka pusat2 budaya bali harus dikembangkan di seluruh bali, dan wisatapun diarahkan ke pusat2 budaya yang mereka inginkan. Termasuk oleh2 khas bali jangan dipusatkan, disebarkan (kalau cari lukisan klasik misalnya harusnya diarahkan ke Klungkung, dll)
    Kalaupun memang ingin memperluas daratan dengan cara reklamasi, kenapa harus memilih teluk yang airnya relatif sudah tenang dimana tanaman dan biota laut bisa dengan subur berkembang di sana. Kelayakan finasial pasti yang menjadi pertimbangan utama. Kalau mau, yang dapat menghalangi tsunami di kawasan Tanjung, Serangan dan sekitarnya adalah mereklamsi dengan membuat greatwall dari Pulau NusaDua ke Timur, bila perlu sampai Nusa Penida (menghayal bedik).
    Bali memang harus berkembang ke arah kemajuan, termasuk budaya, namun secara sadar kita memang sudah menjadi budak kemajuan tsb., termasuk banyaknya kendaraan brmtor di muka bali, katanya jepang sendiri dapat membendung kepemilikan kendbrmtor dengan aturan yang ketat dan konsisten.
    Nggih rarisang memargi, nak sami pede medaging kirang-langkung, untung-rugi, dampak positif-negaif …berbuat masi lebih baik dari pada diam, sakewale mangdane suyakti sakeng manah jujur sekadi meyadnya……

  4. Endra Datta Reply

    July 14, 2013 at 10:17 AM

    Menarik sekali, Pak. Mohon definisi Bali yg terkini menurut Bapak. Karena ketika bicara “demi Bali” maka harus jelas siapa yg dimaksud. Sama halnya ketika dikatakan “demi Jakarta” maka sudah jelas bukan ditujukan kepada orang Betawi. Ampura, IMHO. Bagaimana dgn “Bali”?

  5. I Wayan Adi Reply

    July 14, 2013 at 10:36 AM

    Setuju pak,

  6. Wayan Erik Reply

    July 14, 2013 at 2:05 PM

    Om swastyastu Pakde,

    Rugi buat jalan banyak – banyak sementara kendaraan terus meningkat jumlahnya.

    Lebih baik naikkan pajak kendaraan roda empat non bisnis. terutama yang kendaraan pribadi
    dalam logikanya jika tidak mampu bayar pajak, walaupun dikasi minta mobil cuma – cuma, hendaknya akan lebih banyak yang berpikir untuk tidak menerima mobil cuma – cuma tersebut.

    memang akan berdampak buruk pada beberapa aspek kehidupan, tetapi jika tidak sekarang dinaikkan, 1 atau 2 tahun lagi jalan yang membelah kealamian Bali yang anda banggakan itu, tidak ada gunanya lagi.

    Suksema

  7. urujoe whenten Reply

    July 14, 2013 at 3:38 PM

    Pemerintah dapat membatasi kendaraan yang ada di bali. Bagaimana caranya ? Gampang, pemerintah membuat regulasi (perda) dengan membatasi umur kendaraan, misalnya 5 tahun, 7 thn atau 10 tahun. Pasti bisa. Buktinya Singapura yg wilayahnya kecil tanpa menerapkan aturan ini sdh dulu negara tsb jadi negara termacet di dunia. Belajar nyontek ke singapura kalau maiu mengatasi kemacetan. Jangan nyontek pariwisata singapura, gak cocok dengan pariwisata Bali yang berbasiskan budaya. Saya yakin kalau budaya bali tergerus para pelancong /tourisme tak akan melirik Bali lagi. Orang datang ke Bali bukan mau lihat gedung gedung yang megah, pemandangan yg indah, Mau lihat Bali model Singapura ngapain jauh jauh ke Bali kan sdh ada di Singapura. Ingat ini Pariwisata Budaya Bali, Budaya hancur pariwisata bangkrut,

    • DHS Reply

      October 17, 2013 at 12:10 PM

      Setuju dengan bapak Urujoe Whenten. Singapura bukan salah satu tempat destinasi untuk turis, tapi untuk berbisnis. Banyak rekanan atau teman asing saya yang menyatakan bahwa Singapura tidak beda dengan negara-negara Barat, hanya letaknya di Asia, mereka tidak terlalu tertarik untuk berlibur ke Singapura.

