Widgetized Section

Go to Admin » Appearance » Widgets » and move Gabfire Widget: Social into that MastheadOverlay zone

Galungan – Kuningan, Ajang Uji Kompetensi Moral

DALAM upaya meningkatkan mutu pendidikan sebagai pencetak
generasi emas bangsa yang berkualitas dan unggul, pemerintah telah
menyelenggarakan beragam program dalam bentuk uji kompetensi secara
sistemik dan berkelanjutan. Kenapa ? Karena upaya memajukan kehidupan
berbangsa dan bernegara tidak bertumpu pada sumber daya alam semata,
melainkan juga sumber daya manusia. Ini berarti upaya pencerdasan
generasi emas bangsa tersebut harus sinergi dengan penguatan budaya,
agama, dan ilmu pengetahuan serta teknologi global.
Namun, begitu bukan berarti pula pendidikan dengan sekolah untuk
meraih ijazah dan gelar berlapis dapat menciptakan sumber daya manusia
berkualitas dan unggul. Pada dasarnya, sinergi antara sumber daya
manusia dengan sumber daya alam harus dibarengi dengan kesadaran
spiritual dan religius yang kuat, sehingga mampu menciptakan jiwa yang
terang berlandaskan etika sosial dan moralitas budaya adiluhung.
Terutama paradigma berpikir kritis dalam konsep ajaran dharma
(kebenaran) melawan adharma (kebatilan) berdasarkan UUD’45 dan
Pancasila.
Untuk meningkatkan kualitas generasi emas bangsa, sudah sepatutnya
perlu ada keteladanan dari para elite politik penguasa pemangku
kebijakan. Jadi beragam persoalan bangsa yang terjadi saat ini
merupakan cermin carut-marutnya perilaku dari tata nilai etika sosial
dan moralitas budaya daripada para pemimpin bangsa dari tingkat
pemerintah pusat hingga pemerintah daerah di tingkat provinsi dan
kabupaten/kota, termasuk tingkat pedesaan.
Maka itulah, melalui perayaan hari suci Galungan yang jatuh pada Buda
Kliwon Dungulan, tepatnya Rabu (29/8) hendaknya dapat dimanfaatkan
dengan sebaik-baiknya sebagai media penyadaran, introspeksi diri
(mulat sarira). Terutama para elite penguasa pemangku kebijakan dapat
memaknainya sebagai momentum menyeimbangkan antara kepentingan rohani
dan jasmani, supaya mampu menjadi pribadi yang memiliki keteladanan,
budi pekerti yang luhur, serta pemikiran kritis yang mengayomi
kepentingan khalayak publik.
Dalam konteks ini, kepribadian yang diharapkan adalah berjiwa besar
dan bernyali pemberani, serta terampil mengembangkan potensi dalam
mewujudkan kebijaksanaan yang menguntungkan atau berpihak kepada
kepentingan masyarakat dalam arti seluas-luasnya. Sehingga, perilaku
yang menyengsarakan kehidupan masyarakat luas seperti korupsi dapat
dipangkas, guna menciptakan otonomi daerah dalam iklim demokrasi yang
lebih baik dan menyejahterakan untuk kemajuan bangsa.
Mengutip pernyataan mantan presiden BJ Habibie, mengatakan bahwa
pemimpin punya kewajiban mengembangkan potensi dirinya dalam
memanfaatkan ilmu pengetahuannya bagi kepentingan mewujudkan
pembangunan bangsa yang menyejahterakan dengan mengandalkan dan
mensinergikan sumber daya manusia dan sumber daya alam secara
berkelanjutan. Dan, yang terpenting pemimpin bukan sekadar hebat
karena sekolah tinggi dengan gelar yang berlapis, melainkan harus
mampu menunjukkan prestasi dalam bekerja secara konkrit demi
kepentingan kemajuan bangsa.
Pada bulan Agustus ini, perayaan hari raya Galungan seakan menjadi
momentum penting untuk menciptakan toleransi kebersamaan dan perbedaan
