Widgetized Section

Go to Admin » Appearance » Widgets » and move Gabfire Widget: Social into that MastheadOverlay zone

Rusuh Lampung dan Perbaikan Program Transmigrasi

Denpasar (Metrobali.com)-

Lampung Selatan bergolak. Persoalan sepele, kecelakaan dan dugaan pelecehan seksual terlanjur menjadi rusuh yang telah menelan 14 korban jiwa. Puluhan orang kehilangan tempat tinggal. Ribuan orang pergi ke pengungsian. Roda ekonomi tak berputar.

Gubernur Bali, Made Mangku Pastika menyatakan segera mengunjungi Lampung Selatan, khususnya Desa Balinuraga, di mana rata-rata merupakan transmigran asal Pulau Bali. Menurut Pastika, transmigran asal Bali di Pulau Sumatra rata-rata menuai sukses. Pastika yang pernah menjadi transmigran ke Bengkulu melanjutkan, diĀ  wilayah di mana terjadi bentrok itu pula yang memegang roda perekonomian di sana. Diakuinya, terjadi kesenjangan ekonomi di wilayah tersebut. Itu karena masyarakat Bali yang merantau sangat ulet, demikian Pastika.

Di tempat terpisah, pengamat sosial, Made Mudarta mengatakan, dalam program transmigrasi yang dilakukan pemerintah, mestinya harus mengadopsi nilai kearifan lokal. “Harusnya mengikuti konteks kearifan lokal genius di suatu wilayah. Transmigran jangan dikelompokkan ke dalam suatu wilayah tertentu,” kata Mudarta saat berbincang dengan metrobali.com, Kamis 1 November 2012.

Jika dikelompokkan dalam satu wilayah, Mudarta menyatakan akan muncul kepentingan kelompok. “Timbul keegoan,” sebut dia. Mudarta sepakat program transmigrasi terus dilanjutkan. Apalagi mengingat terjadi kesenjangan penduduk di suatu wilayah dengan wilayah lainnya. Program transmigrasi, sambung dia, juga untuk menciptakan keadilan dan pemerataan ekonomi rakyat Indonesia.

“Program ini tak boleh berhenti. Dalam konteks pemerataan ekonomi, hal itu baik. Tetapi, sangat bahaya jika meng-kluster transmigran dari suatu wilayah tertentu,” ingat dia. “Yang harus dilakukan pemerintah adalah membuat transmigran ini membaur dengan warga lokal. Ada integrasi sosial. Sebelum diberangkatkan, transmigran juga harus diberi tahu soal kearifan lokal setempat. Sehingga dia siap beradaptasi,” saran tokoh muda masyarakat Bali ini.

Sementara itu, pengamat ketenagakerjaan dan transmigrasi, Imam Munawir menegaskan, krisis ekonomi berdampak pada kebangkrutan perusahaan-perusahaan nasional di Indonesia. Hal mana, imbuhnya, mengakibatkan banyaknya pengangguran. “Selain pengangguran, peluang kerja atau kesempatan kerja juga makin sedikit, sehingga mendorong masyarakat untuk transmigrasi. Tentu yang diharapkan adanya perubahan taraf hidup ke arah yang lebih baik,” tutur Nawir.

Program transmigrasi, Nawir melanjutkan, harus dibarengi dengan pembangunan infrastruktur daerah tujuan transmigrasi. “Itu harus dilakukan menyeluruh, baik kawasan transmigran maupun kawasan masyarakat setempat. Dapat diistilahkan tidak ada “anak emas”, baik masyarakat transmigran maupun masyarakat setempat,” papar dia.

Hal lain yang patut diperhatikan menurut Nawir adalah peningkatan kapasitas SDM (Sumber Daya Manusia) bagi masyarakat transmigran maupun masyarakat setempat. “Dengan kemajuan infrastruktur daerah dan kemampuan SDM akan mampu membangkitkan tingkat kreatifitas masyarakat yang mampu membangun komunikasi dan hubungan baik antarmasyarakat yang saling menguntungkan. Dan, dapat menggerus perbedaan antara masyarakat transmigran maupun masyarakat lokal,” katanya.

kerusuhan yang terjadi di Lampung Selatan, menurut Nawir, merupakan bentuk ketiadaan apa yang disebutkannya itu. “Kesenjangan ekonomi mengakibatkan lunturnya rasa gotong-royong, rasa saling memiliki demi memajukan suatu daerah dan kemajuan negara,” tutur aktivis PRD ini. BOB-MB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>