Widgetized Section

Go to Admin » Appearance » Widgets » and move Gabfire Widget: Social into that MastheadOverlay zone

Harmoni Budaya PKB dalam Persimpangan

SEJUTA jurus telah diterapkan untuk menjadikan perhelatan seni budaya reguler tahunan dari Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-34 tahun ini lebih bermartabat dan beradab. Ironisnya, pergulatan dari peleburan dua elemen berbeda antara pesta dagang dan pesta kesenian acapkali melahirkan sebuah anomali. Padahal, spirit dasar dari konstruksi kebangkitan PKB di tengah kehidupan masyarakat Bali saat dicetuskan oleh mendiang Prof. Ida Bagus Mantra memiliki tujuan mulia dan maha agung. Yakni demi sebuah harmonisasi kehidupan yang lebih menekankan pada pemaknaan tata nilai filsafat dan penguatan teks sastra. Sebagai media edukatif yang mencerdaskan dan menyejahterakan. Kenapa ? Ini karena dalam implementasinya saat ini justru terkesan semakin kehilangan ruh dan taksunya.

Kehadiran PKB saat ini bukan sebagai upaya dalam memuliakan keagungan daya kreativitas para seniman dalam menciptakan karya kreatif seni unggulan, melainkan lebih mengejar kemajuan ekonomi finansial yang berorientasi keuntungan (profit) belaka. Tak pelak, keanekaragaman kesenian dalam PKB kini menjelma menjadi “pemuas nafsu” bagi khalayak publik yang berorientasi pada gaya hidup konsumtivisme. Di samping itu, hampir seluruh kebijakan yang dikonstruksi dalam PKB tahun ini bahkan terkesan hanya berpihak pada kepentingan politik ekonomi kapitalisme global dan justru bukan untuk konstruksi politik budaya yang mencerdaskan dan menyejahterakan.

Fakta terkait hal ini bahkan telah dikonstruksi sebagai informasi publik oleh sejumlah media massa (pers) terbitan lokal Bali, di antaranya seperti masih semrawutnya arus lalu lintas, maraknya aksi pengkaplingan ruas jalan sebagai lahan parkir, hingga semakin menjamurnya stand pameran yang melebihi kapasitas dari rasio perbandingan dengan aktivitas kesenian setiap hari dalam PKB tahun ini. Ini artinya, kinerja dan etos kerja serta kesadaran para petugas terkait dalam melaksanakan fungsi dan tanggungjawabnya sebagai pengayom masyarakat masih belum maksimal. Selain itu, juga sekaligus membuktikan bahwa rasa keadilan dan sikap tegas serta komitmen yang dilontarkan para elite penguasa kebijakan selama ini masih terkesan hanya sekadar politik wacana dalam media massa (pers).

Tak pelak, harmonisasi budaya dalam konstruksi PKB tahun ini semakin berada dipersimpangan jalan. Yakni di antara perubahan menuju penguatan kembali ruh dan taksu, serta keagungan kreativitas kreatif seni unggulan para senimannya atau sebaliknya ada kecenderungan untuk menghamba pada kaum kapitalisme demi keuntungan berbasis ekonomi finansial belaka. Realitas ini seakan mencerminkan bahwa masyarakat Bali kini telah mengalami degradasi moralitas dalam memahami kehidupan religiusitas dan spiritualitas dari keangungan seni budayanya sebagai ibu kandung kebudayaan bangsa. Ini sekaligus pertanda bahwa tradisi dari perilaku keserakahan dan kerakusan telah menjelma menjadi “ladang emas” bagi para koruptor sebagai budaya korupsi.

Menanti Kesadaran Baru

Menyikapi realitas itu, semestinya para elite penguasa kebijakan termasuk masyarakat mampu melakukan gerakan moral dengan mulat sarira atau introspeksi diri. Sebagai upaya untuk menumbuhkan kesadaran baru dalam memahami kembali konstruksi dari ruh dan taksu PKB sejak dicetuskan di tahun 1979 silam. Sehingga konstruksi PKB tahun ini mampu menjadi media informasi dan edukasi publik yang lebih komunikatif dan mencerdaskan. Demi tercapainya kehidupan masyarakat terutama para seniman Bali yang lebih berkeadilan dan menyejahterakan. Caranya, dengan menghapus stigma pemikiran sistem politik budaya yang hanya berorientasi pada kuasa uang belaka dan mengonstruksi terobosan konsep modern dengan kebangkitan kesadaran baru yang lebih bermartabat dan berkeadaban dalam bingkai kebhinnekaan sesuai tema PKB tahun ini, yakni: Paras Paros: Dinamika dalam Kebarsamaan. Ini artinya, peleburan dari elemen berbeda dalam PKB tahun ini antara pesta dagang dengan pesta kesenian harus mampu memberi kenyamanan menuju perkembangan tradisi seni budaya modern yang mendunia tanpa kehilangan ruh dan taksunya di tengah kehidupan demokrasi global dan industri pariwisata dunia.

