Widgetized Section

Go to Admin » Appearance » Widgets » and move Gabfire Widget: Social into that MastheadOverlay zone

Pengacara: Loeana Tak Menipu Masagung

Denpasar (Metrobali.com)-

Kasus yang menjerat Loeana Kanginnadhi terus bergulir. Pengacara nenek berusia 77 tahun itu, Sumardhan menegaskan jika kliennya sama sekali tak melakukan penipuan dan penggelapan sebagaimana dituduhkan oleh Putra Masagung.
Dalam kasus jual beli tanah itu, sambung Sumardhan, kliennya sudah memproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Persoalan sertifikat tanah yang dijadikan dalil oleh Putra Masagung untuk menjerat mantan Konsul Denmark itu dengan tuduhan penipuan dan penggelapan.
“Jadi tidak adaa itu yang namanya penipuan dan penggelapan. Kalau mau tanahnya silakan ambil di notaris, kalau mau uangnya dikembalikan silakan ambil di PN Denpasar. Sudah kami titipkan Rp 10 miliar,” kata Sumardhan, Senin 9 Juli 2012.
Hal senada diakui Liang Budiarta, notaris yang mengurusi pemecahan sertifikat tanah Loeana saat dibeli Putra Masagung.
“Pada tahun 2004 ketiganya datang menghadap ke sini untuk membuat perjanjian jual beli tanah seluas 20 ribu meter persegi. Tujuh ribu milik Putra Masagung, sekitar 12 ribu Ibu Rety,” jelas Liang di kantornya.
Namun, tak sampai satu tahun Rety mundur dari rencana jual beli itu. “Ibu Rety mundur karena sertifikat tak bisa dipecah,” katanya.
Kini, sambung Liang, sertifikat milik Putra Masagung sudah berada di tangannya. Ia pun telah berupaya mengabarkan Putra Masagung melalui surat. “Sertifikat sudah ada di tangan saya. Saya dua kali sudah menyurati beliau. Tapi tak ada konfirmasi,” ungkap Liang.

Surat pertama, imbuh Liang, dikirimkan pada tanggal 18 Februari 2012. “Surat kedua dikirim tanggal 27 Februari 2012,” beber dia. “Sertifikat sendiri selesai pada bulan Februari 2012.”

Soal lamanya interval waktu pengurusan sertifikat, Sumardhan kembali angkat bicara. Menurutnya, lamanya pengurusan pemecahan sertifikat karena Putra Masagung melakukan gugatan perdata ke PN Denpasar. Setelah sita jaminan diangkat, urai pengacara asal Surabaya itu, pengurusan pemecahan sertifikat baru bisa diproses kembali.

“Jadi sekali lagi saya tegaskan tidak ada itu yang namanya penipuan. Kami khawatir menggunakan kekuasaan untuk mendapat sesuatu yang tidak halal. Sudah jelas secara hukum, mau tanah ambil tanah, mau unang ambil di pengadilan,” ungkap dia.
“Sekarang terlihat gamblang siapa sebenarnya yang tidak beritikad baik,” tambahnya.
Sumardhan tetap berkeyakinan jika sejak semula proses hukum terhadap kliennya yang kini terbaring lemah di RSUP Sanglah penuh rekayasa. Ia pun sudah melaporkan hal tersebut kepada Mahkamah Agung (MA).
“Saya sudah diperiksa Bagian Pengawasan MA. Kalau Mejelis Hakim tak diganti, saya khawatir akan melahirkan keputusan yang tidak pernah adil. Jauh hari sudah menyudutkan seolah Ibu Loeana bersalah. Ini akan melahirkan keputusan yang sesat,” tegas dia.
Ia mempertanyakan hingga kapan kliennya berada pada posisi tak jelas. Sumardhan mengaku segera akan melaporkan kasus ini kepada Komisi III DPR RI untuk mendapat perhatian lebih.
“MA segera menindaklanjuti pengaduan kami atas arogansi Majelis Hakim. Dan, saya juga segera saya melapor ke Komisi III,” tutup Sumardhan. BOB-MB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>