Masyarakat ”Galau” Menunggu Hasil Pilkada Bali

Denpasar (Metrobali.com)-

Masyarakat Bali saat ini masih terfokus menunggu pengumuman resmi Komisi Pemilihan Umum pascapilkada yang diselenggarakan pada Rabu (15/5).

Karena hasil rekapitulasi di tingkat kecamatan kedua kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur Anak Agung Ngurah Puspayoga-Dewa Sukrawan dan Made Mangku Pastika-Ketut Sudikerta angka perolehan suara sangat tipis.

Perbedaan perolehan suara kedua kandidat tidak lebih dari satu persen, sehingga di kedua pendukung kandidat gubernur dan wakil gubernur saat ini galau menunggu pengumuman hasil rekapitulasi perolehan suara KPU Bali yang rencananya diumumkan pekan depan.

Namun di satu sisi, aktivitas masyarakat yang bekerja di objek-objek wisata yang melayani ribuan wisatawan domestik dan asing, kegiatan nampak seperti biasa. Di antaranya di kawasan wisata Sanur Denpasar, Nusa Dua dan Kuta di Kabupaten Badung.

Untuk mengantisipasi gejolak politik saat ini di Pulau Dewata dari berbagai kalangan masyarakat, baik dari akademisi, tokoh masyarakat, spiritual dan tokoh politik serta para kandidat gubernur untuk selalu berupaya menjaga keharmonisan dan kedamaian Bali.

Akademisi Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar Prof I Made Titib mengimbau masyarakat tetap tenang menunggu hasil pengumuman Pemilihan Kepala Daerah Bali dari Komisi Pemilihan Umum.

“Simpatisan dan pendukung kedua pasangan cagub-cawagub juga kami imbau membantu menenangkan masyarakat,” kata Titib baru-baru ini di Denpasar.

Ia juga mengharapkan kedua kandidat tidak saling mengklaim kemenangan. “Berpikirlah, bagaimana Bali ini tetap aman dan damai,” ucap mantan Rektor IHDN Denpasar itu.

Titib juga mengingatkan masyarakat tidak semata-mata mengejar kepentingan sesaat melalui pilkada.

“Kalau ada permasalahan dalam pelaksanaan Pilkada yang digelar Rabu (15/5) sehingga terjadi dugaan kecurangan dan lainnya, maka lebih baik semuanya diserahkan kepada proses hukum,” ucapnya.

Termasuk juga masalah keamanan saat ini, kata dia, jika ada riak-riak politik yang mengganggu keamanan dan ketertiban di masyarakat, agar segera aparat Polri dan TNI bergerak untuk mengamankan.

“Aparat Polri dan TNI agar tetap siaga, bila ada gerakan yang mengganggu keamanan di masyarakat agar sigap mengantisipasinya sehingg tidak ada gesekan yang memicu kekacauan di masyarakat tersebut,” ujarnya.

Titib juga meminta kedua kandidat untuk menenangkan pendukungnya dengan mengajak berdoa dan bersembhyang bersama.

Hal senada juga disampaikan tokoh spiritual Gusti Ngurah Harta bahwa kegiatan pilkada merupakan proses dari demokrasi.

“Wujud demokrasi itu salah satunya pelaksanaan pilkada untuk memilih pemimpin Bali lima tahun ke depan,” ucap Ngurah Harta yang juga pinisepuh Perguruan Sandi Murti Indonesia.

Menurut dia, proses demokrasi tersebut akan berjalan dengan aman dan damai jika masyarakatnya semakin matang dalam pendidikan politik.

“Mari belajar dari pengalaman-pengalaman terdahulu proses politik tersebut menegangkan, tapi sekarang warga sudah semakin cerdas dalam proses demokrasi tersebut,” katanya.

Sementara itu, Ketua DPRD Provinsi Bali Anak Agung Ngurah Oka Ratmadi meminta pasangan kandidat gubernur dan wakil gubernur serta seluruh pendukungnya turut menjaga kedamaian wilayah sambil menunggu pengumuman resmi pemenang pilkada.

“Jangan berbuat anarkis, tidak boleh terprovokasi. Bila ada ketidakpuasan di kemudian hari terhadap proses pelaksanaan Pilkada Bali, agar menempuh jalur hukum,” katanya di Denpasar, Senin.

Ia mengingtkan bahwa kondusivitas Bali lebih penting daripada hiruk-pikuk politik pascapilkada.

“Keamanan sebagai salah satu kunci pariwisata Bali dipertaruhkan. Dan kita sudah membuktikan bahwa Bali telah mampu menyelenggarakan Pilkada Bali 2013 dengan aman dan lancar,” katanya.

Hal itu sekaligus juga menjadi tontonan wisata demokrasi damai bagi wisatawan. Menjaga kondusifitas Bali sampai berakhirnya proses pilkada.

