Widgetized Section

Go to Admin » Appearance » Widgets » and move Gabfire Widget: Social into that MastheadOverlay zone

RENUNGAN MALAM SIWARATRI : “TERNYATA SAYA BELUM SEPERTI LUBDAKA”

ENTAH, hari ini di rumah terasa beda, angin pun tak ganas penerpa, gelap mendung tak berarti hujan, cuma gerimis sedikit saja. Sungguh terasa istimewa, beberapa kawan megirimi saya berita, ucapan selamat merayakan “Hari Suci Siwaratri”.

Sebagian ucapan itu ada yang mendoakan, sebagian lagi ada yang maaf memaafkan. Terima kasih kawan doa mu saya terima, sungguh saya seperti diingatkan oleh sang waktu, menuju malam sakral peleburan dosa. Malam yang kata orang penuh perenungan, juga tentang kisah Lubdaka yang kusuk malami malam, diatas dahan pohon Bila.

“Saya pun bertanya, malam ini malam apa sebenarnya sehingga Lubdaka menjadi penting?” tanyaku dalam hati.

Sang waktu semakin malam, saya pun terbawa dalam “jalan sunyi”, kebetulan di rumah sendiri, duduk bersila sambil ngopi, sekali-sekali melirik televisi yang tak lagi berbunyi. Saya pun mulai terusik tentang makna malam Siwaratri, lalu membiarkan rasa mencari-cari, merenungkan kembali sambil mengingat beberapa referensi, karena memang saya tak mengerti. Seperti apa?

“Malam ini konon katanya malam Maha Yoga Ida Bhatara Siwa. Yoga khusus Bhatara Siwa yang teramat istimewa, untuk keselamatan jagat raya. Sudah kehendak alam saja, hadir pula sosok “inspiratif” yang bernama Lubdaka.

Saya pun belum mengerti, kenapa kemudian Lubdaka dijadikan simbul Siwaratri Kalpa? Benarkah perjalanan hidup Lubdaka mengandung nilai-nilai universal? Seperti apa? Dan siapakah Lubdaka itu?

Benarkah Lubdaka adalah pemburu binatang atau Sato? Sato adalah Satwika. Lubdaka ibarat simbul manusia pemburu, pemburu sifat-sifat kebijaksanaan. Kala itu Lubdaka berpakaian biru laksana Ghanesa sebagai simbul ilmu pengetahuan. Ia melangkah ke Timur Laut (kaje kagin), Kaje Kangin yang bermakna Hulu atau Luanan atau sumber dari segala kehidupan ini. “Jadi dalam keyakinan saya, Lubdaka bukan lah sebagai pembunuh yang sebenarnya. Ia hanya pemburu kebijaksanaan dengan ilmu pengetahuan suci. Ia hanya ingin mencari hakekat kesucian yang sebenarnya.

Lubdaka masuk hutan untuk berburu, hutan yang lebat gelap oleh rapatnya pepohonan. Marabahaya siap mengancam, binatang buas berkeliaran mengerikan. “Dari kisah ini, saya diingatkan bahwa, proses menuju jalan kesucian dan kebenaran sejati, tidaklah mudah. Menuju jalan kesucian kita harus mebrata atau meyasa dengan kesungguhan hati. Tidak mudah menyerah dengan keadaan dan rintangan apapun, namun tetap waspada mawas diri (ikhlas).”

Pada saatnya Lubdaka pun tiba di sebuah lokasi atau “titik” dimana ia seolah-olah terpaksa berhenti. Berhenti bukan karena tak semangat lagi. Ia berhenti karena menyadari, bahwa sedang berada dalam suasana tanpa pilihan. Ia kemalaman. Lubdaka memutuskan bermalam di hutan, malam itu ia tak mungkin dan tak ingin kembali ke rumah lagi.

Malam itu Lubdaka pun berkeyakinan apa pun yang terjadi, ia akan hadapi. Mencirikan keteguhan hati Lubdakan untuk mencari kesucian. “Lubdaka meyakini bahwa inilah jalannya untuk menuju Satwika atau kebijaksanaan lahir bantin.”

Rupanya alam telah mengaturnya, lokasi dimana Lubdaka “mengikrarkan” diri untuk tak kembali dari perburuan, ternyata percis atau tepat berada di tempat Ida Bhatara Siwa melakukan Yoga. “Artinya pada saat yang sama Lubdaka berada di titik ajaran Siwa.”

Saat malam dimana Ida Bhatara Siwa melakukan Yoga, tanpa disadari Lubdaka mengikuti atau mengiringi Ida Bhatara Siwa beryoga. Hal ini disimbulkan dengan melek atau begadang dengan memetik daun Bila. “Hal ini bermakna, apapun cara kita jika sudah dilandasi oleh keyakinan yang teguh ( dilandasi oleh pengetahuan, kesadaran dan keyakinan) maka persembahan itu akan diterima oleh Yang Widhi.”

“Lalu, mengapa dosa Lubdaka diampuni?” Menurut saya dosa Lubdaka diampuni bukan karena begadang atau berdiam diri. Dosa Lubdaka diampuni oleh Ida Bhatar Siwa karena selama ini ia tekun berburu Satwika/kebijaksanaan. Kebetulan saja malam ini Lubdaka berada dalam “puncak” atau “titik nol kilometer” dari sebuah proses panjang perjalanan, melakukan brata atau meyasa.