Harapan ini sejatinya sangat sejalan dengan pernyataan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat membuka PKB tahun ini dengan pemukulan kulkul lanang wadon di panggung terbuka Ardha Candra, Arts Centre Bali, Denpasar. Presiden dalam sambutannya menyatakan bahwa tema PKB tahun ini memiliki makna yang sangat mendalam dan menjadi kata kunci untuk mendorong terciptanya ide-ide kreatif yang dapat menyegarkan identitas, memekarkan daya cipta dan memelihara etik dan estetika dalam penggarapan karya seni. Bahkan karya seni ini dianggap mampu memberikan inspirasi untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan, serta rasa kebersamaan dan toleransi yang relevan dengan upaya membangun tatanan kehidupan yang lebih beradab dengan berlandaskan pada kedamaian, persaudaraan, dan kerukunan baik antarkelompok masyarakat maupun di antara bangsa-bangsa di dunia.

Di samping itu, rangkaian PKB dengan pawai budaya yang meriah, pameran karya seni yang menarik, pagelaran seni yang kaya warna serta sarasehan yang mencerahkan dan mencerdaskan disebut sebagai sarana untuk membangun budaya kebangsaan yang sangat penting dalam menyikapi tantangan peradaban dewasa ini. Artinya, PKB sebagai benteng untuk memperkokoh falsafah, tata nilai dan kreativitas seni yang tetap berpijak kuat pada akar tradisi yang terbangun dari kehalusan budi dan tata nilai masyarakat Bali yang religius. Karena itulah, PKB harus mampu menjadi jendela informasi, jembatan komunikasi antarbudaya sekaligus hubungan diplomasi budaya antarnegara. Sebagai upaya konkret untuk mengenalkan kekayaan Bali secara nasional dan dunia.

Konstruksi PKB tahun ini juga diharapkan mampu menjadi ikon budaya bertaraf internasional dan menjadi wahana untuk memajukan persahabatan antarbangsa dan membangun kebersamaan bagi terwujudnya dunia yang damai, adil dan sejahtera. Bahkan, tema PKB tahun ini dijadikan tonggak bersejarah dalam menyuarakan pesan perdamaian ke seluruh dunia. “Dari Pulau Dewata ini, Indonesia mengajak dan menyerukan kepada seluruh bangsa di dunia untuk kembali ke cara damai dalam menyelesaikan konflik apa pun. Merajut perdamaian yang hakiki bukan hanya kesempatan, tapi juga pilihan yang harus dijalankankan secara bersama,” pekik presiden SBY dalam pidatonya.

Tak hanya itu, PKB tahun ini bahkan diselingi pendeklarasian World Hindu Summit 2012 yang perdana di Bali. Dalam upaya membangun jembatan komunikasi yang intensif di antara organisasi Hindu sedunia serta tokoh-tokoh agama Hindu dari berbagai belahan dunia. Kegiatan ini mengusung tema Harmony for the World, yang mencerminkan komitmen dan dedikasi yang luhur dari komunitas Hindu internasional dalam menjalin hubungan antarumat Hindu sedunia maupun hubungan dengan umat agama lain yang mengedepankan prinsif keharmonisan, kedamaian, dan kesejahteraan umat manusia. Diharapkan pendeklarasian World Hindu Summit 2012 ini dapat memancarkan getaran kedamaian dan toleransi ke seluruh penjuru dunia. Di samping itu, pada tahun ini budaya Subak yang merupakan manifestasi dari filosofi masyarakat Bali Tri Hita Karana juga telah direkomendasikan untuk masuk dalam daftar Warisan Dunia. Bahkan, pengukuhan budaya Subak sebagai salah satu landscape budaya dunia akan dilaksanakan akhir Juni mendatang dalam Sidang Komite Warisan Dunia UNESCO ke-36 di Rusia.

Nah, oleh sebab itulah apresiasi seni budaya dalam kontruksi PKB tahun ini sudah semestinya diarahkan sebagai ruang pemaknaan demi kehidupan kebudayaan bangsa yang lebih bermartabat dan berkeadaban di tengah arus deras globalisasi industri pariwisata dunia. Selain itu, untuk mengonstruksi paradigma berpikir kritis menuju pengembangan pembangunan harmonisasi budaya PKB yang mencerdaskan dan menyejahterakan, serta berkelanjutan. Persoalannya, mampukah konsep ideal ini diimplementasikan secara konkret dan nyata. Sudah tentunya sangat tergantung dari sikap dan perilaku dari kita semua tanpa kecuali dalam menyikapi realitas sosial budaya dalam konstruksi PKB tahun ini. Jika mengacu pada slogan mantan wakil presiden, Yusuf Kalla sudah pasti bisa.Ya, kita tunggu saja implementasinya.(*)

 Oleh I Nyoman Wija, SE, Ak*

* Aktivis Kordem Bali pemerhati budaya, yang juga wartawan dan karyasiswa Kajian Budaya Unud Denpasar.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>