      Mudah-mudahan Bali, baik Selatan atau dibagian manapun, tidak akan pernah bermimpi untuk menjadi seperti Singapura. Mudah-mudahan pembuatan jalan layang bisa dihindari, dengan adanya pengetatan dalam hal kepemilikan kendaraan bermotor. Dan ada baiknya para investor yang berminat berbisnis di Bali diberikan penataran tentang budaya Bali sebelum membangun gedung-gedung mereka.

  8. Rare Sakit Reply

    July 14, 2013 at 5:04 PM

    “Om Suatiastu” sebagaimana apa yg termuat dalam berita diatas, oleh Pak Nyoman Wijaya dan sebagaimana juga pro kontra masyarakat dalam koment tentang reklamasi di Tanjung Benoa, sy pribadi sbg masyarakat pula menggaris bawahi tentang hal itu :
    Wacana koment reklamasi dengan pilipina bukan sebuah perbandingan yang harus ditarik benang merahnya sampai terjadi pro dan kontra diantara kita, keberhasilan pariwisata pilipina karena adanya reklamasi dimana material /pasirnya didatangkan dari daerah lain, yang dikritisi disini sebenarnya bukan masalah keberhasilan pariwisitanya dan kemudian menjadi pembanding bagi bali , kalau Bali mau berbuat seperti itu pasti bisa asalkan didukung oleh pihak dan para pihak akan tetapi inti kritis disini adalah darimana datangnya pasir untuk mereklamasi Pilipina ???? jika para ormas yang berkincimpung masalah/peduli masalah lingkungan sudah lama semestinya punya jawaban atas hal itu akan tetapi bila ormas tersebut hanya koar-koar saja dan atau hanya sebagai pertanggung gugat tentunya jawaban itu menjadi hampa, secara rasional Pilipina terletak diantara apa ????????

    Sebagaimana apa yang disampaikan Pak Nyoman Wijaya itu jawaban bila Bali mau seperti pilipina kita yakin pasti bisa dan mendorong Bali Utara memiliki obyek, daerah timur , barat bali akan berdampak dan berekses sebagai subyek tinggal membawa peran agar kesejahtraan masyarakat dapat terpenuhi secara layak, Om. Santih,Santih,Santih Om.

    • INAM Reply

      July 14, 2013 at 6:56 PM

      @Rare Sakit: Bukan pilipina pak de.., tapi singapura…!!! Si..Nga..Pu..Ra…

  9. Nyoman Gede Mahayuna Reply

    July 14, 2013 at 7:56 PM

    Menarik sekali membaca tulisan Pak Nyoman. Tulisan tulisan yang menggambarkan kalau bapak adalah orang yang punya pemikiran yang luas “outside of the boxe way of thinking”. Dari kemarin saya ikut menyimak pemberitaan tentang rencana reklamasi kawasan perairan teluk Benoa. Banyak dari mereka yang berkomentar negatif tanpa memberikan sebuah alasan yang jelas dan tidak memberikan solusi.
    Saya sendiri sangat setuju dengan reklamasi perairan tersebut. Kalau boleh jujur, Bali sudah semestinya berbangga ketika para investor datang untuk menanamkan modalnya di Bali. Investor datang = Lampangan kerja bertambah. Menurut saya Reklamasi perairan teluk Benoa lebih banyak dampak positifnya daripada negatifnya. Sama halnya ketika dulu rencana pembangunan Jalan Tol, banyak dari mereka yang berkomentar sumbang. Faktanya sekarang masyarakat Bali sudah tidak sabar menunggu menunggu pembukaan penggunaan jalan tol tersebut. Menjaga Bali adalah tanggung jawab bersama. Pembangunan yang berimbang antara Bali selatan dan Bali utara sudah semestinya dikedepankan.

  10. peter wayne Reply

    July 14, 2013 at 8:24 PM

    Selama tidak mengganggu kesakralan Hindu Bali, selama tidak menggusur tempatsuci, selama tidak menggeser gelar “island of Gods”. Selama tidak meracuni akhlak orang Bali dengan westernisasi global, slama tidak terintervensi pihak non Bali yang hanya profit oriented, slama tidak menghilangkan budaya ramah dan kejujuran versi Bali….. silahkan kembangkan pulau Dewata…. krn selama ini, yang disebut diatas itulah yang menjadi destinasi turis manca negara. Kesakralan, kesucian, tempat suci, sistem tata cara ibadah Hindu, itulah modal kita. Jika itu semua dihilangkan, dan hanya mengandalkan teknologi canggih dgn bergelimangan mall dan apartemen…. nasib pulau Dewata akan sama seperti ibukota Indonesia tercinta, Jakarta. Kota penuh kebusukan, kemunafikan, keserakahan dan penuh chaos….. amit amit jangan sampai itu terjadi. Mari kembangkan Bali secara menyeluruh, merata tanpa melupakan agama dan tanpa menyakiti Mother of Earth….