”Jadi Lubdaka sesunguhnya adalah simbul seseorang yang tekun dan teguh menjalankan jalan kesucian (mebrata) dan terus berburu kebijaksanaan.”

Pagi menjelang, Lubdaka pun berjalan pulang dengan tangan hampa. Satu pun binatang buruan ia tak dapatkan. Hal ini saya maknai Lubdaka seperti kembali hidup pada “titik nol” (kosong). Lubdaka ibarat lahir kembali. Atau Lubdaka ibarat “medwijati”, ia seperti lahir kedua kali dengan keadaan kosong.

“Kosong disini bermakna kesadaran, kesadaran bahwa hidup adalah sang jiwa. Tak gerah karena panas, tak menggigil karena dingin, tak lagi gelisah karena tak punya materi, tak bangga karena harta, hidup mati adalah sama-“asah”.

Mentari pagi bersinar, Lubdaka tiba dirumah. Ia pun beraktivitas seperti biasa. Ia pun memilih hidup apa adanya. Ia tak mau lagi menjadi pemburu atau “petualang spiritual”. Lubdaka tak lagi berambisi apa-apa. Ia ibaratnya menunggu mati saja. Kalau butuh makan, ia makan apa yang ada disekitar rumahnya, secukupnya dengan penuh rasa syukur.

“Berapa pun yang diberi oleh alam ia terima. Lubdaka benar-benar hidup mengikuti gerak alam, hidup dari “sari alam” (inti sari alam). Lubdaka sudah menganggap tubuhnya sang jiwa, apapun yang ia alami ia akan terima.”

Yah, begitulah renungan di malam Siwaratri ini. Saya hanya bisa jalani apa adanya. Tiba-tiba hati ini bertanya, sebenarnya malam ini saya ngapain? Apakah saya sudah sama seperti Lubdaka?

Ohh, pasti tidak sama sekali. Sedikit pun saya tidak seperti Lubdaka. Mungkin saya baru berharap atau memohon seperti Lubdaka, itu pun kalau alam menerimanya. Ibarat mau belajar kesucian dan kebijaksanaan, saya tidak lebih dari calon murid yang baru mendaftar sekolah. Itu pun kalau diterima dan lulus seleksi.

Lalu saya pun bertanya lagi dalam hati, saya sudah begadang, hening, apakah dosa saya sudah di lebur oleh Ida Bhatara Siwa?

Ohh, saya sadar dan yakin. Dosa saya pasti tak dihapuskan begitu saja. Bagaimana mungkin dosa saya dihapuskan kalau saya belum menjalani proses panjang jalan kesucian dan kebijaksanaan seperti Lubdaka. Seperti dalam perenungan diatas, saya belum pernah berburu Sato, belum juga berbaju biru, apalagi berajalan menuju kaja kangin (timur laut) memasuki hutan belantara yang lebat dan gelap.

“Ohh, saya benar-benar belum layak meminta peleburan dosa. Sekali lagi saya belum layak ohh Yang Siwa. Saya ini masih penuh dengan nafsu angkara, masih penuh dengan jalan dosa.”

Saya tidak berhak meminta kemudahan begitu saja. Belum apa-apa sudah meminta penghapusan dosa. Kalaupun jalan peleburan dosa seperti Lubdaka nampak sederhana, tapi saya bukan lah Lubdaka. Saya adalah saya.

Saya yakin, Lubdaka tak pernah menyadari telah diberi “peleburan dosa” dalam semalam saja, apalagi hanya seperti begadang sambil memetik daun bila saja, pastilah itu bukan karena ia berproses malam ini saja. Lubdaka sudah melakukan jalan kebijaksaan sejak lama. Berburu sipiritual dengan keteguhan dan keyakinan tak kenal lelah dalam perjalanan panjang hidupnya.

Saya yakin, hanya orang yang tubuh dan batinnya sudah sampai pada keadaan dimana kebijaksanaan sudah sempurna seperti Lubdaka lah, maka kesederhaaan dalam beryadya (persembahan atau kewajiban suci) akan di terima oleh Siwa. Karena bagi Lubdaka, jangankan persembahan berupa canang atau banten, jiwanya pun ia siap persembahkan kepada Siwa. “Bagi yang belum sempurna seperti saya, pastilah masih butuh perjalan panjang pembelajaran tentang kebijaksanaan.”

Kalau berangkat dari kisah diatas, Lubdaka bisa sampai pada titik puncak kebijaksanaan adalah sesuatu yang tak pernah ia targetkan dan ia bayangkan. Lubdaka cuma berjalan dan terus berjalan di jalan kesucian dan kebijaksanaan. “Berburu spiritualitas” di sepanjang hidupnya. Tanpa ia sadari, ia berada dan sampai di tempat dan waktu yang tepat.

Ohh, waktu semakin menapak pagi, terima kasih kepada sahabat dan kawan-kawan yang telah mengingatkan saya. Saya pun ingin bertanya kepada kawan-kawan saya semua, apakah kalian sudah mejalani proses meyasa (mebrata) ala Lubdaka? Semoga saja sudah, kalau belum jangan lah buru-buru minta peleburan dosa. Karena alam ada aturannya.

Tapi saya tetap memohon kepada Yang Bhatara Siwa, setidaknya pada malam Siwaratri ini saya diberikan jalan dan kekuatan untuk memasuki hutan ilmu pengetahuan, untuk berburu pengetahuan dan kebijaksanaan suci. “Karena saya sadar bahwa; saya belum seperti Lubdaka”. Suksme.

Oleh : Made Nurbawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>