Tokoh Puri Satrya Denpasar itu menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh masyarakat Bali yang telah menggunakan hak pilihnya dengan aman dan damai. Hal ini dinilainya sebagai potret kedewasaan berpolitik warga Pulau Dewata.

“Ini adalah kemenangan kita bersama dalam berdemokrasi. Siapa pun pemenangnya dari dua kandidat gubernur Anak Agung Puspayoga-Dewa Sukrawan dan pasangan Made Mangku Pastika-Ketut Sudikerta,” kata Ratmadi.

Ia juga mengajak masyarakat yang telah menggunakan hak pilih untuk kembali bersatu, sambil menunggu hasil resmi pilkada yang diumumkan KPU Bali.

“Kedua kandidat serta seluruh elemen pendukungnya agar bersabar, tidak memprovokasi dan menyerahkan sepenuhnya kepada KPU Bali. Marilah kita kembali ke rutinitas masing-masing. Petani kembali ke sawah untuk bertani, pedagang ke pasar untuk berjualan, PNS bekerja profesional melayani masyarakat, dan seniman menghasilkan karya-karyanya,” katanya.

Wujudkan Pilkada Damai Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Bali menggelar sembahyang bersama di Pura Padmasana setempat, sebagai wujud syukur pelaksanaan Pilkada Bali berjalan lancar dan damai.

“Sembahyang bersama ini sebagai wujud syukur pilkada berjalan lancar. Dengan kegiatan ini sekaligus dapat berkumpul dengan pengurus dan kader partai,” kata Calon Gubernur Bali Anak Agung Ngurah Puspayoga di Denpasar, Sabtu (18/5).

Ia juga mengimbau agar bersabar menunggu pengumuman hasil pilkada secara resmi dari Komisi Pemilihan Umum Bali.

“Saya harapkan simpatisan dan kader partai senantiasa menjaga keamanan dan kedamaian. Saya belum sepenuhnya berani mengumumkan apa yang kita raih pada Pilkada Bali yang telah diselenggarakan pada Rabu (15/5),” ucap Puspayoga didampingi Wasekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto.

Apa pun hasil dari pengumuman KPU nanti, kata dia, pihaknya akan menerima dengan lapang dada.

“Saya akan menerima hasil pengumuman KPU mendatang. Tapi saya mempunyai keyakinan akan memenangkan Pilkada Bali,” katanya.

Sementara itu, Wasekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan pilkada bukan segala-galanya, melainkan ini adalah proses demokrasi di Indonesia.

“Karena itu proses demokrasi harus dibarengi dengan kedamaian, seperti dengan doa bersama dan kumpul bersama sambil menikmati santap kuliner ala pedagang kaki lima,” katanya.

Ia mengatakan karakter rakyat Indonesia, kalau ada masalah melakukan doa bersama. Terlebih di Bali yang sangat kuat dengan relegi dan spiritualnya.

Menyinggung Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Puspayoga-Sukrawan (PAS), Hasto Kristiyanto mengatakan masih optimistis jika kandidat yang diusung partainya mengungguli pasangan Cagub/Cawagub Made Mangku Pastika-Ketut Sudikerta (Pasti-Kerta).

“Ada yang klaim kemenangan, silakan saja. Kita makan bakso, tipat sate dan lainnya saja lebih enak. Kami di mana-mana seperti ini. Selalu mengundang pedagang untuk bersama kami,” kata Hasto.

Di tempat terpisah, Ketua Koalisi Bali Mandara Pendukung Cagub/Cawagub Pasti-Kerta, Gde Sumarjaya Linggih juga mengatakan optimistis kandidat yang mereka usung merupakan pemenang pilkada kali ini.

Ia mengatakan kini pihaknya fokus pada pengawalan surat suara dari TPS hingga ke desa/kelurahan hingga tingkat kabupaten dan kota.

Menurut Wakil Sekjen DPP Partai Golkar itu mengatakan pengawalan surat suara di kecamatan itu dilakukan dengan mengerahkan kader yang masuk sebagai daftar caleg sementara (DCS).

“Elit DCS menjaga situasi dan kondisi suara. Tidak ada permainan lagi. Elit partai berlambang pohon beringin akan mengawal hal itu,” katanya Sementara itu, Calon Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengharapkan pendukung dan simpatisan tenang dan tetap mengawal surat suara di masing-masing tempat pemungutan suara.

“Saya minta kepada simpatisan dan relawan Bali Mandara untuk tetap tenang dan mengawal surat suara dari TPS ke kantor desa atau kelurahan guna dilakukan penghitungan surat suara manual,” kata Made Mangku Pastika didampingi Cawagub Ketut Sudikerta di Sekar Tunjung Center (STC) Denpasar, Rabu.

Ia mengatakan hasil penghitungan cepat (quick count) yang dilakukan oleh sejumlah lembaga independen tersebut berdasarkan sampel TPS yang dipilih, bukan dari keseluruhan TPS yang ada di seluruh Bali.

