Widgetized Section

Go to Admin » Appearance » Widgets » and move Gabfire Widget: Social into that MastheadOverlay zone

PR II ISI Soroti Profesionalisme Seniman Bali

Denpasar (Metrobali.com)-

Ada yang menarik dari pelaksanaan dies natalis IX dan wisuda sarjana seni dari institut seni indonesia (ISI) Denpasar di gedung Natya Mandala, Denpasar, Sabtu (28/7) kemarin. Pasalnya, orasi ilmiah yang disampaikan oleh I Gede Arya Sugiartha, pembantu rektor II ISI Denpasar, secara blak-blakan membeberkan semangat ngayah tulus iklas tanpa pamrin dari para seniman akademis ISI Denpasar dalam mengimplementasikan tri dharma perguruan tinggi di tengah masyarakat selama ini.

Orasi ilmiah ini mengangkat tema “Profesionalisme dalam Seni Pertunjukan Tradisional Bali, Peluang dan Tantangannya”. Dalam kesempatan ini, Arya Sugiartha menegaskan bahwa seniman dalam era globalisasi saat ini dihadapkan pada berbagai masalah, tidak hanya menyangkut olah rasa, tapi juga merambah pada logika dalam merespon dunia sekitarnya.

Diakuinya, seniman sebagai kaum intelektual yang paling cemerlang yang berbakat mulai mempertanyakan arti seni, mengapa berbuat seni, dan untuk siapa seni diciptakan, serta sejauh mana seni memberikan kontribusi bagi kesejahteraannya. Ironisnya, seniman selama ini terkesan kurang begitu peduli dengan penghargaan material terutama seniman tradisional. Kenapa ? “Karena terhegemoni kepentingan kekuasaan dalam kemasan sosial dan religius,” ujarnya.

Tak pelak, katanya, tanpa disadari hegemoni itu bagaikan nyanyian kasih ibu yang hanya memberi tak harap kembali. Padahal, sebagai manusia biasa seniman tentunya tidak selamanya akan mampu meniru fitrah sang surya dalam menyirani dunia. “Ini karena tuntutan kehidupan di mana seniman memerlukan energi untuk menunjang kualitas hidupnya,” paparnya.

Atas realitas itulah, profesionalisme dalam berksenian bagi seniman tradisional hingga saat ini masih dianggap belum mampu memenuhi taraf hidupnya secara layak. Karena, seniman cenderung masih memerlukan penghasilan tambahan dalam menopang hidupnya. Akibatnya, seniman seni pertunjukan tradisional Bali yang mampu menyandarkan hidupnya dari kegiatan seni masih relatif sedikit dan dapat dihitung dengan jari.

Maka dari itu, diingatkannya, pemerintah dengan kekuatan politik kebijakan dan kekuatan ekonomi secara sistemik dan berkelanjutan meningkatkan kreativitas, serta melindungi hak-hak seniman dalam mencapai sikap profesionalisme sebagai kaum intelektual. Yakni: pribadi yang memiliki keterampilan dan kecerdasan kognitif (bakat), dan non-kognitif (minat, sikap, dan kualitas temperamental), serta keluwesan, keaslian, penguraian terhadap gagasan ide kreatif dalam penciptaan seni.

Lebih jauh, dosen karawitan yang selalu aktif dalam kepanitiaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ini menegaskan bahwa seniman dapat dikatakan profesional jika memiliki kemampuan artistik (terampil), disiplin, mampu mengenali diri sendiri, memiliki integritas, dan dapat menjadikan keahliannya sebagai sumber penghasilan.

Dengan kata lain, ditambahkannya, bahwa kreativitas berkesenian tidak hanya dimaknai sebagai menciptakan bentuk seni baru, melainkan mampu membaca situasi, memiliki ketajaman gagasan, dan memaknai kritikan sebagai hal positif, Terutama dalam mencapai prestasi sekaligus menghadapi tantangan seperti dampak modernitas, persaingan, dan perubahan paradigma masyarakat. “Jika tantangan globalisasi dapat diatasi dengan keteguhan tekad, ketabahan, dan ketekunan maka seniman akan dapat disebut profesional dan mampu mencapai kehidupan yang lebih layak tentunya,” tegasnya.IJA-MB

One Response to PR II ISI Soroti Profesionalisme Seniman Bali

  1. Ida Bagus K. Sudiasa Reply

    July 28, 2012 at 9:50 PM

    Orasi ilmiah yang dibawakan oleh PR II ISI Denpasar ” menyangkut Profesionalisme dalam seni pertunjukan Bali” yang intinya bagaimana PR II ini melihat bahwa, para seniman Bali belum berlaku profesional dalam bidangnya dan dengan tidak profesional menyebabkan seniman Bali dalam kehidupannya sangat mengkwatirkan. Dan yang paling memilukan adalah beberapa seniman dari sekian seniman sudah mulai kehilangan konsep ngayahnya. Yach.. bagimana mau profesional dikalangan akademisi saja tidak profesional dalam berkeseniannya, nah bagaimana seniman akademisnya, apalagi disebutkan oleh PR II, harus mengasah kecerdasan kognitifnya, dll. sebagainya. Pertanyaan adalah apakah kurikulum di lembaga seperti ISI sudah menguatkan hal itu?. Semestinya untuk menjadikan seniman apapun predikatnya kurikulum harus juga melihat kebutuhan pasarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>