sekaligus membangun paradigma kesadaran berpikir kritis di tengah
kehidupan masyarakat luas, karena masih dalam suasana lebaran, hari
raya Idul Fitri, yang sama-sama memiliki makna sebagai media
introspeksi diri memperjuangkan kemenangan dharma (kebenaran) dari
adharma (kebatilan). Dengan kata lain, baik hari raya Galungan maupun
Idul Fitri merupakan uji kompetensi moral bagi setiap manusia dalam
mencapai kesempurnaan hidup yang lebih berkualitas, unggul dan
berbudaya, serta berkeadaban.
Perayaan hari raya Galungan, yang nantinya akan disusul dengan hari
raya Kuningan pada Sabtu (8/9) mendatang sudah semestinya di tengah
krisis keteladanan dapat dimanfaatkan untuk mencetak para calon
pemimpin bangsa yang ideal, berwatak rasional, jujur dan bersih serta
bukan koruptor. Sehingga, setiap perayaan hari raya Galungan dan
Kuningan tidak dicap hanya sekadar sebagai kegiatan serimonial dalam
wujud upacara atau ritual semata, melainkan secara konkrit bahkan
mampu sebagai media penyadaran bagi setiap manusia menuju kemuliaan
hidup yang lebih menyejahterakan.
Hal ini sangat sejalan dengan pernyataan, Drs. I Gusti Ngurah Sudiana,
selaku Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, yang
menegaskan bahwa perayaan hari raya Galungan dan Kuningan dengan
beragam sarana upacara (banten) tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan
serimonial semata, melainkan justru harus dimanfaatkan untuk mencetak
kepribadian sebagai pemimpin dalam diri setiap manusia. Sehingga,
mampu melahirkan calon pemimpin bangsa yang berkualitas dan unggul
serta dalam kesadaran spiritualitas dan religiusitas yang kuat serta
berdasarkan ajaran dharma.
Makanya, momentum perayaan hari raya Galungan dan Kuningan menurutnya
harus dimaknai secara utuh sebagai bagian penting dari proses uji
kompetensi moral bagi setiap manusia dalam mencapai kemuliaan hidup
yang lebih baik untuk mewujudkan kemajuan pembangunan bangsa. Dalam
hal ini, dunia pendidikan merupakan indikator utama yang sangat
penting dan cukup strategis dalam mencetak generasi emas bangsa
sebagai calon pemimpin bangsa yang ideal.
Sementara itu, AAN Gde Sujaya selaku Kepala Disdikpora Bali, berharap
liburan hari raya Galungan dan Kuningan dapat dimanfaatkan oleh para
orang tua siswa dan siswa itu sendiri untuk saling introspeksi diri
dan lebih mendekatkan diri dengan Tuhan, sehingga mampu menjadi
pribadi yang lebih baik serta jauh dari tindakan yang dapat
membahayakan kehidupan masa depannya. Terutama perilaku menyimpang dan
melanggar hukum serta nilai norma etika sosial budaya bangsa seperti
pergaulan bebas (seks bebas), kecanduan narkoba, balapan liar,
mabuk-mabukan, berjudi, dan lainnya.
Hal ini mengingat, tantangan mereka ke depan, sebagai generasi emas
bangsa semakin berat dan sangat kompleks seiring perubahan global yang
cukup cepat dan serba canggih. Oleh sebab itulah, sudah semestinya
perayaan hari raya Galungan dan Kuningan dijadikan sebagai ajang uji
kompetensi moral untuk meraih predikat tersertifikasi sebagai calon
pemimpin bangsa masa depan.(*)

Oleh I Nyoman Wija, SE., Ak., M.Si*

*) Penulis adalah Jurnalis dan Fotografer sebuah Media Harian di Bali,
yang juga Aktivis Kordem Bali dan Karyasiswa Kajian Budaya
Pascasarjana Unud Denpasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>