“Tapi hasil penghitungan surat suara resmi dari KPU memerlukan proses dan perlu waktu untuk pengumumannya,” ucapnya.

Mangku Pastika meminta kepada masyarakat untuk tetap tenang menunggu hasil resmi yang akan diumumkan oleh KPU.

“Sekali lagi saya minta tenang. Kita tunggu hasil resmi dari KPU,” katanya.

Pada saat Pilkada Bali berlangsung, sejumlah wisatawan asing yang kebetulan berlibur di Pulau Dewata ikut serta menyaksikan kegiatan Pemilihan Kepala Daerah Bali.

Wisatawan tersebut menyaksikan warga menuju tempat pemungutan suara (TPS), karena dianggap unik saat menggunakan hak suaranya untuk memilih gubernur dan wakil gubernur mengenakan busana adat Bali.

“Ini pemandangan unik yang saya saksikan di Bali, untuk memilih pemimpin Bali saja berpakaian adat,” kata Ronio, seorang wisatawan asal Australia di Jimbaran, Bali.

Ia merasa kagum dengan perilaku warga Bali sangat kental dengan nuansa budayanya, pergi ke tempat pemungutan suara saja tertib menggunakan pakaian adat Bali.

“Keunikan ini saya rasa tidak ada duanya di daerah lain. Ini juga sebagai cerminan orang Bali sangat menghormati budayanya dan ke mana-mana orang Bali itu melekat budayanya,” ucap Ronio.

Karena itu, kata dia, dirinya mencoba mendekatkan diri ke TPS, di mana warga Bali melakukan aktivitas pencoblosan calon gubernur dan wakil gubernur tersebut.

“Saya mengabadikan dengan kamera agar ada kenangan kegiatan pilkada di Bali, terutama keunikan orang Bali menggunakan pakaian adat saat menghadiri hajatan demokrasi itu,” katanya. INT-MB

5 thoughts on “Masyarakat ”Galau” Menunggu Hasil Pilkada Bali

  1. Harap tenang, dan bebotohnya ga bsa tenang pak… Udah pada gatel tangan nya nunggu hasil pemenangan, ada yg buat euforia, ada yg benerin rumah, ada g bli spda mtor, ada yg meli lwar penyu 2ekor! Uli dije tekan penyu ne ane sedang di lestarikan too nah!?

  2. Apanya yg mesti digalaukan?.Walaupun blm diumumkan olh KPU, tapi dari data2 form C I 57 kecamatan yg sdh pd saat rekapitulasi suara serempak sdh bisa dibaca siapa pemenangnya.
    Sekarang tinggal aparat keamanan saja yg pegang kuncinya. Pra tgl 27 aparat harus menjaga kotak suara selama24 jam dg ketat, biar ndak ada oknum2 yg mengutak atik kertas suara lagi.
    Pasca tgl 27 aparat hrs siap siaga, bila dipandang perlu lipatgandakan jumlah pasukan. Untuk mengantisipasi hal hal yg tdk diinginkan. Kita sdh punya pengalaman buruk di Bali pasca Pilpres Thn 1999 yg lalu.
    Aparat hrs bertindak tegas. Jgn karena pertimbangan HAM segelintir oknum.. sampai mengorbankan HAM masyarakat. Kl ada indikasi merusak, anarkis, dorrrr…tembak saja, biar ndak nanti merembet kesana kemari. Kl sampai merembet dan masif, justru akan menyulitkan aparat keamanan itu sendiri dan sdh pasti merugikan Bali.
    Coba kl terjadi sesuatu yg menyebabkan wisatawan tdk datang, siapa yg rugi?. Cobak pikirkan multi afeknya jg, berapa orang yg akan kena dampak langsung dan tdk langsungnya?,
    Mari kita jaga Bali kita…utk kita dan generasi kita.

  3. biar kalah biar menang, semua menang…jangan anarkis jangan brutal, dari pada memukul lebih baik merangkul, dari pada menghujat lebih baik berjabat, mari jaga bali dari segala macam ancaman dan kekacauan yang nantinya akan menghancurkan bali sendiri..
    bagi para kandidat baik yang menang atau kalah, instruksikan para pendukung masing masing untuk menerima keadaan, untuk selalu tenang dan legowo menerima semua hasil pilkada nantinya.
    Bali terlalu indah untuk dihancurkan oleh hal hal remeh, Bali adalah keagungan yang harus diwariskan kepada generasi penerus kita selanjutnya..
    ASTUNGKARA…

  4. Beneh to pak Made ,…….Nak jani sube batas ade informasi ane Uptudate, transparan, meyakinkan berdasarkan data-data pemilih yen ane menang to mare agak tenang, yen apang tenang setelah ade war-war uli di KPUD tgl 27 Mei 2013 dan supaya lebih tenang lagi ape kar terjadi nanti pada tgl itu dan besoknya , Bali aman,damai terkendali keamannya mare asanange luwung bayune, ampure .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>