  11. made biasa dogen Reply

    July 14, 2013 at 8:56 PM

    @INAM – rare sakit juga ada benarnya…Manila Bay di Philiphina juga sedang meniru Singapura mengadakan reklamasi besar2an.

  12. Arkitanata Reply

    July 15, 2013 at 8:03 AM

    Menarik menyimak uraiannya, arus globalisasi tidak mungkin dibendung semua adalah imbas dari kemajuan pemikiran dan “budaya” yang pastinya selalu berubah.
    Jadi yang kita pilih dalam menyikapi seharusnya adalah fleksibilitas, bukan kekakuan yang mengatasnamakan keajegan budaya Bali.

  13. semeton saking kelod Reply

    July 15, 2013 at 8:17 AM

    om suastiastu…..tiang sebagai warga lokal Nusa Dua, kurang setuju dengan rencana reklamasi di tanjung Benoa….terlepas dari dampak positif/negatif yg ditimbulkan,,,kalau pemerintah benar2 berkomitmen memeratakan pembangunan di Bali, sebaiknya rencana reklamasi dan atau pengembangan pariwisata dilakukan di wilayah Bali lainnya seperti di Bali utara, Barat, atau timur…..apalagi rencana investor tersebut bersamaan dengan rencna pemerintah untuk membangun bandara baru di utara…itu merupakan momentum yg pas,,tetapi bagaimana cara pemerintah melobi para investor ini untuk mau menunggu rampungnya proyek yg direncanakan pemerintah tersebut (bandara)…. bali selatan seperti daerah sya di Nusa Dua dan sekitarnya sudah sangat sesak dan padat, jika rencana reklamasi di”gol”kan, maka daerah saya akan bertambah sesak, kriminalitas menjadi2, karena penduduk yg semakin heterogen.. disisi lainnya, dilihat dari bentuk/wajah pulau Bali akan sedikit mengalami perubahan…suksma….om shanti3x om…

  14. nak bali polos Reply

    July 15, 2013 at 10:34 AM

    bes liu jeleme me (dueg) an, koh ngomong dadine, nyak kenken ye ditu, cang sing ngurus

  15. gus ari Reply

    July 18, 2013 at 4:06 PM

    Om suastiastu,,, Saya tertarik dengan Mindset atau pemikiran orang bali yang salah kaprah,,,,,dimana dibali tidak diperbolehkan membuat jembatan layang, karena akan membuat leteh orang-orang bali itu sendiri, kesucian bali akan pudar,,, katanya???? tetapi apakah benar demikian??? menurut saya itu pemikiran yang sangat keliru,,, padahal dalam ajaran AGAMA,,, disana disebutkan ada beberapa Sifat-sifat dari TUHAN ( IDE SHANGHYANG WIDI WASE) yang diantaranya adalah,,,TUHAN itu ada dimana-mana,,, tuhan itu tidak ternodai,,, tuhan itu memenuhi jagat raya atau alam semesta ini,,,, jadi menurut saya,,, pemikiran kalau kesucian bali akan hilang, jika ada atau dibangunnya jembatan layang,,, itu sangatlah keliru,,, lagian,,, kalau memang benar seperti itu,,, mengapa di bali ada bandara,,, mengapa pesawat-pesawat dibiarkan melintas diatas tanah Bali,,, dibiarkan melintas diatas gunung Agung,, Apakah itu tidak membuat Pulau Bali menjadi Leteh atau hilang kesuciannya??? dan menurut saya pariwisata,dan kebudayaan di Bali
    itu harus seimbang, saling mendukung, saling bersinergi, satu sama lain,,,, bukanya saling menenggelamkan satu sama lain. SEMOGA DAMAI,,,,,,,,,,

  16. Cenk blonk Reply

    August 3, 2013 at 6:56 AM

    Stop reklamasi, bikin jalan layang OK , jalur kereta api yang mengelilingi Bali OK, ijin kepemilikan mobil di perketat dan di persulit, klo tidak punya tempat parkir pribadi jangan di kasi beli mobil, bagi yang parkir di jalan, tanpa mempedulikan tanda larangan, di tilang dgn bayaran mahal atau mobilnya di derek saja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>